Segenang danau dan sebersit meteor,
sebentang risau bangkit dalam paspor
                  Selengang kau dan sebait metafor,
segamang mau si troubador dari burit ekuator

             Setelah anggur dan musik dan malam rebah,
ada yang berangsur mengusik dan kita saling jamah
Sebagai hutan perawan kau kurambah
 sampai semak tersibak, bebukit basah
     menahan gelegak arus bawah tanah

Bagai burung terbang dari seberang lautan,
                            di belukar keterasingan
kukerkau sumber kicau, suara purba tepi danau,
                        di sebuah distrik masa lampau,
tempat lahir sajak-sajak dari akar rumputan,
         disiulkan angin dari zaman ke zaman

          Pun di danau itu kukenang matamu bening,
kedalaman tak terjangkau, di mana badai terbaring
   dan napasnya menyayat dedaun luruh,
serat waktu yang tertenun dan merapuh
Rambutmu berkibaran
    selebat derai hujan,
 riap rumpun lalang basah
menguapkan harum tanah,
          musim pancaroba
menyemat bunga-bunga,
pelangi terjelma dari
rona gairah matahari

   Dan seperti mimpi,
segalanya pun terjadi:
suara purba tepi telaga,
                pusar rimba,
desir yang menggangsir
                      mata air,
                burung yang bersarang
di rongga batang pohon terlarang
        Hening
yang nyaring,
lepuh yang tak tertempuh
                             tubuh,
    merjan peluh dan dengus hawa,
bintang jatuh dari gugus tatasurya


Jatuh ke matamu yang menyimpan danau,
             danau yang membenamkan risau
ke dasar jiwa sangsai menggapai-gapai,
                              sampai tak sampai
Dalam kesunyian begini mutlak,
       betapa suara tak berjarak:
                           debar
sederas kelenjar kuda liar,
                              rintih
seperih serpih angin letih

Yang kausangka bercinta,
              barangkali kita,
barangkali kita cuma berdegup
                          dalam hidup
Yang kauduga berdosa,
          barangkali kita,
barangkali kita cuma berdoa
                       dalam dusta
Kita berkesiur dalam darah
                     bagai gairah
dalam jantung dan empedu semesta,
                 manakala masuk sukma
dan batuan tanah
                 rekah,
batang-batang
           regang,
    sungai
berderai,
        laut
berdenyut

                               Manakala angkasa
       menaburkan bencah-bencah cahaya,
bunga-bunga abadi yang mekar dari duka,
  kita pun lenyap
ke dalam Senyap
***
1997

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *