Di tepi Sungai Amstel, di sebuah kafe,
kaukebut maut pada mantel, selepas sore
Tahun-tahun menyepuh rindu,
memutih rambutmu
Arus terus menggerus antara angsa
dan gurat-gurat cahaya
Tujuh belas belibis menggerombol di tritis toko tarcis,
tujuh gelas alkohol memintal gerim gerimis
Lalu kaucukil secuil kucil: sekelimun bebek peking
digiring ke daratan asing selatan Nanking
di mana cambuk para pengawal
siap melucut akal, melecut ajal
Di antara sebaki serpih daging cannar, sepoci teh hijau,
kaudenguskan lagi dengan benci kata-kata suci Mao
Dan seliar camar tersasar,
kauruntutkan kenang, kauturutkan angan, nanar
ke puncak-puncak dakian dera
tubir-tubir karang kerontang Manchuria
Tapi selepas sore itu, Wispi, di tepi Sungai Amstel
kaukebut maut, sekali lagi, pada mantel
Sebab di tubuhmu yang mengerut
ada denyut laut yang menawar sekian kecut:
ideologi, impian revolusi
— keyakinan akut yang membangun buiSyal merah yang menjuntai di lehermu, Wispi,
seolah gairah yang tak kunjung pagi
Barangkali, aku tak pasti,
kausebut Tuhan dengan depus nadi,
di bawah tebaran serbuk salju,
melewati pohon-pohon yang menahan kelu,
kaukayuh usia yang kian aus menuju entah
di mana seekor bangau termangu di kerpus, menunggu remahBarangkali maut pernah bertandang ke Daltonstraat, suatu malam
mengendus kenangan yang sempat kaucatat, buku-buku buram,
sisa nikotin di pipa stigi, gaung batuk di ampas kopi,
ketika kau vakansi ke negeri ilusi***
1996