Berlin

Lily Glroida Nababan kau masih disana dan tak berubah,         berlin….                kota impian malam sepi…gereja kaiser william tiga masih tegak tak bergeming            dengan luka lama di pucuknya..tatapanku padanya tak bergerak saat berdiri di pelataran                     zoological garten hauptbahnhof… kau masih disana…         satu dua bangunan baru tak membuat kau berganti rupa, berlin….           kurfustendamm bermandi daun linden hijau cerah             s-bahn melintasi friedrichstrasse              menjelajahi sisa-sisa kenangan pahit                   menyeberangi sungai […]

Tentang Penulis Edisi 25

Bramantyo Prijosusilo, pegiat seni instalasi asal Jogja. Pernah bermukim di London dan sekarang kembali ke Jogja.Yayak Kencrit pegiat seni asal Yogya, pembuat kalender Tanah Untuk Rakyat, dan pendiri Perguruan Rakyat Merdeka. Kini tinggal di Jerman. Lily Glorida Nababan Tamatan Fakultas Hukum Universitas Parahiyangan, Bandung, lantas ikut pendidikan di Lembaga Pers Dr. Soetomo, masuk SWA dan […]

sepi – Lily Glorida Nababan

    dimanakah kehangatan….    saat terduduk sendiri menahan dingin,    satu-satu suapan bagai mengunyah kenangan      kala sepi bukan jawaban malam hari…       dimanakah belaian…      saat dentang kaiser wilhelm kirsch mendalu-dalu      gaungnya menelusup hingga relung hati nan merindu…        (mengapa seperti ingin mengintip isinya…?)       dimanakah dekapan..      saat menyusuri kurfustendamm perlahan,      menyibak guguran maple yang mulai menguning,        menekan dalam-dalam kedua tangan dalam saku      saat angin dingin mengusap wajah meninggalkan rasa beku..      dimanakah […]

senja di champ d’elysses – Lily Glorida Nababan

suatu senja di champ d’elysses saat meneguk air jeruk sambil menenggelamkan diri di kursi kayu riang dan ria sajalah sekelilingku..   berpasang-pasangan tua dan muda berjalan sepanjang trotoar      sambil berpelukan        kadang berhenti untuk saling memandang           lalu saling mengecup…  betapa romantis,sementara aku sendiri saja.. mencoba alihkan tatapan pada arc de triomphe yang berdiri di ujung kanan…    sinar mentari sore menguningkan batuan kokohnya..       lalu terasa angin […]