Hantu-Hantu Membawa Makanan – T. Wijaya

Puisi, edisi 398 Januari 2026 Akhirnya saya menangis bersama ibu di Bukit Barisan, sebab laut di langit merindukan Merapi, Singgalang, Talamau, Sinabung, dan Leuser. Tubuh-tubuh leluhur menjadi lumpur dan pohon-pohon dipaksa mati. Hantu-hantu membawa makanan, sisa pesta dari panggung organ tunggal. Kuasanya memaksa Tuhan menyingkirkan ilmu pengetahuan dan daftar panjang kematian. Mulutnya dipenuhi merkuri dan […]

Tangis Pertama di Tepi Sungai Musi – T Wijaya

Puisi, edisi 387 Februari 2025 Palembang basah. London dingin. Aku lahir. Ian Gillan meratap; Sweet child in time. You’ll see the line. The line that’s drawn between. Good and bad. Sungai Musi memasuki 9.344 tahun. Aku menangis. Kudengar Nyimas Halimah menggadaikan giwang leluhurnya. Seperti melompat. Ikan-ikan terbang. Terlihat baik, dan mungkin buruk. Palembang lapar. London […]

Birokrasi yang Tajam – T Wijaya

Puisi, edisi 384 November 2024 Kita tumbuh dalam birokrasi yang membunuh abah dan ibu. Senjata api terus berjaga di sekitar kepala.Diam-diam mencari pisau di kampung dan sekolah. Membedah perut-perut di kolong rumah dan lorong-lorong pucat. Tahun-tahun yang membakar. Katamu, pendidikan itu sekrup industri. Tidak ada jaminan meskipun lidahmu dicap lambang Pancasila.Harapanmu menolak kampus, berlari ke […]

Kuliah. Memasang 1.237 Chip Handphone – T. Wijaya

Puisi, edisi 379 Juni 2024 Pukul 05.00. Alarm menggergaji telinga. Bukan gempa. Melepas pakaian. Menjadi bebek di kamarmandi. Kereta, bus, taksi, sepeda, dan kaki menuruni bukit. Berlari mengejar pabrik. Ibu dan ayahberdoa. Kuliah. Memasang 1.237 chip handphone. Pukul 12.00. Alarm mengistirahatkan kota. Bukan gempa. Berebut melepas pakaian. Menghempas pintuloker. Berlari. Meneguk nasi. Lalu tidur yang […]