Puisi, edisi 384 November 2024
Kita tumbuh dalam birokrasi yang membunuh abah dan ibu. Senjata api terus berjaga di sekitar kepala.
Diam-diam mencari pisau di kampung dan sekolah. Membedah perut-perut di kolong rumah dan lorong-
lorong pucat. Tahun-tahun yang membakar.
Katamu, pendidikan itu sekrup industri. Tidak ada jaminan meskipun lidahmu dicap lambang Pancasila.
Harapanmu menolak kampus, berlari ke dalam pesawat yang lapar. Terbang! Terbang! Terbang!
Terbang! Terbang!
Birokrasi memenjarakanmu. Membeku. Dia beranak. Meja yang panjang dan berbelit. Tiba-tiba lelah
dan tua. Layu di rumah. Bunga-bunga dan batu bata menceritakan cintamu.
Hari ini, sakitmu menghadap birokrasi. Pecah pembuluh darah di kepala. Setiap meja menghisap
kemarahanmu. Tidak ada yang tersisa. Bagaimana harapan? Tulis batu nisan milikmu.
***
Yanti, Cukup Rp150 Ribu
Di Kambang Iwak, Yanti bertukar jenis kelamin. Pada saku kepalanya, ditemukan presiden seumur hidup,
ibu yang menunggu, dan kisah dusun yang hilang. Malam hitam. Mata merah. Bibir pucat. Yanti tidak
pernah bunuh diri. Becak yang setia. Cukup Rp150 ribu.
Menjelang pagi, sepiring mie instan dan telor setengah matang. Menjaga harapan. Dua anak tumbuh di
kolong rumah panggung. Sembilan tahun tanpa Kak Cin. Mati mengapung di Sungai Musi. Dicekik
genderuwo di tangga Jembatan Ampera.
Jenis kelamin bertukar. Politisi terus berjanji. Becak lelah tapi setia.
Di Kambang Iwak, pejabat pemerintahan Belanda sudah pergi dan membusuk. Yanti berjarak 32 meter
dari ruang tamu berhantu. Dia memahami cahaya yang mahal. Roti keju yang dibakar. Dan, nyonya yang
mencuci suaminya dengan diterjen.
Terus bertukar jenis kelamin. Becak terus berputar. Berputar bersama cologne dan bedak Viva. Malam
dan kelaparan diam-diam menghisapnya.
Tuan, jangan ditawar. Kami penghuni neraka yang tidak bunuh diri. Cukup Rp150 ribu
***
T. Wijaya, lahir di Palembang, 25 Desember 1970. Menetap di Palembang. Saat ini selain menulis sastra, juga aktif di Teater Potlot dan sebagai jurnalis di Mongabay Indonesia [Mongabay.co.id]. Pengalaman kerja antara lain kontributor RCTI (Jambi), Lampung Post, Detik.com, dan Pantau. Menulis esai dan karya sastra di Media Indonesia, Sriwijaya Post, Republika, Koran Sindo, dan lainnya.