Puisi, edisi 379 Juni 2024
Pukul 05.00. Alarm menggergaji telinga. Bukan gempa. Melepas pakaian. Menjadi bebek di kamar
mandi. Kereta, bus, taksi, sepeda, dan kaki menuruni bukit. Berlari mengejar pabrik. Ibu dan ayah
berdoa.
Kuliah. Memasang 1.237 chip handphone.
Pukul 12.00. Alarm mengistirahatkan kota. Bukan gempa. Berebut melepas pakaian. Menghempas pintu
loker. Berlari. Meneguk nasi. Lalu tidur yang mahal. Indonesia bermimpi. Aku kehilangan Tuhan, musik,
sahabat dan kekasih.
Kalkulator tumbuh di kepala. Meledak. Tidak mati.
Pulang. Seekor cacing bercerita. Keluarganya mati. Jutaan ton pasir dihisap. Hampir satu miliar
handphone terkubur. Gagal menjadi pohon durian. Kelekak menjadi sejarah para pemalas.
Kuliah. Menemukan ruang kerjamu yang tertipu pabrik-pabrik pemakan timah. Gempa, banjir dan
tsunami.
***
*) Kelekak: penyebutan kebun campuran oleh masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.
Belasan Abad, Ibu Mencuci Pakaian di Sungai Musi
Belasan abad, ibu mencuci pakaian kami di Sungai Musi. Membersihkan kebencian dan kesombongan,
agar kami menari di Sungai Musi dengan seribu bahasa, warna, dan wajah.
Kata ibu kami, setiap rumah harus membuang kebodohan dan kesedihan, agar Sungai Musi menjadi
lautan yang membahagiakan.
Ketika belido tidak lagi mengintip ibu mencuci, bulan menghisap air, terendamlah kelambu rumah
panggung. Telunjuk mulai membedakan warna, wajah dan bahasa.
Belasan abad, ibu mencuci pakaian kami di Sungai Musi. Bersihkan lumpur dari kepala, minyak jelantah
dimuntahkan mulut.
Kami menari di lantai mencuci ibu, sebab buaya-buaya terus berjaga.
***
Kota dengan Sungai yang Melahap Hutan
Aku tumbuh di kota dengan sungai yang melahap hutan. Agamaku dirampas. Tuhanku disembunyikan.
Sekolah dipenuhi hantu. Kepatuhan membakar buku-buku. Limbah-limbah mengalir di kelas. Dilarang
membicarakan Bung Karno. Dihukum melukis gajah di sampul buku matematika.
Guru-guru menjadi tentara. Berbaris. Menatap bendera yang dibakar pikiranku. Dari perpustakaan
mulutnya, Tuhan menyeret rantai membara. Menuangkan timah panas ke otak. Merebus pertanyaan-
pertanyaan tentang kebahagiaan. Dibentangkan pabrik, kebun, barak, dan meja-meja yang warnanya
hijau kekuningan.
Rumah-rumah panggung bertahan sebelum 1945. Merindukan kesultanan dan Belanda. Gudang-gudang
karet, lada, kayu manis, kopi, dan loji mencatat timah, menelan hutan sepanjang sungai. Aromanya
menjadi liburan ke Singapura, Malaka, Belanda, dan Timur Tengah, yang dibungkus kain songket. Udang
satang, ikan belido, gula puan, membangun keluarga di atas meja. Sultan-sultan dilahirkan.
Aku beranak di kota yang mencari orang dipercaya. Tuhan dijauhkan dari sungai. Pasar-pasar tumbuh
dari hutan yang menjadi dusun. Anak-anak dilepaskan ke Bukit Barisan sebagai Spiderman, Gaban,
Superman, Ultraman, Wonder Woman, Inazuman, Batman, Robin, Megaloman, Conan, He-Man, pun
Captain America. Sebelumnya, di rumah yang dibangun Perum Perumnas, anak-anak berguru dengan
Doraemon.
Di hulu, air mata yang tersimpan ratusan tahun memandikanku. Lupakan kota dengan sungai yang
melahap hutan. Banjir besar perlahan menelannya. Hey You! Teriak Pink Floyd menusukmu.
***
T. Wijaya, lahir di Palembang, 25 Desember 1970. Menetap di Palembang. Saat ini selain menulis sastra, juga aktif di Teater Potlot dan sebagai jurnalis di Mongabay Indonesia [Mongabay.co.id]. Pengalaman kerja antara lain kontributor RCTI (Jambi), Lampung Post, Detik.com, dan Pantau. Menulis esai dan karya sastra di Media Indonesia, Sriwijaya Post, Republika, Koran Sindo, dan lainnya.