Dokter Zhivago

Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Dengan dinding berderak-derak, deresi-derasi menanjak ke bukit curam. Di bawah tanggul ada semak-semak, yang puncaknya tak sampai ke permukaan jalan kereta api. Lebih rendah lagi ada padang-padang. Banjir baru saja reda, meninggalkan pasir dan pecahan-pecahan papan tersebar tak keruan. Balok-balok tentunya hanyut dari tempat lebih tinggi di bukit, tempatnya tertimbun.

Belukar muda di bawah tanggul masih gundul, hampir sama dengan sewaktu musim dingin. Hanya pada kuntum-kuntum yang menghinggapi seluruh belukar itu laksana lemak lilin ada hal yang tak sesuai dengan lain-lainnya, sesuatu yang tak guna dan tak pada tempatnya; barangkali debu atau peradangan, yang membuat kuntum-kuntum ini menggendut; maka hal yang tak pada tempatnya dan tak guna inilah beserta debu merupakan alamat hidup yang telah membakar pohon-pohon yang paling cepat tumbuhnya dengan nyala hijau dedaunannya.

Di sana sini ada Pohon Berk bersahid, tertusuk oleh gigi dan panah daun-daunnya yang mekar berbelah dua dan dengan melihatnya saja kita kenal baunya; bau damar yang mengkilat yang digunakan untuk bikin minyak rengas.

Sebentar kemudian kereta api sampai ke tempat, dimana agaknya balok-balok yang hanyut oleh banjir tadi dilonggokkan. Tempat pembukaan jalan di hutan nampak di tikungan rel; tempat itu ditimbuni serpih serta sarutan kayu yang ditengahnya ada longgokan batang pohon besar. Lokomotif mengerem, kereta api bergeletar dan berhenti pada titik yang dicapainya di tikungan di atas bukit yang sedikit membelok ke luar dari lingkung yang lebar.

Dari mesin terbitlah satu dua kali bunyi suling dan teriakan tapi para penumpang tak memerlukan tanda-tanda itu untuk mengetahui bahwa kereta api telah berhenti untuk mengambil bahan bakar.

Pintu-pintu dibuka dan keluarlah bondongan manusia sebanyak penduduk kota kecil; hanya para pelaut tinggal dalam deresi-deresi sebab mereka dibebaskan dari keletihan.

Di tempat terbuka itu tak cukup banyak kayu bakar kecil, hingga kayu-kayu besar perlu ada yang dipotong sampai ukuran yang diperlukan. Anak buah lokomotif punya gergaji-gergaji yang termasuk dalam peralatan mereka; itu dibagi-bagikan pada para pekerja sukarela, sebatang untuk sepasang pekerja, antaranya Yura serta mertuanya.

Para pelaut dengan ketawa kecil menonjolkan kepala dari pintu-pintu deresi. Rekrut-rekrut itu merupakan campuran ajaib antara buruh-buruh setengah tua, langsung ke luar dari latihan darurat militer dan anak-anak muda yang baru tamat dari perguruan tinggi angkatan laut, yang nampaknya seperti digolongkan dengan khilaf pada kaum kepala keluarga yang tenang itu; agar tak usah berpikir, mereka berkelakar dan membuat pelaut-pelaut yang lebih tua itu jadi bulan-bulanan. Mereka semua maklum saat ujian sudah dekat.

Lelucon dan ketawa besar mengiring kelompok-kelompok yang bekerja itu.
“ Hai nenek-nenek! Aku bukannya malas, aku terlalu muda untuk bekerja, pengasuhku tak mengijinkan aku.”
“ He Martha, jangan gergaji gaunmu, masuk angin nanti.”
“ He putri remaja, jangan masuk hutan, kemarilah untuk jadi istriku.”
***bersambung