Kopi Pagi – Winarni Dwi Lestari

burung kecil itu berkabar
tentang tempat
yang akan kau tuju hari ini.
kuambil setakar 
sisa malam sedikit pekat
lalu kuseduh bersama kabut.
ah.. terlalu dini menyimpulkan
seberapa cepat
hatiku harus teraduk,
jua seberapa tepat
dirimu akan terlarut.

sudah sampaikah kau
di tapal batas egoku?
karena satu pagi saja
tak kan pernah cukup
bagi secangkir hatiku
menahan manisnya rindu.
***
Karawang, 13 Januari

Sajak lubang kunci kepada anak kunci

lindungi aku dari setiap mata
yang mengintip-intip mencoba cari tahu.
ada bisik, pekik (untuk setiap sapa)
ada desah, serapah (yang tak berujung jumpa)
pada telingaku yang terlampau peka.
mata-mata tak bertelinga
namun selalu mencuri-curi dengar kabar.

tangan-tangan genit meraba-raba bibirku,
setelah suara ketuk tak pedulikannya,
kau halau segera.
ah, aku selalu saja tersipu
kau menggeliat geli saat kugelitik
lalu kita beradu menciptakan bunyi klik
“jangan pedulikan handle yang memalingkan muka,
juga derit engsel itu”
katamu sambil tertawa kecil menggoda.

diam-diam aku selalu mendamba hadirmu
meski angin yang jahat dan pandai bersiasat itu
mengaburkan kabar tentangmu.
karena kau adalah tabir penutup segenap aibku
meski kau juga kunci pembuka semesta rahasia
yang tersembunyi di balik pintu.
***
Tuban, 18 September

Tertolak

sesosok bayangan memasuki halaman rumahmu
bersijingkat di antara rumput, jejak kabut
dan bunga-bunga rambat.
kenangan terputar ulang begitu lambat.depan sebuah pintu langkahnya terhenti
masih adakah sibakan tirai jendela,
suara klik anak kunci dan derit engsel pintu?
seperti dulu kau selalu menerima hadirnya
saat terang membuatnya tak pernah beranjak darimu
sebelum gelap merenggutnya darimu.
hendak disentuhnya handle itu ketika tiba-tiba,
“jauhi aku!”, hardik sebuah hati.
***
Karawang, 3 Juni

Winarni Dwi Lestari, lahir di Tuban, Jawa Timur, kini tinggal di Karawang, Jawa Barat.  Saat ini menekuni usaha property setelah menyelesaikan studi di STT Telkom.  Puisinya pernah dimuat di media cetak maupun online. Pecinta puisi dan masih terus belajar menulis puisi.