Lemah bergelayut di lengan mu
Adakah karna menopang aku yang terlalu lama belajar berjalan?
Goresan abstrak disudut matamu
Terlukis memahat jelas, saat kau tersenyum,
Adakah karena mengawasi gerak lincahku?
Helaian rambut yang tak lagi legam.
Tak lagi dapat kau sematkan hiasan indah.
Lebih dari satu warna bermain pada mahkotamu.
Bahkan dayang nirwana, tak lagi mampu mengepang rambutmu yang menipis.
Adakah karna waktumu hanya tuk memikirkan ku?
Pewarna merah muda, yang dulu menghiasi bibirmu
Tidak lagi kau tebarkan untuk wajahmu
Bubuk wangi semerbak pada rona pipimu
Tidak lagi sempat menambah rias wajahmu
Adakah karna kebutuhanku semakin bertambah?

Bunda
Dulu kau begitu mewah dengan warna-warni dunia
Dengan segala riasan dan perhiasan yang ayah sematkan padamu
Tiada tampak kini karena biaya sekolah

Bunda
Dulu kau begitu jelita
Kau sangat menawan dengan gaun indah
Yang membuat ayah bangga saat menyematkan tangannya pada pingggang mungilmu
Dimana itu semua Bunda?
Apa karna kata orang kuliah itu mahal?

Bunda
Lengan lemah itu
Mata kuyu dan keriput
Rambut tipis dan putih

Bunda
Kusematkan kehendakmu dalam pikira
Kehendakmu agar kuperoleh ampun
Pinta yang sangat lirih di hati
Ketika bunda berkata
‘Dinda, tambahkan satu keindahan, berikan aku senyuman bangga akan mu, saat menutup mata’
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *