setelah puas merejam matahari
sepuas kekelaman, rembulan menebar cahaya
tiba-tiba. ruh-ruh yang berkeliaran
berkelebat bersama taburan kenanga.
melati bukan lagi putik kesucian
Yang mesti dipertaruhkan, lantaran
beragam aroma telah mengharuskan
wangi menjadi semerbak yang terpendar
lewat rahim dunia. bumi dan semesta
pertanda kesempurnaan kehadiranmu
keringat dan air mata mengaliri
sungai-sungai sepanjang dada, melepas
muara menebar perahu-perahu di segala
pulau. pasir-pasir menekuk gelombang,
menghadang buih-buih merasuk kegamangan
jantungmu. sementara, alur-alur
pelepas dermaga mereguk dahaga
yang telah menjadi milik kami!

telah usai penantian kelahiran
badai yang menjadi warisan darahku
mendebur kesetiaan benak pada belantara
waktu. kita bertahta. aku membangun
pelangi bersama kebersahajaan lembayungmu
menyambut bias singgasana dunia.
o, cakrawala tertunduk menyambut
derai jantung yang dipersatukan,
membangun langit dengan fondasi
ketulusan yang tak lagi jadi perhitungan.

kita bersimpuh menanti kelahiran
talenta. melepas gerai besale,
melupakan kegurunan padang pelaminan
yang sempat tertunda. oase itu,
tak sekedar sejarah yang harus
ditorehkan dalam legenda nasib.
kemudian, mendirikan prasasti
pada tapal-tapal yang tak mementingkan
batas. lantaran, nyanyian kubur
telah membentangkan nisan-nisan
dengan gugur kamboja melawati
kesejatian nama-nama sebagai
kesepakatan meneruskan impian kematian!
mari, kita sambut bahagia
jadi kesiapan menyambut perkabungan
Bohemian Jambi, 16 Juni 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *