bersama setiap patah cekuh-cekih
kau ludahi sejarah dalam derai, ringkih
meski, dengan sisa kepahlawanan yang rombeng
masih, kaucoba melawan penjajahan paling zalim:
cacing perut bernyanyi parau dalam dentang kaleng
lalu kaubungkus sepiring tuhan, cukuplah
untuk hari ini. entah esok. mesti kautelisik lagi
diantara lipatan-lipatan bau busuk dan lalat-lalat:
mungkin tuhan sedang rapat, tak bisa diganggu!
(sepuntung rokok akan menjadi sekretarisnya siang ini
cukup cantik. lumayan, pengobat dosa-dosa pagi
saat malaikat masih mabuk oleh puja-puji
dan para pezina bersijingkat. kenakan lagi
jubah sucinya yang paling sufi)
“sudah sore, tuan. pulanglah.”
lalu tuhan menyamar. senyuman itu.
satu sedotan rokok sepuntung. asap larung:
selamat datang ke surga!
yogyakarta, 2001