Kertas lusuh tak lagi putih,
Pena mencoret tak sempurna
Kiri, kanan, kemudian melingkar,
Menggaris lengkung, tak lurus:
Berulang-ulang
Terulang-ulang
Diulang-ulangPena diam tak bergerak, tanpa sang Hujan
Terpuruk menabur hijau bau akar rumput
Tak mampu mensejajarkan bintang malam,
di pahatan langit.Penaku:
Membiarkan batu berserak, bisu
Menali pasir, terkumpul, diam
Tak peduli tanah kering tanpa bau Hujan
Tak memberi nafas perahu kayu, tanpa rasa.Sepi…
Sunyi…
Kering…
Hampa…
Abu-abu,
Bukan biru, tak ada hijau, apalagi merah.Penaku:
Jatuh,
Patah,
Membatu
Tanpa rasa:
Kering.Hujan tak lagi memeluk penaku, pergi…
Berkemas, pergilah sudah…
Menggenggam masa, yang pernah pertemukan nafas kita
Memeluk mimpi yang pernah kita gambar, tetap peluklahBiarkan penaku patah,
Berhenti menggambar
Tak mengkaitkan kata-kata
Tak mewarna jalan dan tanah.Penaku,
Aku,
Patah
London, 06-02-2003