T.S. Pinang

mungkin aku terlahir dengan sebongkah batu dalam dada agar rindu selalu terpelihara, pada terik kemarau dan geredap hujan pada atap, lalu keduanya melahirkan butir-butir pasir yang hanyut dalam aliran sungai tanpa muara, sementara kerikilnya menciptakan riam di setiap simpang aortaku

mungkin aku adalah anak kandung gunung karena dari rahimnya batu-batu bertapa dan kemudian terlahir dengan letupan penuh semangat, lengking tangisan paling kuat. mungkin aku adalah anak kandung langit karena di sana juga terkubur batu-batu sebanyak butir pasir dalam sulur-sulur darahku

maka sungai pun terasa sangat akrab, tak henti menyetubuhi batu dalam dadaku, seperti kisah incest Sangkuriang dan perempuan Sumbi. dan di pucuk-pucuk gunung bersemayam para lelaki menarikan ritual lingga atas nganga yoni di celah pusar bumi

sementara aku masih didera pertanyaan purba tentang ayah-ibu dan hikayat kelahiranku

lalu malam pun menjelma, menjadi kekasih setia karena siang dan matahari adalah dendam, sedangkan bulan dan gerhana malam adalah kenangan atas masa depan. semacam déjà vu, kukumpulkan serpih-serpih ingatan pada bau setiap kelopak rambutmu dan warna kerakap yang gigih mengikis batu dalam dadaku

dan butir-butir pasir masih tetap menjalari setiap buluh dalam diriku, denyarnya seperti riak gelombang lautan yang menghanyutkan, lalu menghempaskan tubuhku pada bibir pesisir:

mungkin aku adalah pokok pandan
atau sebongkah karang tua

tiba-tiba kulihat pasir di mana-mana
dan sebongkah batu masih di sana, dalam dada
adakah di situ kau baca
terpahat sebuah nama?
2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *