Cerita Tentang Omong Kosong – Khanafi

Ia tidak memulainya. Malam itu, ketika hujan berlangsung di luar jendela, keadaan tidak basah, di kamar. Bukan ia yang duduk di hadapan meja mendengar bunyi hujan yang tak ada. Sama sekali saat itu pintu tak menerima siapa pun, tapi kita tidak sedang menghadapi pintu atau berada di hadapan pintu mana pun. Kita juga barangkali tidak ada, maka ia tidak memulai membicarakan soal kita.Di sebuah kepala yang riuh seperti kota-kota besar, metropolitan, tempat anak-anak muda suka nongkrong bicara tentang bukan suatu apa-apa. Ia yang bukan siapa-siapa dan barangkali tidak ada sama sekali, kita merasa asing masing-masing. Ia menghentikan pergaulan dengan siapa pun, yang memang tidak ada.

Di luar kepala yang riuh adalah benda-benda diam, manusia terasing entah di mana, dan ia tidak mencoba untuk bertanya soal mereka atau tentang dirinya sendiri.

Ia ingin tidak menjelaskan apa-apa, dan tidak ingin melakukan apa-apa. Ia merasa itulah caranya untuk mempertanyakan kembali dirinya, sebuah ruang tanpa ornamen, sebuah kosong. 

Di luar sana hidup masih berjalan sebagai mesin, sebagai waktu, sebagai proses terbentuknya peristiwa yang lengkap dan punya logika tertentu. Maka, dengan keraguannya, dengan keringanan, ia mempertanyakannya kembali dalam upaya menguji premis-premis dari apa yang ia ciptakan sendiri tentang hidup tanpa keinginan itu. 

Sekali pagi itu, bukan sebuah cerita ketika dia harus berjalan menyusuri jalan kota, melewati celah lalu lalang. Ia tidak ingin menyebut dirinya dengan nama siapapun. Ia seperti tokoh yang hidup pada sebuah cerita yang tidak menawarkan apa-apa. Ia tidak mencoba untuk berhasil dalam ceritanya, ia tidak ingin menawar apapun. Ia hanya akan berkata, “Semua baik-baik saja.”

Ia biarkan hidup berjalan apa adanya, mengalir begitu saja, membiarkan pikirannya bebas dan mengembara, membiarkan tangannya mencatat gejala apa saja dan siapa saja boleh bermain di kekosongannya, boleh menghilang sesuka hati, bahkan untuk menjadi tiada sama sekali. Ia toh masih tetap belum mati, ia masih duduk di tempat yang tidak bernama. 

‘Siapa’ tidak diperlukan untuk menjelaskannya. Semua referensi boleh merujuk pada apa saja, termasuk ‘ia’. Semua cair dan menjadi eksis dengan caranya masing-masing. Baiklah, dengan pengantar yang singkat ia akan membuatnya lebih dangkal dan lebih mempersingkat waktu dalam beberapa potongan cerita yang dengan sengaja tak tersusun secara rapi, tidak ketat dan tidak teratur. 
***

(1) Waktu itu, ia tak mengerti kenapa tradisi menjadi asing baginya. Kampung halaman yang membesarkannya seketika saja tidak berarti ketika kakinya menginjak sebuah tempat yang lebih hingar di sebuah kota yang sibuk sekali. Ia bekerja dan tidak mempedulikan suatu apa. Baginya hidup bisa berjalan dengan tanpa dipikirkan lebih lanjut. (2) Di tempat yang lain, seorang perempuan habis patah hati dan wajahnya mencangkung duka, matanya seperti sumur yang ditimba kesedihan, air mata pun tak kuasa ditahan. Ia memutuskan untuk tidak berbahasa pada siapa pun, tidak pada teman-teman terdekatnya. Ia suka menyendiri, ia merahasiakan seluruh hidupnya yang bagi siapa pun itu pasti tidak akan berharga. 

(3) Pada suatu kurun waktu, lelaki yang lekas menjadi dewasa pada usia dua puluh lima, memutuskan untuk meninggalkan semua pekerjaan yang bertentangan dengan maunya. Ia menjadi penulis, yang dengan bebas mengarang cerita apa saja, termasuk mendekonstruksi hidupnya di masa lalu yang terkubur. Ia mencintai buku-buku karena telah diujinya dalam rentang waktu, bahwa buku-buku itu telah mengembalikan semangatdalam hidupnya. Ia jadi lebih peka dengan secuil penderitaan yang dihadapi oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. Ia sendiri tidak menyadari sejak kapan intuisi semacam itu tumbuh dalam jiwanya yang sejak kecil begitu kesepian dan terasing.

(4) Seorang anak kecil yang pandai berimajinasi merasa dunia di sekitarnya begitu asing. Ia memilih tenggelam dalam benda-benda dan permainan merangkainya, ia belajar membaca ketika ia ingin dan sedang dalam suasana yang gembira. Ia merasa belum dan barangkali tidak membutuhkannya, bahasa adalah kepunyaan orang-orang dewasa yang membosankan, sehingga ia dengan licin dan lewat kecerdikan yang alami di benaknya menciptakan sendiri bahasa-bahasanya yang sukar dipahami lingkungannya. Ia bocah yang berusaha memiliki dunianya,  ia tidak mau hidup satu-satunya miliknya itu direnggut suatu hari nanti. Ia bertahan dalam prinsip.

(5) Seorang ibu memutuskan untuk merahasiakan seluruh masa lalu dan kesehariannya pada lelaki yang kebetulan menjadi suaminya. Ia tidak peduli kata siapa, ia adalah dirinya yang dulu merasa tidak utuh dan sekarang dengan luka-luka terkubur di hatinya menjadi utuh kembali. 

***

Sinar matahari di jendela dan tembok yang menciptakan bayangan pelahan merapat dan hilang. Menyisakan hening yang berdengung di kamar. Semua ‘siapa’ itu teronggok dan tak bergeming.

Suatu kali sebelum masa-masa yang berkeringat menjadi segar kembali, di suatu musim yang tidak menyertakan apapun. Udara yang bersih dan tempat dengan lampu terang, tempat berkumpul manusia membicarakan politik, kebudayaan, dan tentu saja nasib, dengan kopi di masing-masing hadapan mereka, di bawah matanya, seperti suatu dunia yang terbungkus kegelapan, darah yang hitam, suatu bayangan yang mengepul ke udara dan terbang ditelan angin yang berhembus dari suatu tempat yang jauh dan tak dikenali, seperti sebuah wilayah bagi puisi. 

Seorang anak, ibu, lelaki, dan perempuan, dalam sebuah tempat tersendiri, menjadi tanpa identitas lagi. Mereka adalah manusia. Manusia dengan kesepian masing-masing, dengan kesunyian masing-masing, dengan problem hidupnya masing-masing, dengan suatu ketiadaan masing-masing, dengan hilangnya masing-masing.

Ia tidak bermaksud menceritakan apa-apa, tidak siapa-siapa dalam nama-nama, tidak dialog-dialog, dan tidak mencoba memulainya dari satu titik menuju titik yang lain. Di awal ia sudah menjelaskan dengan singkat bahwa segalanya lebih mirip suatu fragmen, hidup, juga adalah fragmen pada sebuah mozaik kehidupan yang luas dan tidak bisa dibentangkan.

Ia membiarkan semuanya apa adanya, tanpa harus ditarik dari sisi mana ceritanya harus bermula dan berakhir, misalnya dengan tanda tanya yang menghantui. Ia bukan Milan Kundera, tentu saja. 

Di sebuah kepala yang ramai dengan pemikiran-pemikiran, yang membaca buku-buku filsafat dan menjadi sangat keberatan untuk menyusun kembali hidupnya yang singkat. Pikiran yang dengan sengaja tidak ingin menyajikan apa-apa, tidak pesan moral yang biasanya ada di sebuah tulisan sastra, atau peristiwa-peristiwa yang bernilai. Ia sudah bilang, ia tidak ingin menulis cerita dengan alur, tanpa pakem-pakem khusus, ia tidak juga berniat untuk menarik perhatian redaktur-redaktur  yang tentu tidak akan menikmatinya. Hidupnya tidak coba dibuat-buat.

Baginya, apa yang pernah dilihat dengan mata tidak bisa dituliskan kembali dalam bahasa apapun. Mata telah merekam kehidupan, telah menangkap apa yang menampakkan diri di sekitar. Semua ada dalam memori, tersimpan di salah satu bagian otak yang kurang cerdas ketika berkoneksi ulang. Tapi ia tidak ingin menyesal. Tidak sama sekali.

Dalam bagian menuju akhir, ia tidak kembali melakukan repetisi untuk menegaskan apa-apa dari apa yang telah ditulis sebelumnya. Ia ingin mengajak siapa saja berjalan-jalan di suatu daerah yang asing, di sebuah kota atau perkampungan yang tidak bernama, tanpa orang-orang, hanya manusia, tapi tidak diberitakan namanya, tidak di koran-koran, tidak kejadian apapun yang terjadi padanya menjadi bahan pembicaraan, menjadi bahan cerita-cerita yang direkonstruksi ulang dengan campuran fiksi di berbagai buku atau media apa saja. 

Hidup sepenuhnya dibiarkan apa adanya, seperti film yang terputar tanpa alur, seperti cerita yang ditulis mirip dengan kekacauan di pikiran, dan ia tidak berusaha menatanya kembali. Itulah sebabnya semua yang telah ia tulis semacam cerita tentang omong kosong, seperti hidup ini.

Oktober, 2020

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 4 Maret 1995. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, seperti: Detik.com, Tukang Puisi, Koran Tempo, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, Utusan Borneo, Pos Bali, Majalah Pewara Dinamika Universitas Negeri Yogyakarta, Koran Dinamika News, dll, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis. Penulis berkhidmat di Forum Penyair Solitude. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (FPS: 2021) diterbitkan secara indie. Sekarang tinggal di Purwokerto.