Sebuah Sindiran Tentang Kemiskinan dan Kekayaan – Akhmad Idris

Lapar - Knut Hamsun

Judul : Lapar (Terjemahan dari Sult)

Penulis : Knut Hamsun

Penerjemah : Marianne Katoppo

Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Cetakan : III, November 2019 (284 halaman)


Pengertian umum para penikmat Sult karya Knut Hamsun -baik dari kelompok pemula hingga pemuja- adalah kisah itu tentang seorang penulis muda yang berjuang menahan rasa lapar agar menjadi terkenal, lengkap dengan segala gejolak batin sang tokoh utama, yang tidak lain Knut Hamsun sendiri ketika masih muda (jauh sebelum meraih Nobel Sastra pada tahun 1920). Namun jelas novel Sult atau Lapar tak hanya sekadar ingin menceritakan gejolak batin tokoh utama dalam pertarungan sengit melawan musuh yang bernama ‘lapar’. 

Seperti mengamini gagasan filsuf Prancis, Jacques Derrida, dalam karyanya Of Grammatology, bahwa teks sastra akan tampak lebih menarik ketika berpaling dari ‘makna umum’ yang menyelubunginya. Derrida memang sengaja menolak kebenaran tunggal dari karya sastra, sebab akan selalu ada makna-makna yang sengaja dipinggirkan atau disembunyikan oleh penulisnya agar tidak mudah dihakimi oleh pembacanya. 

Jika merujuk pada gagasan Derrida, maka ‘makna lain’ yang ingin disampaikan oleh Knut Hamsun dalam Sult –selain perjuangan menahan rasa lapar- adalah sindiran terhadap sikap diskriminatif dalam memperlakukan yang kaya dan yang miskin. Hal ini dilandasi oleh kandungan cerita yang mendeskripsikan derita kelaparan yang pada dasarnya selalu akrab oleh kelompok miskin, dan canggung dengan kelompok kaya.

Gaya bahasa sindiran memang sering digunakan dalam karya sastra, sebab fiksi adalah wilayah bebas jeruji besi –kan hanya fiksi. Jenis gaya bahasa sindiran yang banyak digunakan oleh Knut Hamsun dalam novel Sult adalah gaya ironi dan sinisme. Ironi untuk mempermainkan fakta, sedang sinisme sebagai wujud keraguan terhadap ketulusan manusia.

Kebaikan Orang Miskin Cenderung Diragukan

Sindiran gaya sinisme dimaknai oleh seorang ahli bahasa kenamaan Indonesia, Gorys Keraf, sebagai sindiran yang berbentuk ejekan atas ketulusan hati seseorang. Senada dengan makna dasar sinis sendiri yang berarti meragukan kebaikan seseorang. Di dalam Lapar diceritakan bahwa suatu ketika tokoh Aku sedang tersiksa dalam keadaan perut yang sangat lapar, hingga membuat tubuhnya lemah dan muntah beberapa kali. Keadaan ini memaksanya melakukan tindakan yang tidak terpuji, yakni menggadaikan sebuah selimut yang bukan miliknya, seperti disebutkan dalam kutipan berikut ini,

Lalu aku tiba-tiba berpikir bahwa aku dapat pergi ke ruang bawah tanah “Paman” dan menggadai selimutku. Pasti aku akan peroleh satu krone dan makan lezat tiga kali, untuk bertahan sampai kudapat pekerjaan baru; Hans Pauli akan kubereskan sesudah itu (halaman 63).

Beruntungnya, ketika sudah berada tepat di depan pintu rumah gadai, tokoh Aku mengurungkan niat karena hal semacam itu tidak merepresentasikan sikap jujur. Tokoh Aku merasa sangat bahagia karena berhasil melawan rencana jahat yang kerap menggoda kaum miskin. Kegembiraan tersebut terlihat berikut,

Kesadaran bahwa aku adalah seseorang yang jujur membuatku amat bangga, memenuhiku dengan suatu perasaan yang sangat nikmat, yakni aku ini seorang pribadi, sebuah mercusuar putih di tengah-tengah lautan manusia yang kelabu….. menggadai milik orang lain agar dapat makan siang (halaman 63).

Lewat ungkapan di atas, Knut Hamsun terlihat meragukan ketulusan manusia kebanyakan dengan ungkapan ‘lautan manusia yang kelabu’. Mayoritas manusia miskin akan nekat menggadaikan barang yang bukan miliknya, asalkan perutnya tak lagi meronta. Satu hal yang paling penting dari sinisme tersebut adalah meskipun kebanyakan manusia miskin diragukan kebaikannya, tapi tokoh Aku adalah sebagian kecil dari manusia miskin yang tetap menjaga sikap jujurnya di tengah terpaan badai kemiskinan. Knut Hamsun menyebutnya dengan sebutan ‘mercusuar putih’. Sungguh, orang miskin juga bisa melakukan kebaikan. Tak melulu menuntut sebuah permintaan. 

Kebahagiaan Orang Miskin

Jika sinisme adalah bentuk keraguan terhadap ketulusan, maka ironi diartikan oleh Gorys Keraf sebagai sindiran dengan kalimat yang kontradiktif dengan maksud atau suasana yang sebenarnya. Knut Hamsun ditemui menggunakan gaya ironi pada beberapa kalimatnya dalam novel Sult, di antaranya ketika tokoh Aku merasa lebih menderita atas hal-hal yang tidak menyenangkan daripada orang-orang pada umumnya. 

Masalahnya ialah bahwa kemiskinanku membuat indraku semakin tajam, sehingga hal-hal yang kurang menyenangkan, terasa jauh lebih parah olehku (halaman 221).

Ironisnya, tokoh Aku malah menyebut hal yang kurang menyenangkan tersebut sebagai keuntungan, karena sensitivitas tersebut membuat orang miskin jauh lebih peka daripada orang kaya sebagaimana penuturan tokoh Aku di bawah ini,

Tetapi ada keuntungannya juga, hal ini dapat membantu dalam keadaan tertentu. Orang cerdas yang miskin jauh lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya dari orang cerdas yang kaya. Orang cerdas yang miskin harus sangat berhati-hati sebelum melangkah…. Ia mudah menangkap arti suatu kata dan ungkapan suatu perasaan (halaman 221)

Berdasar pada kutipan di atas, ditunjukkan bahwa Knut Hamsun ingin menyindir sekaligus membongkar stigma yang beredar di masyarakat bahwa orang kaya selalu superior dan orang miskin selalu inferior. Bagi Knut Hamsun, orang miskin lebih superior dalam hal kepekaan daripada orang kaya. Hal ini disebabkan oleh intensitas penderitaan yang lebih sering dialami oleh orang miskin daripada orang kaya. Orang miskin lebih mudah merasa iba atas sebuah tindak penganiayaan, karena mereka telah mengetahui betapa sakitnya dikucilkan dan dipinggirkan. Singkatnya, Knut Hamsun ingin menegaskan bahwa orang miskin juga bisa berbahagia dan bangga melalui aspek sensitivitas mereka.

Sekilas Knut, Pendukung Nazi

Knut Hamsun, yang lahir dan wafat di Norwegia, tidak asing dengan ‘lapar’ dan ‘kerja keras’ sejak kecil, seperti dituturkan penerjemah Marianne Katoppo sebagai pengantar Lapar. Pada usia 9 tahun, Knut Hamsun sudah dijadikan sandera oleh paman sendiri sebab utang keluarga. Di kantor pos milik pamannya, dia merasakan kerja tanpa henti serta pukulan bertubi-tubi. Rupanya, penderitaan tersebut yang menjadi inspirasi munculnya Sult dan novel-novel lainnya. Umur 15 tahun dia ‘bebas’ dan pulang ke kampungnya untuk bekerja segala macam: pedagang keliling, asisten kepala polisi lokal, maupun guru sekolah dasar. 

Pada usia 18 tahun (1877), dia menuntaskan buku pertama, Den Gaadefulde: En Kjærlighedshistorie fra Nordland atau Pria Penuh Teka-Teki, Kisah Cinta dari Norwegia Utara. Waktu itu dia sudah mendapat  bantuan keuangan dari seorang pengusaha, Erasmus Zahl, yang kemudian dijadikan sebagai model untuk karakter tokohnya dalam Pan (1894), Dreamers (1904), Benoni (1908), dan Rosa (1908). Sepanjang hidupnya, dia menerbitkan lebih dari 20 novel,  serta berbagai kumpulan puisi, cerita pendek, maupun esai, namun Slut (1890) yang mengangkatnya  ke panggung dunia. Tahun 1917 dia keluarkan karya epik Markens Grode  atau Menumbuhkan Tanah, yang mengantarnya meraih Nobel Sastra pada 1920. 

Selama Perang Dunia II, Knut secara terbuka mendukung Jerman dan bertemu dengan para petinggi Nazi, termasuk Adolf Hitler. Belakangan dia bahkan menulis obituari untuk Hitler dengan menyebutnya sebagai ‘pejuang untuk umat manusia’ dan ‘pengkotbah keadilan bagi semua bangsa’.  Konon Knut bisa bertemu langsung dengan Hitler setelah menghadiahkan medali Nobel Sastra kepada Menteri Propaganda Nazi, Joseph Goebbels. Maka begitu perang usai dia pun ditangkap, diadili dengan dakwaan pengkhianatan -Jerman sempat menduduki Norwegia- dan diganjar hukuman denda, karena tidak terbukti berafiliasi dengan Nazi walau menyatakan dukungan secara terbuka. Warga Norwegia yang marah membakar buku-bukunya di depan umum di kota-kota besar Norwegia dan dia sampai dirawat selama beberapa bulan di rumah sakit jiwa.

Novel terakhirnya, Paa giengrodde Stier terbit 1949, yang isinya antara lain disebut mengkritik para psikiater dan hakim, yang pernah menyimpulkan dia mengalami gangguan jiwa. Tiga tahun setelah novel itu, dia meninggal dunia pada usia. 92 tahun.
***

Akhmad Idris, lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang menjadi dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya Surabaya. Karya solonya yang telah diterbitkan adalah kumpulan esai berjudul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020). Baru-baru ini ia lolos dalam seleksi terbuka peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) yang ke-3 yang diadakan oleh Balai Bahasa.  Salah satu cerpennya pernah menjadi juara haparan 3 dalam lomba penulisan cerpen Pekan Budaya 2016 oleh HMJ Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan puisinya Rindu Palestina 3 menjadi puisi terbaik menurut Emirbooks (Penerbit Erlangga) dalam lomba yang bertema “Kerinduan pada Palestina”. Selain menulis cerpen dan puisi yang dimuat di berbagai media, dia juga menghasilkan esai-esai ringan tentang pendidikan, sosial, dan budaya. Facebook: Akhmad Idris, IG: @elakhmad.