Empok Romlah – Fahrul Rozi

Empok Romlah ingat betul mata pria itu. Ia pun masih ingat warna jas hujan dan sepatu bot yang ia kenakan. Tapi tak ada petugas yang mengenal pria yang disebutkan Empok Romlah. Mereka malah mengantarnya ke dalam tenda—yang sudah disesaki laki-laki, perempuan, dan anak-anak pula. Empok Romlah menolak masuk. Ia ingin bertemu pria itu. Empok Romlah mengulang ciri-ciri pria tersebut, tetapi mereka tetap tidak tahu. Empok Romlah tidak jadi masuk. Ia duduk di depan tenda dengan badan setengah basah.

Ia mengingat kembali kejadian semalam. 

Seorang lelaki dengan jas hujan dan sepatu bot. Matanya tenang, tidak ada kegelisahan atau pun ketakutan. Lelaki itu menggapai tangan Empok Romlah lalu menariknya naik ke atas perahu karet. Ia ingat betul apa yang lelaki itu katakan padanya, “Jangan takut, Tuhan bersama kita.” Betapa tulus dan bersih hatinya.

Empok Romlah bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Banyak anak kecil berlarian di depannya, gadis kecil berkincir mengingatkannya pada anaknya. Entah kenapa ia sangat mirip dengan Maimunah. Empok Romlah berdiam melihat mereka berlarian, kemudian gadis kecil yang mirip Maimunah berdiri di depannya. Empok Romlah menatap matanya, bening. Ia mengusap kepala anak itu lalu mencium keningnya. “Semoga Tuhan memberkatimu.” Gadis itu berlari kembali bergabung dengan teman-temannya.

Datang sebuah pik-up besar. Di belakangnya dua lelaki dan dua perempuan dengan baju seragam membagi-bagikan kotak nasi pada pengungsi. Anak-anak berlarian. Sebelum berjalan ke arah pik-up, Empok Romlah melihat satu persatu dua lelaki itu. Tidak ada. Ia pun mengantri dengan pengungsi yang lain dengan harapan pupus.

Sudah dua hari Empok Romlah tinggal di pengungsian. Sudah dua hari pula ia tidak tidur di dalam tenda. Ia hanya duduk di depan tenda dan berharap lelaki itu akan datang dan menjulurkan tangannya kembali. Oh, betapa hati Empok Romlah bimbang, jangan-jangan selama ini ia hanya melamun dan sesungguhnya lelaki itu tidak ada. Tapi, seperti yang dikatakannya pada Empok Romlah, “Tuhan bersama kita” namun Tuhan yang mana?

Setelah dua kali petaka datang padanya, Empok Romlah meragukan adanya Tuhan. Ia ragu karena Tuhan tidak mengabulkan doa-doanya. Padahal ia sudah tiap hari salat, puasa bulan Ramadan, mengeluarkan zakat, tapi Maimunah, gadis yang malang dan belum akil baliq menghilang dibawa arus sungai.

Oh Maimunah yang malang. Ia belum dimandikan dan belum dikubur dengan layak.

Malam itu ketika semua pengungsi tidur, Empok Romlah berjalan-jalan ke luar. Pikirannya bekerja lebih cepat dari biasanya. Ia mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi sebelum air bah datang. 

Hujan deras. Anak-anak sekolah pulang dalam keadaan basah kuyup. Mereka kegirangan sampai seragamnya kotor oleh lumpur. Ibu mereka berteriak dari beranda rumah agar anaknya berhenti mandi hujan. Namun ini adalah kesenangan, mereka tetap bermain sambil berteriak, “datanglah hujan, datanglah.” Bukannya hujan lebih deras, tapi petir menyambar, memecah langit. Mereka ketakutan dan akhirnya berlari ke dalam rumah. 

Kejadian di atas masih sangat lekat di kelapa Empok Romlah. Mbak Mus, tetangganya merupakan keluarga bahagia. Ia dikarunai satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Hidupnya sebagai ibu rumah tangga mencerminkan betapa indah hidup ini.

Azan zuhur lamat-lamat terdengar. Matahari tak terlihat. Empok Romlah hidup sebatang kara di rumah setelah Bang Jarot, suaminya meninggal, kemudian Maimunah menyusul. Langit semuram hati Empok Romlah.

Ia bangkit dari kursi malasnya, menutup jendela, dan masuk ke dalam rumah. Jendela itu adalah tempat Bang Jarot minum kopi atau membaca koran. Jendela kayu berwarna hijau daun yang tidak lama dicat Bang Jarot sebelum meninggal. Tepat di depan jendela ada kursi berkaki besi dan berlapis busa serta meja bundar, tempat koran dan kopi diletakkan.

Angin berhembus membuka pintu. Ia kembali dan menutup pintu. Terdengar derit engsel kehausan. Memang. Rumahnya sudah tua. Tidak ada orang yang bisa disuruhnya membetulkan ini, merapikan itu, mendorong ini. Ia tidak bisa melakukannya sendiri. Mengingat semakin hari tubuhnya makin kurus. Ia tidak berdaya hidup sendiri. Ia tampak lebih tua di umur 35 tahun.

Empok Romlah masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia ingat betul Bang Jarot meletakkan uangnya di saku baju tentara. Itu mengingatkan Empok Romlah agar mengambil uang di saku sebelah kiri. Empok Romlah masih hafal dan bahkan bau Bang Jarot masih melekat di hidungnya. Setelah menaruh uang, Bang Jarot beranjak ke kamar mandi, lalu tidur di samping Empok Romlah.

Petaka bermula di siang hari ketika teman Bang Jarot datang dan mengabarkan kecelakaan suaminya: sebuah besi yang diapit oleh mesin terlepas dan menimpa kepala Bang Jarot. Kepalanya pecah. Dan kabar ini disembunyikan dari Maimunah. Empok Romlah menahan dada, tetapi ia tidak tahan untuk menangis. Maimunah yang saat itu berumur empat tahun datang ke kamarnya setelah mendengar tangis. Matanya berbinar melihat ibunya menangis. Ia ulurkan kedua tangannya dan Empok Romlah meraih, ia tarik Maimunah dan ia dekap lama. Ia gendong Maimunah kecil sambil menyanyikan lagu Bintang Kecil.

Maimunah kecil hidup dalam ketidaktahuan. Ia tidak tahu bapaknya meninggal. Ia pula tidak tahu harus meminta uang pada siapa selain Bang Jarot. Namun Empok Romlah selalu menjawab pertanyaan Maimunah agar tidak lagi memikirkan bapaknya. “Bapak segera datang setelah pekerjaannya selesai,” dan Maimunah tidak lagi menanyakan bapaknya. Ia berbahagia sudah memiliki Empok Romlah dan teman-temannya. Dua tahun berlalu tanpa Bang Jarot. Maimunah tumbuh menjadi gadis periang.

Namun petaka itu datang lagi ketika Maimunah berumur enam tahun. Ia baru saja pulang dari sekolah dan diajak temannya bermain di sungai. Awalnya ia tidak mau, tetapi di pikirannya terbesit betapa mengasyikkan main di sungai. Saat itu Empok Romlah masih berjualan di pasar. Ia baru pulang ke rumah jam sembilan pagi. Di rumah tidak ada Maimunah. Empok Romlah beres-beres, dan tetangganya berteriak memanggil namanya. 

“Empok, Maimunah… Maimunah…  hanyut di sungai.”

Perasaan yang sama timbul kembali. Ia berlari mengikuti warga sambil berlinang air mata. Beberapa warga telah menyisir sungai, tetapi Maimunah tidak ditemukan. Pencarian dilanjutkan sampai malam. Tapi Maimunah tetap tidak ditemukan.

Empok Romlah belum putus asa. Malamnya ia berdoa pada Tuhan meminta Maimunah dikembalikan. Esoknya warga kembali menyisir sungai, namun sampai sore Maimunah tidak ditemukan. Empok Romlah merasa sia-sia. Ia menghentikan warga mencari jasad anaknya. Ia pulang dan mengutuk Tuhan..

Dan Empok Romlah menyendiri di rumah sembari menyumpahi Tuhan dan mengatainya. Ia lakukan itu agar Tuhan murka dan merenggut nyawanya sehingga bertemu suami dan anaknya. Tapi hujan deras turun di Kalimalang sampai malam. Empok Romlah yang saat itu tidur terjaga ketika mendengar kecipak air. Ia segera sadar bahwa air telah masuk ke dalam kamarnya. Ia segera keluar kamar, dan melihat beranda rumah di genangi air. Ia buka pintu, tiba-tiba air masuk.

Oh. Empok Romlah mengira ini adalah akhir hidupnya. Ia melihat keluarga Mbak Mus naik ke atas genteng. Entah kenapa ia mengikuti langkah mereka. Setibanya di sana ia menengadah dan mengulang ritualnya mengutuk Tuhan. Tapi ketika air bah datang dan hampir menenggelamkan rumah-rumah warga, lelaki itu menjulurkan tangannya. Oh, Tuhan yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, Empok Romlah hidup. Tuhan tidak murka -lelaki itu membawa pijar ke hati Empok Romlah yang gelap. 
***

Hawa dingin membuatnya menggigil. Sebelum ia berbalik kembali ke tenda, tangan hangat menyentuh pundaknya. Lalu ia dengar, “Tuhan bersama kita” ia berbalik dan tidak ada siapa pun. Ia berjalan pulang, dan mendengar “Tuhan bersama kita” setiap langkah. Kemudian sosok berjubah menghalangi jalannya. Ia berpikir bahwa mungkin sosok di depannya adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk mengambil nyawanya. Sosok berjubah itu mendekat, lamat-lamat, bau harum keluar darinya dan langkahnya semakin dekat. 

“Aku kekasihmu, wahai Romlah,” terkejut mendengar itu, Empok Romlah menatap matanya tetapi cahaya keluar dari balik wajahnya. Ia tidak bisa melihat apa pun selain merasakan tubuhnya melayang dan di sekitarnya menjadi putih.

Ia sadar bahwa sosok yang ia lihat telah tak ada dan dirinya pun sudah tak di bumi. 
***

Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.