Seratusan orang berjalan beriringan menuju sebuah hutan yang gaduh oleh kepungan gagak di kanan dan kiri. Beberapa dari mereka dibikin merinding, beberapa lagi berusaha mendapatkan batu untuk ditimpukkan ke mana saja asal mengenai kepala si gagak. Seorang pemuda meraih ketapel di kantong celananya yang dombrang, membikin gerakan lincah menjumput satu-dua kerikil sebelum melesatkannya ke dahan pohon mahoni.
Seekor gagak terjun bebas tak sadarkan diri. Pingsan. Atau mungkin saja mati. Si pemuda mendapati batu yang ia lesatkan telah merontokkan sebagian bulu-bulu hitam dan membikin robek separuh leher.
“Jangan ambil gagak itu, biar belatung yang memakannya!” ucap seorang tua berjenggot lebat dan panjang.
Tak ada yang membangkang atau menawar perintah dari pak tua pemimpin itu. Mereka melanjutkan jalan kaki, sejak puluhan hari lalu hingga mungkin beratus-ratus hari ke depan, menemukan lebih banyak jajaran pohon besar dan ular-ular. Seorang membunuh beberapa ekor dan menjadikan kulitnya sebagai ikat pinggang dan pakaian pengganti baju lama yang lusuh-lapuk.
Seratusan burung gagak bertengger di dahan-dahan sekitar, mengawasi dan menunggu siapa saja dari rombongan itu yang akan mati dan menjadi bangkai. Di depan rombongan, ada mata air yang keruh oleh bekas bangkai yang pernah diperebutkan para gagak. Mereka sama sekali belum tahu perihal mata air dan perihal maut yang sedang mengintai. Tapi justru itulah kemewahan mereka yang tersisa: lupa pada maut yang sedang merongrong dari tempat yang sangat dekat.
Satu dan dua orang meminta istirahat, sedangkan yang lain melanjutkan perjalanan, menyibak semak-semak rawe dan duri dan ranting yang dapat melukai kulit. Hutan yang amat panjang itu tak dapat menerangkan apa-apa, kecuali bahwa mereka mesti berjalan hingga berhari-hari atau berbulan-bulan lagi.
“Sedari kemarin hanya ada hutan. Berapa lama lagi kita mesti begini?” tanya seorang perempuan yang menggendong bayi.
“Berjalanlah saja! Saya atau kamu dan mereka sudah bersepakat dengan perjalanan ini,” jawab pak tua berjenggot lebat. Terusir dari kampungnya, seratusan orang mengikut pak tua mencari kampung baru, entah di mana dan entah kapan pula tibanya. Mereka hanya berjalan, berjalan, dan berjalan terus.
“Saya haus. Anak saya juga. Tak adakah air?” tanya si perempuan sambil membenarkan gendongan bayinya.
“Kelak akan ada mata air,” ucap si pemuda ketapel.
Maka mereka berjalan lagi, menembus sunyi dan dingin yang turut menyusutkan nyali. Satu-dua orang minta istirahat, maka berkuranglah jumlah manusia dalam rombongan. Yang tersisa meneruskan berjalan dengan mimpi suka cita belaka, berpura-pura bahagia menata harapan dalam letih yang tak terkatakan selama banyak hari. Hanya bayi-bayi dan anak kecil yang sanggup berterus terang dan menangis hingga membikin gentar burung-burung gagak. Orang-orang tua turut menenangkan, namun pemberontakan kecil tangis-tangis pilu itu membutuhkan waktu untuk diredam.
Rasa lapar dan haus dan deretan hutan berwarna suram memaksa seorang berpikir nekat. Secara serampangan dikeruknya sejengkal tanah lembab yang menyimpan cacing-cacing, lalu dimakannya cacing-cacing itu, tanpa peduli rengek bayi dan kejijikan yang dilontarkan orang-orang serombongan. Beberapa orang lain memunguti ulat-ulat dan belalang dan bekicot di semak-semak yang lebih lebat. Kudapan-kudapan hidup itu tak perlu dikunyah, melainkan langsung tertelan demi memenuhi hajat usus besar yang tertunda berhari-hari.
“Kami sudah tak tahan,” ucap pemakan cacing.
“Saya tak habis pikir mengapa kalian jadi demikian nekat. Perjalanan ini bukan untuk makan atau mencari makanan. Ada hal lebih besar yang mesti kita dapatkan,” jawab si pimpinan.
“Tapi kami lapar.”
“Perbuatan kalian sungguh tercela. Budak perut!”
Seluruh anggota rombongan terdiam.
Mereka berjalan lagi, memapasi belukar dan sebuah terembesi rakasasa yang doyong hingga mencuat akar-akarnya. Mata air yang disebut pemuda berketapel mulai tampak samar-samar dari kejauhan, ialah sebuah sumur tua yang dirambati lumut-lumut dan tumbuhan paku yang sama tuanya. Seorang mengitarkan pandangan pada sekeliling, hanya semak-semak dan deretan pohon meranti menjadi teman sepenanggungan sumur tua.
Seorang lain mengintip ke kedalaman sumur hingga tampak padanya kerangka tubuh manusia dan tengkorak kepala yang berpisah jarak beberapa senti. Si pengintip bergidik sambil bertanya-tanya dalam hati mengenai keberadaan manusia selain mereka di sekitar tempat itu.
Kaok gagak kembali terdengar sahut menyahut, mengantar sebuah denting yang menyerupai musik kematian. Suasana berangsur gelap, nyala matahari memudar perlahan oleh setumpuk mendung di atas kepala. Namun keadaan haus dan kerontang membikin mereka lupa pada keadaan muram nan pejal itu.
Si pengintip akhirnya memberanikan diri mengambil air sumur yang keruh, berwarna hitam dan menyimpan bekas darah manusia dan air kencing binatang-binatang kecil. Ia membaunya amat lama sebelum memaksa diri meminumnya. Namun tak berapa lama ia muntah-muntah dan lemas, jatuh menggelosor hingga tak dapat bangkit beberapa jam. Lalu dipaksanya mengunyah daun lamtoro yang tumbuh liar tak jauh darinya. Ia bangkit, disusul kepungan suara burung gagak dari delapan penjuru.
“Air sumur ini sungguh tak enak. Sebaiknya kita cari mata air lain,” tuturnya.
Kaok burung gagak terdengar makin dekat dan makin sering, membikin bayi-bayi menangis lagi, juga orang-orang dewasa menutup telinga rapat-rapat.
“Pertanda apa ini, Tuan?” tanya pemuda berketapel di antara riuh suara gagak.
“Entahlah. Gagak-gagak itu seperti membawa kabar buruk,” jawab pak tua.
“Suara gagak adalah pertanda kematian. Salah satu atau beberapa dari kita mungkin akan mati,” timpal peminum air sumur.
“Cukup! Jangan singgung-singgung kematian!” pekik pak tua, mendiamkan kaok burung gagak.
Tak berapa lama si pemuda berketapel melihat sebentuk bukit berwarna kebiruan begitu gagak-gagak mengendurkan kaok-nya yang memekakkan. Jarak itu terlihat tidak jauh jika mereka mau berjalan sedikit lagi. Barangkali di balik bukit ada perkampungan yang dihuni manusia, pikirnya. Maka ia mengabarkan penglihatannya pada orang-orang serombongan. Ada semangat yang tiba-tiba terbit, betapa pun kecilnya. Mereka bangkit, lalu berjalan lagi tanpa menghiraukan gagak-gagak yang sesekali terbang dan memperdengarkan suaranya yang kejam.
Bukit yang tak seberapa tinggi itu dicapai rombongan yang tersisa tanpa sempat lagi menoleh ke belakang, tak sempat lagi memikirkan orang-orang yang tertinggal di belakang, tak sempat lagi mengucapkan kata sampai jumpa pada orang-orang yang kepayahan di belakang. Mereka senang bisa baik-baik saja dan maju ke depan, meski nyatanya tak ada perkampungan sebagaimana yang terbayang. Bukit kebiruan itu hanya bukit biasa, bukan sebuah batas yang memisahkan hutan dengan perkampungan berpenghuni.
Maka mereka kembali berhadapan dengan hutan yang panjang, suram, dan bertele-tele.
Kaok gagak-gagak kembali mengepung, membikin beberapa orang jengah dan mengutuk perjalanan tak berkesudahan.
“Jadi, Tuan, berapa lama lagi kita mesti berjalan?” tanya seorang perempuan yang mesti merelakan bayinya mati kelaparan.
“Berjalanlah saja, kalian akan mengerti!”
“Kami tak sanggup lagi, Tuan. Dua puluh orang, termasuk dua bayi, telah mati tanpa kita dapat mengurusnya,” ucap pemuda berketapel.
Si pimpinan hanya terkekeh.
“Mereka bertanya pada Tuan, mengapa tak ada jawaban terang?” susul seorang yang memakan ulat.
“Kita hanya harus berjalan, menuntaskan perjalanan ini. Semoga tak ada yang sia-sia.”, jawab pria tua berjenggot lebat dan panjang seraya mengawang sambil membayangkan keindahan.
Suasana hening beberapa saat, sebelum tercabik jeritan perempuan-perempuan yang mendengar suara kepala pecah oleh hantaman batu. Si pimpinan rombongan rebah bertelungkup dalam sakaratul maut, menggapai-gapai apa saja dengan tangan, dan mengucapkan sesuatu yang tak dapat dipahami rombongan yang tersisa.
“Maafkan saya, Pak Tua, saya muak. Telah banyak orang mati. Kau terlalu tua untuk memimpin tubuh dan jiwa kami. Kini kau tahu, burung-burung gagak itu benar-benar pertanda kematian, ialah kematianmu,” pekik seorang pria pemakan belalang. Tetes-tetes darah merah legam berjatuhan dari batu di tangan kanannya dan kaok burung-burung gagak semakin keras, semakin dekat, juga semakin menakutkan.
Si pemakan belalang menjadi pemimpin yang baru, walau tak berjenggot lebat dan panjang.
Selang tiga hari kemudian, ketika remah-remah daging tubuh pak tua berjenggot lebat dan panjang tak tersisa lagi di tulang belulangnya, orang-orang rombongan yang tersisa mencabik-cabik hutan lebat di sekitar, menetap di sana, membangunya menjadi sebuah perkampungan.
Beberapa di antara mereka menikah, berkembangbiak, dan berlipatganda membentuk kabilah-kabilah baru. Tiap kabilah terus menerus beranak pinak, dan kampung diperluas, memaksa mereka membangun sebuah kota yang megah bercirikan burung gagak di segenap penjuru. Sebuah patung batu burung gagak berdiri di atas sisa-sisa tulang pak tua berjenggot lebat dan panjang, yang dijadikan batas pemisah kota dari hutan yang lebat dan gelap.
Seorang pemersatu kabilah dari keturunan kelima si pemakan belalang dipercaya memimpin kota yang baru berdiri dan menamai Kota Gagak. Namun bukan hanya keturunan orang-orang rombongan tersisa yang bertambah banyak, juga burung-burung gagak yang mendiami kota, dengan kaok bising yang menjaga kota dari kedatangan orang-orang jahat, keturunan orang-orang yang dulu tertinggal di belakang, yang tak sempat disapa dengan kata sampai jumpa.
Setiap kali keturunan orang-orang yang tertinggal itu menyentuh garis batas kota, burung-burung gagak bergegas menjatuhkan batu-batu tajam yang berat ke kepala mereka dan membiarkan tulang-tulang tanpa daging menumpuk di atas sisa-sisa tulang pak tua berjenggot lebat dan panjang.
Dan burung-burung gagak terus bertambah banyak, hari demi hari, tahun demi tahun, sampai keturunan keempatbelas si pemakan belalang mengubah namanya menjadi Kota Seribu Burung Gagak.
***
Hari Niskala, dilahirkan di Kabupaten Tulungagung. Tak banyak kegiatan berarti yang dilakukan, sebab duapertiga hidupnya sering dihabiskan di warung kopi untuk mencelotehkan hal-hal yang masih dapat dijangkau oleh nalar manusia. Juga sebulan sekali mencoba peruntungan dengan menjadi pengamen di gubuk maya sederhana bernama Sadha. Sejak pertengahan tahun 2005 mencoba sepenuh hati menggemari tim sepakbola Liverpool dan di waktu yang lebih luang menjadi pengagum tim sepakbola Juventus. Bukunya yang telah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul “Vita Brevis Suwung Longa” (Tidar Media, 2020) dan novel berjudul “Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai” (Rua Aksara, 2021).