Ambon
Walau tak pernah tinggal di Provinsi Maluku dan cuma sekali berkunjung ke kota Ambon, ketika berusia 3 tahun dibawa jalan-jalan pulang kampung dua mingguan oleh bapaknya, istri saya selalu mantap mengaku ‘Orang Ambon’. Memang bapaknya lahir dan besar di Ambon sebelum bekerja merantau ke Jakarta dan menikah dengan perempuan, yang sama seperti istri saya, mantap mengaku Ambon walau sejak lahirnya hidup di Jakarta dan cuma beberapa kali liburan ke Ambon.
Batak
Beda dengan saya: Batak asli. Lahir dan besar di kota Sipirok, Tapanuli Selatan, kuliah di Medan, sebelum merantau ke Jakarta, seperti bapak mertua, dan menikah dengan ‘perempuan Jakarta’. Bapak dan Mamak saya masih tinggal di Sipirok, dan kami dua tahun sekali dengan kedua anak pulang kampung naik pesawat ke Medan dan nyambung mobil carteran delapan jam-an lagi sampai ke Sipirok, dekat perbatasan dengan Sumatra Barat. Protes istri saya -“kok nggak pernah ke Ambon”- saya diamkan dengan tegas, “Ke Ambon cuma jalan-jalan, ke Sipirok jumpa ompungnya. Kalau opa-oma, tiap minggu juga ketemu.”
Perkawinan
Banyak orang yakin perkawinan adalah persekutuan yang kompak, tapi pengalaman saya dan istri, selama hampir 25 tahun adalah persaingan ketat antara dua orang, dan nyaris dalam segala hal. Sejak kedua anak masih bayi, persaingan menarik perhatian sudah sengit, seperti ucapan pertama Ayah atau Ibu. Ketika mau masuk universitas, kedua almamater kami bersaing, dan kemenangan diraih istri berhubung bonus “lebih dekat ke Ompung” dihajar dengan, “di sini juga ada Opa-Oma.” Kesepakatan hanya tercapai untuk hal-hal yang tak bakal sanggup kami wujudkan, seperti jalan-jalan ke Jepang, atau beli rumah di Pantai Kuta, Bali. Sedang semua yang mungkin terwujud memerlukan satu pertarungan sengit: harus ada yang kalah dan ada yang menang.
Bergereja
Umat Kristen Ambon dan Batak sama kuatnya dalam tradisi bergereja, yang jelas berbeda total dengan beragama. Kalau beragama setiap detik, setiap nafas, maka bergereja hanya sekali seminggu, sekitar dua jam-an. Bagaimanapun gereja jadi tempat suci yang terletak di awang-awang antara bumi dan surga, yang meneduhkan, mendamaikan, tapi sekaligus berjarak dari kehidupan di bumi. Begitulah gereja buat kami berdua, sebagai satu dari beberapa kesepakatan yang mengakar pada tradisi kultural, dengan bergiliran setiap Minggu ke gereja Ambon dan gereja Batak. Kami pun duduk berdampingan dengan damai, tentram, teduh, sambil bernyanyi dan mendengar kotbah, namun bertengkar hebat hanya selangkah ke luar dari pintu gereja: “Kau yang nyetir pulang ya, aku ngantuk” yang dibalas dengan tatapan tajam istriku seolah permintaan itu berasal dari pikiran jahat setan. Ketika dia minta, “Singgah bentar di warung, mau beli sabun cuci” kubalas dengan suara bijak pendeta, “Janganlah kiranya kita campurkan ritual gereja dengan kebutuhan duniawi.”
Pindah
Karena aku kena PHK -atau terdampak efisiensi, istilahnya- dan kedua anak sudah kos di dekat kampusnya, kami pindah ke rumah kecil di kampung kecil, jauh dari pusat kota. Kampung dan rumah itu pilihan istriku, berhubung dia menjadi pencari nafkah utama yang bisa kerja dari rumah pake Zoom dan hanya ke kantor sehari sebulan. “Bising aku di tepi jalan raya,” putusnya, dan aku pasrah menjauh dari kemeriahan kota, berhubung jadi pihak yang kalah sebagai pengangguran. Akupun mulai bersepeda, sekedar menikmati kemeriahan pasar kampung, sekitar dua kilometer dari rumah baru kami. Seperti banyak hal dalam hidup, uang memang lebih menjanjikan kemenangan, jadi setiap bersepeda ke pasar kampung, diam-diam aku beli togel supaya punya uang banyak dan meraih kemenangan berulang pula.
Gereja
Di kampung kecil kami yang baru, ada gereja kecil berhalaman rumput yang amat luas. Ini ciri kawasan pelosok, ada tanah yang amat luas tapi tak cukup banyak umat, untuk menyumbang membangun gereja, merawatnya, apalagi mengisinya setiap Minggu. Pada usia tengah 50-an kami berdua tergolong ‘kaum muda’ di tengah-tengah para pensiunan pendatang atau penduduk asli yang ditinggal anak-anaknya yang merantau ke kota-kota besar. Seiring berjalannya waktu, jumlah umat gereja menciut, akibat kematian atau keringkihan para orang tua sehingga ditarik oleh anak-anaknya ke luar dari kampung agar tinggal bersama di kota yang bising.
Rumput
Maka ketika seorang umat pria meninggal kena stroke, akupun segera direkrut pendeta masuk ke dalam barisan pemotong rumput. Pada satu sore selepas magrib, ketika sengat matahari sudah menyejukkan, aku dipandu pendeta berkeliling halaman gereja, dari depan, samping kiri dan kanan, sampai ke bagian berpagar kayu tinggi di belakang gereja. Dipegangnya satu kunci dengan gantungan bertuliskan: 8627, yang terlindungi plastik. Kunci itu untuk pagar ke bagian berpagar kayu sedang empat nomor adalah kode gembok pintu gudang penyimpanan mesin pemotong rumput dan alat-alat kebun lain. Setelah dibimbing mengisi bensin ke mesin, menghidupkan, dan mendorong dengan menarik pegas di pegangannya, aku ditinggal. “Kunci itu untuk saudaraku, dan rota-nya saya kirim lewat grup WA,” kata Bapak Pendeta. Petang itu juga, terbukti sedikitnya perlu dua jam untuk memotong halaman rumput gereja yang luas itu. Cukup melelahkan, “Tapi demi rumah Tuhan,” gumamku menenangkan diri. Ketika mengembalikan mesin pemotong rumput ke gudang berpagar, ada pintu kecil penghubung ke gereja, kutarik tapi terkunci. Kunciku hanya untuk gudang saja. Sampai di rumah istriku bungkam tak bertanya tentang tugas muliaku yang baru, yang sudah kukasih tahu ketika mau berangkat. Jadi kuangkat kunci bertuliskan kode 8627 itu, mengoyang-goyangkan di udara beberapa kali biar terlihat jelas olehnya, dan memperingatkan, “Ini kunci ke gudang di rumah Tuhan, jangan kau pakai sembarangan. Hanya untuk aku” sebelum menaruhnya di mangkuk tumpukan kunci. Istriku diam tak bereaksi. Aku tersenyum puas menikmati keunggulan atas nama Tuhan.
Bunga
Tiga bulan kemudian, setelah dua kali kena rota motong rumput, istri almarhum pria pemotong rumput yang kugantikan itu ditarik putrinya untuk tinggal bersama di pusat kota. “Nggak tenang lihat Ibu hidup sendiri,” kata putrinya. Maka ada lowongan untuk perangkai bunga altar gereja setiap Sabtu sore. Istriku bukan orang yang suka bunga-bungaan, apalagi merangkai bunga. Sebagai akuntan bermata tajam, dia malah terganggu dengan bunga alami di dalam ruang tertutup, “Terbatas usianya, kalau lupa diangkat bau busuk, dan harganya gila-gilan karena sasarannya pasar kelas menengah. Tanam saja di luar sana.” Memang di dalam rumah kami yang kecil, hanya ada bunga plastik, serta semprotan beraroma mawar dan melati. Jadi ketika Sabtu sore dia pamit, “Mau belajar merangkai bunga gereja,” akupun was-was: pelan-pelan akan dia masukkan paham bunga plastik di altar gereja. Ketika pulang, tiba-tiba dia menjadi afisianado merangkai bunga, “Susah, harus milih bunga-bunga yang cocok warnanya, motong batang-batang yang busuk, baru dipadu jadi satuan harmonis. Untung istri pendeta sabar ngajarin.” Dan diapun berceloteh panjang tentang filsafat bunga altar yang sebaiknya tidak berlebihan tapi cukup sebagai ekspresi sukacita. “Kalau Paskah lain temanya, Advent, apalagi Natal. Juga untuk ibadah perkawinan atau kematian,” kuliahnya. Kusergah dia, “Tumben kau semangat sama bunga dalam ruangan, asal jangan kau ganti sama yang plastik,” dan dijawabnya, “Ya ampun, pikiran setanmu itu keluar lagi. Ini bunga untuk sukacita bersama Tuhan.” Sebelum kalah lebih telak, kucoba menyeimbangkan, “Kalau kau perlu gunting tanaman, kasih tahu. Aku punya kunci ke gudang di rumah Tuhan.” Dia diam membatu.
0-2
Waktupun berjalan kembali seperti biasa di rumah kami yang kecil, kampung yang kecil, dan gereja yang kecil tapi berhalaman luas, sambil mencari-cari peluang kemenangan. Empat bulan berlalu, setelah tambahan rota tiga kali motong rumput dan empat kali rota merangkai bunga, istriku pulang pada satu Sabtu senja. Begitu membuka pintu, dia berteriak memanggilku, yang jelas tak perlu karena aku cuma duduk tenang membaca tak bersuara di rumah yang kecil. Diangkatnya kunci dengan gantungan salib, digoyang-goyangkannya beberapa kali di udara dan mengingatkan dengan suara tajam, “Ini kunci ke dalam rumah Tuhan. Jangan tersentuh sama tangan kotormu” dan memasukkan kunci itu ke tas tangannya, menutup retsletingnya, jadi bukan menaruh ke mangkuk tumpukan kunci, seperti biasanya. Hanya empat kali merangkai bunga, dia sudah bisa meyakinkan istri pendeta untuk dapat pintu gereja. Giliranku yang diam membatu, mengaku kalah 0-2, karena tiga hari sebelumnya dia temukan karcis togel jatuh dari kantongku. Karcis togel itu berangka 8627. Tak menang pula.
***
Liston P Siregar, editor ceritanet.com dan perenang amatir.