Mereka menamainya angin kematian, yang berembus di antara batas musim kemarau dan musim penghujan. Angin yang tidaklah membunuh manusia namun ketika berembus, melenyapkan sumber-sumber kehidupan manusia. Datangnya angin kematian selalu diawali langit yang menggelap, guntur bersahut-sahutan, kilat menyambar-nyambar, diiringi hujan yang turun menderas. Setelah semua mereda, barulah ia akan berembus. 

Embusan yang lembut, namun meninggalkan bekas yang amat menduka. Dalam sehari semalam, segala kebutuhan makanan akan melenyap. Keesokan harinya—setelah ia pergi— sumber makanan baru bisa ditanami kembali.

Sepekan lagi angin kematian akan datang. Semua penduduk sudah berpasrah melalui hari-hari dengan suram. Tidak ada semangat. Yang sudah diperjuangkan selama setahun lalu tidak akan berarti, karena angin kematian akan melenyapkan segalanya. Termasuk sumber air di dusun.

Banyak pemuda yang meninggalkan dusun karena tak tahan dengan penderitaan itu. Mengadu nasib ke negeri orang. Jika bertahan di dusun dengan angin kematian yang datang setahun sekali, sama saja menyia-nyiakan perjuangan setahun sebelumnya. Kata mereka yang pergi, hidup tak akan berkembang jika hanya bertahan dengan siklus angin kematian, yang berulang setahun sekali. 

Segala tanaman, pohon-pohon, kebun, akan mati ketika angin kematian datang. Bebungaan layu, bahkan rerumputan pun hanya meninggalkan jejak hitam, seperti tak pernah tumbuh di sana. Bukan hanya itu, segala macam makanan yang disimpan akan membusuk. Buah-buahan, beras, dan gabah yang disimpan rapi di dalam lumbung, semuanya juga akan membusuk. Setelah angin kematian datang, makanan-makanan yang tersimpan tidak akan bisa dimakan lagi.
***

Mereka sudah melakukan segala cara untuk mencegah angin kematian datang, juga tentang menyimpan makanan. Namun segalanya  sia-sia. Seolah angin kematian ditakdirkan untuk memenangkan pertarungan melawan penduduk dusun.

Mereka pernah mendatangkan para kiai, para pemuka gereja, biksu, dan ahli agama lain. Menurut para sesepuh, para penduduk sudah mulai melupakan Tuhan. Saatnya kembali kepada-Nya, siapa tahu belas kasih-Nya bisa menghilangkan takdir yang seperti kutukan.

Mereka melakukan selamatan, sedekah, memohon kepada Tuhan supaya angin kematian tidak datang lagi. Apalagi ketika panen hasil bumi melimpah ruah. Tanaman padi menghasilkan biji yang sempurna, utuh, tak memiliki cacat sedikit pun. Pohon mangga, sirsak, belimbing, jagung, kelapa, dan berbagai macam hasil bumi berlimpah. Tanaman-tanaman berbunga semerbak menebarkan wewangian ke segala penjuru dusun. 

Anak-anak bersorak-sorai kegirangan, bermain layang-layang di pinggiran sawah, berlarian di tengah capung-capung yang berterbaran, seperti miniatur helikopter yang kecil-kecil. Kupu-kupu dengan berbagai macam warna ikut memeriahkan suasana yang teramat membahagiakan. Penduduk-penduduk dari kampung tetangga diundang datang ke dusun untuk syukuran. Amat disayangkan jika angin kematian membunuh semuanya, melenyapkan panen yang berlimpah-limpah.
***.

Angin kematian hendak datang.

Langit menggemuruh, mega hitam mengepung dusun. Gelegar petir seolah nyanyian kebisuan yang akan membinasakan semua. Kilatan-kilatan cahayanya seperti menyatakan bahwa batas kematian sudah di depan mata. Semua penduduk dusun—meski di dalam rumah masing-masing—diliputi rasa takut luar biasa. Bayi-bayi merengek, menangis. Sementara para istri berpelukan dengan anak di atas balai, para suami mengintip ke luar, berharap-harap cemas, apakah angin kematian tetap membunuh semuanya setelah persembahan kepada Tuhan. Mereka berharap Tuhan akan mengabulkan permohonan, supaya angin kematian tidak melenyapkan segala sumber penghidupan.

Saat yang ditunggu penduduk dusun tiba. Angin kematian datang. Ia membuat bulu kuduk berdiri, degup jantung seperti berpacu melawan kecepatan takdir. Mereka memandangi angin yang dirasa namun tiada berwujud. Mereka tahu, batas embusan angin kematian yang terakhir. Setelah semua mereda, mereka keluar rumah. Ke ladang, ke sumur, dan ke kebun untuk memastikan bahwa persembahan mereka diterima Tuhan.

Tapi semua pulang dengan wajah tertunduk. Marah, dendam, dan benci. Persembahan kepada Tuhan pun terasa percuma.
***

Keesokan harinya dusun ramai. Terjadi perdebatan yang sangat sengit, antara penduduk dusun itu dengan penduduk dusun lain. Hampir saja saling bunuh, untungnya salah seorang sesepuh mampu melerai dan mendamaikan.

Penduduk dusun lain merasa ditipu, karena semua yang dibeli membusuk. Penduduk dusun itu membela diri, adalah sebuah pantangan menjual hasil panen yang telah busuk. Penduduk dusun itu menuduh semua yang buruk bukan hasil bumi mereka. Tetapi hasil panen dusun yang lain lagi. Adu mulut terjadi dan kakek sesepuh datang dengan tertatih menenangkan.

Pagi yang teduh, kakek mengajak semua duduk bersila di bawah pohon tertua di  dusun itu. Daun-daunnya lebat, ranting-rantingnya kuat. Semakin tua bukan semakin ringkih, tetapi sebaliknya sangat kuat. Pohon itulah satu-satunya yang tidak tumbang oleh angin kematian. Ia adalah sang pelawan takdir.

Kakek bercerita tentang angin kematian. Angin yang membunuh segala sumber kehidupan di dusun. Namun siapa sangka, angin kematian juga akan melenyapkan hasil panen yang dijual ke tempat lain. Penduduk dusun mengira hasil bumi yang melenyap, yang sirna, hanya yang menjadi sumber kehidupan di dusun. Tetapi jika angin kematian sudah bertiup maka semua hasil bumi dari dusun yang dibawa jauh sekali pun, juga akan mengalami kematian.

Para penduduk dusun lain berkeliling. Melihat ladang, pekebunan, sumur-sumur. Apakah benar apa yang sudah diceritakan sang kakek?

Satu per satu  mendapati kebenaran dalam perkataan sang kakek. Mereka bertemu penduduk yang tidak ikut berkumpul di bawah pohon besar. Terlihat lemas dan menarik-narik badan penduduk dusun lain meminta minum. Semenjak angin kematian berembus kemarin, mereka belum minum, perut mereka belum terisi. Angin kematian menderitakan mereka seluruhnya.***

Pohon satu-satunya yang masih hidup hanya mampu meneduhi, tapi tak mampu memberi makanan. Daunnya amatlah pahit, membuat lidah tercekat, dan yang memakan daun-daunnya akan diserang haus yang luar biasa. Hewan saja tak mau memakan dedaunan pohon. Konon, pohon itu sudah berdiri bahkan sebelum angin kematian datang setiap tahunnya.

Di hari itu, para penduduk dusun diterpa takdir yang amat memiriskan jiwa. Mereka berhasil mendapatkan keping-keping logam untuk belanja, dari penjualan hasil bumi. Tetapi di hari itu, mereka tak bisa membelanjakan apa pun. Mereka yang memiliki pedati, tak akan mampu menggerakkan kuda-kuda, karena para kuda juga belum makan, dan belum mendapati air. Sehari setelah angin kematian berembus, kehidupan dusun lumpuh total. 
***

Sepekan lagi, keadaan akan lumpuh kembali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap angin kematian datang.

Kakek memandang senja, ia teringat usianya yang sebentar lagi akan dijemput kematian. Kakek selalu mengatakan bahwa negeri mereka dikutuk. Namun tak seorangpun percaya apa yang sudah diujarkan kakek. 

Kakek hanya mengingat pesan para pendahulu, para pendiri dusun.

“Aku membawa bibit ini dari negeri yang kunamai negeri surga. Barang siapa memanen dari yang kutanam ini, makanlah secukupnya, ambillah secukupnya, simpanlah secukupnya. Dan ini tidak boleh dijual, jika ada yang meminta, berikanlah, meskipun mereka berniat membelinya. Jika kita menjual untuk memperkaya diri, negeri ini akan terkena kutukan.”

Berbagai bibit ditanam, dan dusun  menjadi paling maju, sempat pada masanya. 

Setelah beberapa generasi, keserakahan merambati hati. Beberapa penduduk bersepakat menjual hasil panen ke dusun-dusun lain. Keesokan harinya, angin kematian datang begitu saja. Melenyapkan segala kehidupan mereka. 

Hari itu sebuah awal, dan angin kematian datang setiap tahun, di batas antara musim kemarau dan penghujan.
***
Ciputat, 1 Januari 2018

Rumadi, lahir dan tinggal di Pati. Menulis cerpen. Saat ini aktif di komunitas Prosatujuh. Cerpennya pernah dimuat harian Republika, detik.com, kompas.id, dan cendananews.com. IG @pendekar_hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *