Pada satu Minggu siang, saya dan istri menelusuri jalan raya kampung di sepanjang pantai Selatan Pulau Inggris. Kawasan garis pantai itu -Hythe, Dymchurch, New Romney, Dungeness- tidak masuk dalam tujuan wisata nasional Inggris, karena tidak indah-indah banget dan fasilitasnya terbatas. Walau sempat berperan penting dalam perang melawan Nazi Jerman pada PD II, tidak ada hiburan yang meriah di kawasan pantai, juga tidak ada restoran mewah, maupun kapal-kapal pesiar.

Yang ada cuma pantai berkerikil, daratan semak, dan laut lepas yang memisahkan Inggris dan Perancis. Kawasan yang cocok untuk orang yang tak mau repot-repot untuk menikmati angin laut yang segar. Cukup nyetir santai satu jaman dan sampailah di kawasan pantai yang sepi. Buat saya dan istri, yang tergolong paruh baya, amat cocok karena tidak akan terganggu hingar bingar musik atau gemah ripah keriangan orang.

Saat menelusuri jalanan, terbaca pengumuman kecil di pinggir jalan: ’Pasar New Romney buka hari ini.’ Istri langsung bersemangat, membayangkan pasar kampung yang romantis dengan dagangan sayur dan buah hasil panen halaman rumah, telor ayam kampung liar, roti segar non-industrial atau kue-kue manis buatan rumah tangga. Persis seperti orang jualan hasil tani dan ternak di pinggir jalan di kampung-kampung di Indonesia. Kamipun mengarah ke sana dengan semangat romantisme.

Ternyata amat jauh dari bayangan awal. Pasar itu seperti membawa kita mundur ke suatu masa dulu, ketika belum ada pasar raya apalagi belanja online. Seperti pasar kaget yang kecil di atas dasar beton, mungkin bekas tempat parkir atau mungkin bangunan yang sudah runtuh. Jualannya macam-macam, tapi jelas tak ada buah atau sayur segar, seperti yang awalnya dibayangkan, walau memang ada roti buatan rumah serta permen manis yang, saya yakin, bahan terbanyaknya adalah adalah gula dan zat pewarna.

Selebihnya adalah kebutuhan rumah sehari-hari, seperti kertas toilet, bohlam, sikat, lem kayu, peniti, baju, sepatu, beragam mainan anak, juga jajanan sosis, donat, dan es krim. Di salah satu pojok ada pula hiasan patung batu, dengan iklan kecil ‘hanya hari ini jualan di sini’. Tak banyak orang di pasar kaget itu.
Saya duga para pembeli adalah orang-orang seperti kami, yang numpang lewat mau jalan-jalan ke pantai dan mungkin juga awalnya berbekal romantisme pasar kampung yang sama dengan di benak kami pula.

Syukurnya kami berdua tetap menikmati pasar kaget di kampung Inggris. Istri sibuk mengamati pajangan ragam barang dagangan sedang saya mengeluarkan kamera. Saya jelas bukan seorang fotografer tapi sebagai tukang catat bergambar tentang masih adanya pasar kaget berputar pada hari tertentu di tempat tertentu, ketika pasar raya ditemukan di mana-mana dan belanja online makin membiasa.
Dan terpikir juga untuk berbagi beberapa foto, yang tidak indah karena memang merupakan catatan-catatan berbentuk gambar.










***
Liston P Siregar, editor ceritanet.com