Meski sudah pernah dilarang oleh Bibi Naka untuk tidak mendekati apa pun tanpa izinnya, Sinami tetap saja penasaran dengan embun yang selalu keluar dari dalam gua yang terletak di timur Sungai Batang Hari, dekat tempat tinggalnya. Dan pada saat Bibi Naka pergi untuk sebuah panggilan ke Istana Kaca yang berjarak membelah dua sungai, Sinami pikir inilah waktu yang tepat untuk membayar apa yang membuat ia penasaran.

Setelah memastikan Bibi Naka berperahu dan hilang dari matanya dapat memandang, Sinami pun bergegas menuju gua, dan seperti biasa Sinami tidak pernah berpikir untuk bertindak, ia langsung masuk dan terpana dan takjub begitu melihat seorang peri yang sendiri, seperti telah lama meunggu kehadiran Sinami.

“Aku selalu yakin, kedatanganmu menemuiku pasti akan terjadi,” kata sang peri.

Sinami yang bingung, hanya bisa diam sambil mendengar peri berkata, bahwa jika pertemuan ini telah terjadi, berarti tidak lama lagi Sinami akan menjadi seorang ratu pilihan pangeran di Istana Kaca. Sebelum Sinami menyanggah peri dengan pertanyaan yang macam-macam, peri telah lebih dulu meminta Sinami untuk membawakannya selembar daun durian. Entah karena percaya atau karena suara peri seperti menghipnotis, Sinami digerakkan oleh sesuatu untuk bergegas keluar dari gua. Melihat pohon durian. Memanjat. Memetik. Dan bergegas kembali menuju gua dengan selembar daun durian di tangan.

Ketika peri menyentuh daun durian untuk ditempelkan pada punggungnya, daun itu berubah menjadi sayap dan sang peri langsung dapat terbang. Sinami yang sungguh-sungguh tidak bisa berkata apa-apa, melihat keajaiban tubuh peri bercahaya warna-warni lalu hilang seolah tertelan dan kabut cahaya menjelma sebuah cermin yang langsung diketahui oleh Sinami: di dalam cermin itu terdapat tubuh yang bisa dilihat namun tak bisa disentuh. Satu-satunya hal yang membuat Sinami sejenak terlempar pada sesuatu yang lain daripada cermin itu, adalah suara peri yang berbisik padanya bahwa cermin itu yang akan membuat Sinami kelak bisa datang ke Istana Kaca dengan layak.

Apa yang buruk dari pemberian itu, barulah Sinami sadari bila sosok di dalam cermin yang mirip dengan dirinya dalam versi yang jelek—kelak Sinami akan memanggilnya sebagai Sanami Malang—tidak dapat menjawab apa yang ia tanya. Hampir seharian Sinami menghabiskan waktu untuk berusaha memahami Sanami Malang yang selalu meniru-nirunya berpindah posisi, membelai rambut, memelet dan tak ada hasil yang memuaskan, sebab Sanami di cermin tetap meniru Sinami.

“Peri pembohong!” ketus Sinami. “Bagaimana cermin dan sosok buruk rupa di dalam sana bisa mengantarku ke Istana Kaca dengan layak? Lagi pula, apa kepentinganku untuk datang ke sana!”
***

Walau pun Sinami hanya tinggal serumah berdua dengan Bibi Naka di dalam hutan, ia tidak pernah berkata tentang cermin dan Sanami yang ada di dalamnya. Sikap Sinami yang demikian bukan tanpa sebab. Ia tahu persis, Bibi Naka seorang perempuan tegas dalam apa yang telah ia katakan. Memberi tahu apa yang ditemukan, apa lagi menentang apa yang pernah ia pesankan akan membuatnya marah dan murka. 

Dan begitulah, Sinami diam dan selalu datang ke gua untuk mengejek Sanami Malang yang ia tahu peris bahwa hidupnya kesepian. Ia juga selalu mendesak Sanami Malang tentang ucapan peri untuk dirinya, yang akan menjadi ratu di Istana Kaca, meski Sinami tahu, Sanami Malang tak akan pernah tahu jawabannya.

“Kau bukan hanya wanita terjelek yang pernah kutemui. Selain tidak bisa menjawab kau hanya bisa meniru, berlindung pada apa yang dilakukan orang lain. Oh. Pantaslah kau hidup di sana dan jangan pernah mengusik hidupku lagi!” ketus Sinami dengan janji untuk tidak pernah menemui Sanami Malang lagi.
***

Pada suatu hari ketika Sinami tak pernah kembali melihat Sanami Malang, Bibi Naka yang ternyata telah menghitung hari untuk waktu yang tepat, memberi surat undangan kepada Sinami untuk pesta di Istana Kaca. Sinami senang tidak terpikirkan. “Undangan ini ditulis langsung oleh Pangeran untuk dirimu.” Ditambah pula Bibi Naka mengatakan, bahwa kumbang tidak pernah melupakan bunga. 

Sejenak Sinami termenung memikirkan apa yang pantas ia kenakan untuk bertemu pangeran. Seolah mendapat jawaban setelah memerhatikan mata Bibi Naka, Sinami tersenyum riang, ia menciumi Bibi Naka yang telah memberikannya sebuah gaun mewah.

Pada hari ketika Sinami siap datang ke pesta undangan dari Pangeran, Bibi Naka tak bisa mengantarkan karena undangan khusus bagi wanita muda saja. Sinami yang berangkat sendirian terpikir untuk mampir bertemu Sanami Malang, sekadar ingin mengejek nasib kehidupannya yang selama ini kesepian. Setiba Sinami di sana, ia langsung marah dan kesal dan tidak percaya ketika melihat Sanami diam-diam juga telah berdandan seperti dirinya.

“Kau terlihat bodoh dengan penampilan yang menyama-nyamakan aku!” Sinami marah. Ia merasa pantas untuk berteriak dengan maksud membuat Sanami Malang merasa malu, bahwa sia-sia lah apa yang sudah dilakukan untuk berdandan serupa seperti dirinya. Sinami juga meneriakkan Sanami Malang dengan tawa yang sangat menghina, bahwa jikapun Sanami Malang datang ke pesta secara diam-diam, pangeran akan dengan mudah mengetahui bahwa ia palsu dan segera memeluk lalu mencium Sinami di depan Sanami Malang.

Namun, bukan merasa malu atau pun terhina, Sanami Malang dengan tanpa penyesalan ikut menertawakan Sinami. Timbul kebencian ketika Sinami menatap tajam Sanami Malang lalu terbayang olehnya usaha pangeran yang telah menulis surat untuk dirinya agar datang ke pesta. Ia menyemprot Sanami di cermin dengan kata-kata kasar, “Kau tidak diundang, Sanami Malang. Jangan pernah bermimpi! Kalau pun kau bermimpi dan tetap keras kepala untuk meniruku dan datang ke pesta dan merebut Pangeranku. Aku akan gagalkan apa pun yang telah kau rencanakan!”

Dengan sebuah batu ukuran sekepal tangan, Sinami melempar Sanami Malang yang langsung hancur berantakan saat itu juga. Sinami puas. 

Begitu bergegas dan hampir sampai di Istana Kaca pangeran, betapa takjub Sinami ketika melihat bangunan besar itu dari jauh. Ia mendekat dan melihat ke sekeliling, bangunan ini seperti terbuat dari air yang tembus pandang, batin Sinami. Ketika melangkah masuk, Sinami melihat pangeran berdiri dengan pangeran lain—yang sangat mirip—di belakangnya. Begitu juga dengan tamu wanita yang berdiri di belakang wanita lain. Setiap wanita masing-masing ada dua. Sinami sempat bingung, namun ketika pangeran melihatnya lalu bergeser untuk mendekat, Sinami terkejut, ternyata Sanami Malang telah lebih dulu sampai dan bersolek seperti dirinya.

Dan Sanami Malang sama terkejutnya ketika matanya menatap Sinami.
***

Beri Hanna penulis lahir di Bangko. Sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, dan tim artistik bersama Tilik Sarira. Memenangi Sayembara Novel Renjana, 2021. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Bukunya akan terbit, ‘Menukam Tambo’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *