Ia tiba di kota jauh bersama ceruk hatinya yang tak lagi cukup menampung luka. Tetapi, ia tahu kota jauh sedianya menampung luka semua orang.

1
Setumpuk luka mengantarnya ke kota jauh, kota penuh luka yang tak pernah hendak ia kunjungi. Kendati menolak, luka hatinya lebih berdaya memaksanya kekota jauh.

Delapan jam lalu, ia mengemas beberapa potong pakaian ke dalam ransel, menghentikan becak bermotor menuju terminal, dan menumpang bus yang membawanya ke kota jauh. Sehari sebelumnya, ia bertengkar hebat setelah memergoki suaminya menindih seorang janda di ranjang mereka untuk kedua kalinya, yang membuat hatinya tak lagi cukup menampung luka.

“Apa kau juga mengumbar janji pada perempuan itu?”

Suaranya tidak meninggi saat mengatakannya. Ia sadar bahwa ia tak butuh jawaban atas pertanyaan bodoh macam itu. Ia juga tak perlu betul bertanya begitu. Perempuan mana yang mau mengangkang tanpa imbalan atau ikatan? Ia dan orang-orang di kampung mengenal janda itu bukan seorang pekerja yang mendapat bayaran dari setiap pelanggan yang menginginkan seks. Akan tetapi, ketika pertengkaran terjadi, ia menyebut janda itu lonte.

Walau tidak menyesalkan umpatannya, ia tahu sudah keterlaluan dengan menyerukan ‘lonte!’ kepada perempuan yang gelagapan di ranjang mereka. Pengalaman hidupnya memampukan ia mereka-reka yang barangkali telah terjadi antara suaminya dan janda itu. Tentulah itu tidak berbeda jauh dari yang menimpanya, kenangnya.

Suatu malam, sembilan bulan lalu, Pantas Palangki merayunya untuk menanggal pakaian. Itu rayuan ke-24, yang terdengar sendu dengan wajah perayu yang lebih memelas ketimbang rayuan-rayuan sebelumnya; yang pertama terjadi tiga pekan setelah ia menerima cinta Pantas Palangki. Ia tidak mengucapkan apa-apa untuk rayuan itu, juga tidak menampik tangan Pantas Palangki yang membuka kancing baju, menanggalkan pengait beha, dan melucuti celana dalamnya.

Hal-hal seronok terjadi di sisa malam, kendati ia merasa perih di bagian kelangkangnya yang berdarah. Setelah malam itu, Pantas Palangki tetap merayunya. 

Sebagaimana yang terjadi pada dirinya, ia yakin janda itu telah termakan bujuk rayu Pantas Palangki. Ia mengira Pantas Palangki dan janda itu sebentar lagi akan menikah atau mungkin juga mereka tak akan pernah menikah tetapi sekadar menikmati perkakas satu sama lain. Apapun, luka hatinya telah begitu parah sehingga minggat, pikirnya, merupakan jalan terbaik.

2
Kemarau panjang jadi berkah bagi penjual es cendol, tetangga dua rumah ke sebelah kanan dari rumah Singkap Sambola di kampung. Namun keluarga Singkap Sambola adalah petani dengan lahan sempit dan tidak sekali-kali dalam benak seorang pun dari mereka beralih profesi menjadi pedagang es, misalnya, kendati kemarau panjang kali ini memberi tanda-tanda bahwa tanaman di lahan yang mereka kelola tak akan mampu menopang hidup hingga musim panen berikutnya tiba. 

Singkap dan istrinya, Rimbun Rumondang, masih pergi ke ladang walau di sana tidak lagi banyak harapan. Sedangkan Gemintang Gurgur, anak satu-satunya pasangan Singkap dan Rimbun, akan jadi gunjingan bila didapati mencari uang atau mengumpulkan sesuatu yang bisa dijual: ia dan anak sekolah lainnya di kampung diharapkan banyak belajar dan sedikit keluyuran, bukan mencari uang.

Sementara keluarga Rimba Mabarbar, tetangga tepat di kiri rumah Singkap Sambola, tengah berupaya mencari pemasukan dari pekerjaan lain. Istri Rimba Mabarbar telah menemui keluarga Hasudungan Tumagon, tetangga sekitar sepelemparan batu dari rumah keluarga Singkap Sambola, untuk memastikan apakah boleh mencuci dan menyetrika pakaian. Keluarga Hasudungan Tumagon, menurut semua warga kampung, pastilah mampu membayar seorang pekerja rumah tangga. Hasudungan Tumagon adalah guru SMP di kampung sebelah, sedangkan istrinya merupakan satu-satunya bidan di kampung mereka

Dari keluarga Hasudungan Tumagon muncul harapan bagi keluarga Rimba Mabarbar untuk memperoleh penghasilan ketika Rimba belum memutuskan akankah pergi ke kota jauh dan bekerja di sana atau tetap menggarap ladang yang disiksa kekeringan.

“Tak ada lagi yang bisa diambil dari ladang, Lae*. Tanaman sudah layu. Padahal, beras tinggal sedikit. Bahkan untuk membeli ikan asin sekalipun, tak ada lagi uang.” Setelah mengucapkan itu, Rimba menjentikkan rokok. “Untunglah, Mak Ringkot jadi cuci-gosok di rumah Mak Torang.” Rimba menyatakan istrinya mulai bekerja di rumah keluarga Hasudungan Tumagon.

“Apalah kerja kita, Lae?” tanya Singkap.
“Entahlah.”

Sebelum menyesap kopi pahit yang tadi ia seduh di belakang, Rimba meneruskan: “Mungkin aku akan pergi ke kota dan cari kerja di sana. Atau, ayo kita pergi saja.”

Ajakan itu tidak langsung mendapat kepastian, tetapi jelas bersipongang dalam kepala Singkap sampai-sampai ia memikirkannya panjang.

Matahari mulai menanjak ke atas rumah ketika Singkap bangun dari tidur singkat. Ia sudah mantap mengutarakan yang telah dicerna semalam suntuk. Itulah yang dilakukannya sekarang. Ia belum membasuh muka dan mulutnya masih berbau tak sedap saat mengumumkan kepada istrinya bahwa ia bersama Rimba akan pergi ke kota jauh untuk bekerja. Istrinya tidak setuju, tetapi kecemasan mau-makan-apa merontokkan kecemasan yang lain. 

Di kota jauh barangkali ia jadi buruh bangunan atau melangsir barang atau apa saja yang menghasilkan uang, katanya. Ia pun berjanji segera mengirimkan uang.

Singkap dan Rimba berangkat pada waktunya dan segalanya berjalan baik di kota jauh: menjadi kuli bangunan dan mengirim uang ke keluarga masing-masing.

Akan tetapi, tidak ada kiriman sejak bulan kelima.

Hingga pada bulan kesembilan, ambulans membawa Rimba dan Singkap pulang ke kampung. Sehari sebelum kepulangan, di kamar sempit sewaan di kota jauh, sembari menangis Rimba melepaskan tali yang menjerat leher Singkap.

Tiba di kampung, Rimba memeluk dan dipeluk kuat istrinya namun istri Singkap melolong setelah beberapa saat membeluntang dan mencoba tidak percaya pada kematian suaminya.

3
Gemintang Gurgur merasa sebatang kara saat berkunjung ke rumah yang setelah menikah ditinggalkannya, namun tidak menemukan mamak**nya, Rimbun Rumondang, di sana. Seorang tetangga menerangkan mamaknya pergi ke kota jauh. Gemintang kesal belaka.

Ia teringat kesusahan hati yang dipaparkan mamaknya dalam beberapa kunjungan setelah duka mereka. Keluarga bapaknya meminta—dan perlahan menjadi paksaan—agar mamaknya berhenti mengelola ladang. Tanah itu warisan keluarga besar bapaknya, bukan ditebus dengan keringat bapaknya dan tak boleh beralih ke marga lain. Ladang itu, kata keluarga bapaknya, harus dikembalikan sebab bapaknya mati hanya meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan, tanpa anak laki-laki. 

Gemintang Gugur sadar perempuan sepertinya dan seperti mamaknya tak pantas berpijak di tanah waris.

Maka mamaknya pun pergi ke kota jauh.

Hati Gemintang kian perih: mamaknya pergi ke kota jauh tempat bapaknya gantung diri, tanpa memberitahunya. 

Sudahlah, desahnya, tentu mamak pergi membawa luka ke kota jauh, meninggalkan luka bagi dirinya bahwa ia kini memang sebatang kara.

4
Setelah bertengkar dengan Pantas Palangki, Gemintang Gurgur tiba di kota jauh bersama ceruk hatinya yang tak lagi cukup menampung luka. Sebab, ia paham, kota jauh adalah wahana bagi luka-luka.
***

* Lae = panggilan sesama laki-laki sebaya di kalangan orang Batak
** Mamak = Ibu

Jasman Simanjuntak, lahir di Sibolga, Sumatera Utara, dan sekarang bermukim di Tangerang. Dapat dihubungi di jasmansimanjuntak@gmail.com atau Instagram @jasman_simanjuntak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *