“Janganlah kau sembarang berjanji, jika tidak ingin seperti aku.”

Di negeri salju ini, aku selalu terkenang mereka. Tidak pernah terhapus waktu walaupun salju perlahan mencair, terinjak-injak kaki manusia.

Diantara batang-batang pohon cemara, terselip tawa anak-anak yang bermain. Sebentar lagi natal tiba, namun aku tidak ada persiapan sama sekali. Riuh anak-anak yang bermain bola salju, semakin menyelipkan segala kenangan. Hati ini bergetar. Aku tak mau mengulangnya, tapi juga tak mampu menepisnya.

Tiga tahun lalu, aku pindah ke negeri salju ini. Mestinya kuhabiskan hari-hariku dengan seragam putih abu di Indonesia. Namun semenjak cerai dengan Ibu, Bapak menerbangkanku ke rumah nenek di kampung halamannya, Finlandia. Belasan ribu kilometer di utara bumi, menjauh dari garis khatulistiwa yang hangat.

Tiga tahun lalu, aku sebenarnya tak mau pergi tapi tak mampu menolak.

Tiga tahun lalu itu pula, aku berkenalan dengan Eeva yang mungil, Cristiana yang cerewet, Max yang gesit dan Taavi yang selalu bertopi. Kami berlima menjadi sahabat yang baik, berkelompok dengan nama The Death atau Kematian. Kami ambil nama itu dari judul film yang kami tonton, nikmati, dan terteror bersama.

“Tik tik tik…” Suara keyboard komputer memecah kembali lamunanku. Kulihat jam masih menjelang sore namun musim dingin membawa gelap yang datang lebih cepat. Suara anak-anak tinggal sayup-sayup sebelum membisu di balik gelapnya langit musim dingin.

Hawa masih terasa dingin dan lembab. Menerobos jendela kayu, menyelinap di antara hangat perapian, yang sudah dinyalakan Nenek.

Kulirik sekilas bingkisan kado natal di sampingku. Terlalu cepat, natal masih lima hari lagi. Secarik kertas mengantar bingkisan itu. Kertas coklat terang bertinta merah gelap.

“Kita tidak akan membiarkanmu sendirian. Ayo pergi dengan kami! Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama?” – The Death

Tapi tanganku gemetar, tidak bisa menyembunyikan rasa takut. Cemas dan gelisah. Entah apa yang akan terjadi padaku. Kualihkan pandangan ke pohon-pohon cemara yang tumbuh diantara tanah putih bersalju. Pikiran ini, kembali bermain-main ke masa lalu.

Tiga tahun lalu…

Musim panas itu. Aku berjalan pelan. Es krim coklat sudah semenit lalu kuhabiskan. Aku tinggal menyeberang jalan raya perkotaan yang padat. Kemudian naik kereta untuk sampai ke rumah nenek, di kota kecil yang ditutupi cemara.

Aku suka kota ini. Penyeberang jalan dan pengendara mobil tertib diatur rambu-rambu lalu lintas. Padat tapi kita tidak kesulitan menyeberang. Lampu hijau tanda penyeberang hampir berakhir, berganti kuning. Aku berusaha berlari agar tidak tertinggal.

Kudengar teriakan banyak orang dan kulihat bus kota meluncur ke arahku. Detik itu pula kupasrahkan nasibku: Tuhan, jika saat ini aku harus mati, maka aku sudah siap…” Namun tiba-tiba aku merasa didorong keras hingga tubuhku membentur jalan.

Aku membuka mata. Max menyelamatkanku! Mendorong keras dan cepat ke tepi jalan. Tapi Max tak sempat menghindar. Begitu cepat. Yang kutahu hanyalah “Max ditabrak mati ketika menyelamatkanku.”

Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, minggu demi minggu, aku terperangkap dalam sebuah penyesalan. Lampu kuning itu, teriakan itu, dorongan itu, dan seolah sosok Max selalu mengikuti. Ketika tidur maupun ketika bangun. Nenek minta Bapak membawaku pulang ke Indonesia.

Tak kulihat lagi Eeva, Cristiana, dan Taavi. Sedang Max masih sering terlihat melintas di kedua bola mataku, sampai tiga tahun kemudian, ketika aku kembali ke Finlandia. Bapak mendesakku melanjutkan kuliah sambil menemani Nenek yang semakin tua.

Aku sebenarnya tak mau tapi tetap tak mampu menolak.
Sebulan berlalu, aku kuatkan diriku menuju rumah Taavi. Aku tak mau mengulang masa lalu tapi masa lalu itu terus memanggil.

Ternyata Taavi sudah meninggal. Tubuhnya tak kuat melawan kanker ganas yang menggerogotinya. Topi yang selalu ia kenakan dulu ialah untuk menutupi kepala botaknya akibat kemoterapi, yang tak mampu menolongnya.

“Taavi suka menggambar. Terakhir dia menggambar ini.” adik Taavi menyerahkan coretan gambar kami berlima: Eeva, Cristiana, Max, Taavi, dan aku, dengan tulisan The Death bertinta kecoklatan. Aku tahu warna coklat itu bukan tinta, melainkan darah yang telah mengering.

Kulanjutkan ke rumah Eeva. Kembali dikejutkan bahwa keluarga Eeva sudah tidak tinggal di sana. Rumah yang lama hangus terbakar, bersama seluruh penghuninya.“ Yang tersisa hanya ini,” kata wanita paruh baya yang menempati rumah baru di tanah lama sambil menyerahkan sebuah kotak musik tua.

Lagu Merry Christmas mengalun pelan saat kotak dibuka. Aku ingat kotak musik itu akan dihadiahkan Eeva untuk Max saat ulang tahunnya. Hanya saja tidak sempat diberikan karena: “Max ditabrak mati ketika menyelamatkanku”

Kubawa pergi kotak musik itu. Akan kuberikan kepada Max di makamnya saat natal nanti.

Dengan sisa-sisa ketegaran, aku ke rumah Cristiana.

Ibu Cristiana membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. “Semenjak Max, Taavi dan Eeva meninggal, Cristiana tidak mau keluar rumah dan sering berteriak tidak jelas.” Raut wajah ibu Cristiana tampak sedih.

Aku membisu. Kuminta bertemu Cristiana, berharap mungkin setelah melihatku ia akan merasa lebih baik.

“Dia sudah pergi,” jawab ibunya. “Melompat dari bus tingkat ke jalan raya, tempat Max ditabrak mati menyelamatkanmu.”

Aku menangis. Tanganku gemetar. Kotak musik di tangan terjatuh. Membuka dan mengalunkan lagu Merry Cristmas dengan lembut. Mengiringi kepergian sahabat-sahabatku.

Tiga tahun lalu, kami memilih The Death sambil berjanji setelah menggigit ibu jari masing-masing dan menyatukan tetes darah. Dalam janji darah itu, kami berjanji untuk bersahabat selamanya, sampai kapanpun. Tidak akan pernah meninggalkan dan ditinggalkan.

“Tik tok tik tok….” Dentang jam membuyarkan kenanganku. Jariku seakan membeku.

Kuraih bingkisan natal, yang masih lima hari mendatang. Kubaca lagi tulisan pengantar bingkisan. Entah dikirim oleh siapa.

“Kita tidak akan membiarkanmu sendirian. Ayo pergi dengan kami! Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama?” –The Death.

Dentingan lagu Merry Cristmas kembali mengalun lembut. Bulu kudukku merinding. Kulirik empat sosok yang kukenal mengintip sambil tersenyum dari balik jendela.

Aku tak mau ingat sumpah itu, tapi apakah aku bisa memungkirinya.
***

Ni Wayan Wijayanti, lahir di kota seni Gianyar-Bali pada 30 April. Menulis cerpen adalah hobinya sejak masih anak-anak. Saat ini aktif sebagai Online Sales and Marketing disalah satu penginapan yang berlokasi di wilayah Ubud-Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *