Gadis itu bernama Kimi, datang ke panti sosial diantar Marko, ayahnya.

Tubuh Kimi sedikit gemuk tapi tetap terlihat menarik dengan baju terusan berwarna krem berhiaskan kembang-kembang kecil biru merah. Cocok dengan kulitnya yang bersih putih susu. Wajah Kimi tampak bersinar dan kerap tersenyum. Kadang ia melihat ayahnya dengan pandangan yang sama seperti pandangan banyak anak pada ayahnya. 

Menjelang tengah hari itu, Moya, sebagai kepala panti menyambut mereka dengan senyum menawan. Moya yakin setiap orang yang datang ke panti pasti punya sesuatu yang tidak baik-baik saja walau berupaya untuk tampak baik-baik saja, seperti Kimi dan Marko. Tapi Moya harus tersenyum agar panti yang ia kelola berkesan serupa rumah yang nyaman.

Maka Moya tetap tersenyum ketika ingin tahu alasan Marko menitipkan Kimi di panti.

Kenapa datang tanpa istri atau kenapa ingin berpisah dari putri sendiri, atau apa yang diharapkan dari tinggal di panti. Marko menjawab lancar untuk mengarahkan Mayo pada kenyataan bahwa istrinya pergi meninggalkan mereka bersamaan ketika kondisi ganguan kejiwaan Kimi terdiagnosa. Kimi, jelas Marko mengutip dokter, menderita emotional dysregulation karena tak selalu mampu mengelola emosinya.  

Moya tak tersenyum lagi.

Urusan membangun kesan sudah selesai dan saatnya beranjak ke urusan di balik wajah dan tubuh Kimi. Ketika Moya melihat Kimi yang sedang tersenyum,  Moya paham senyum itu terlampau lebar dan terus-menerus. Moya pun punya pertanyaan lebih banyak dan Marko menjawab dengan jelas. 

Empat hari sebelum datang ke panti, Marko menemui Kimi di kamarnya. Ia menjelaskan rencana memindahkan Kimi ke panti sosial yang khusus menangani gangguan jiwa. Kimi, menurut Marko, menanggapi biasa saja. Dan Kimi memang yakin apa pun yang dilakukan ayahnya semata untuk kebaikan, termasuk kepindahan ke panti sosial demi hidupnya yang lebih baik. 

Moya melihat Kimi yang masih tersenyum lebar dan bertanya lembut, dengan senyum kecil pencair kebekuan. 

Kimi mengaku siap berpisah dengan ayahnya walau merasa sedih. Tak mudah berpisah dari seorang ayah yang sejak kecil menemani dan melayaninya meski ayahnya harus berbagi dengan kesibukannya sebagai pengusaha. Bagi Marko, yang sudah semakin tua dan semakin mendekat ke ajal, perpindahan ke panti merupakan  jalan kemandirian dan kebebasan Kimi. Panti akan mengajarkan Kimi mengatasi hidupnya sendiri dan Marko mengartikan hal itu sebagai kebebasan yang memang seharusnya dimiliki oleh setiap orang.

Moya tersenyum lagi, agar panti yang ia kelola berkesan serupa rumah nyaman yang mengajarkan kemandirian dan kebebasan.

Marko dan Kimi membalas, Marko dengan senyum biasa sedang Kimi dengan senyum yang terlampau lebar. 
***

Tapi Marko tak bercerita semua hal, karena memang tak semua hal ditanyakan oleh Mayo. 

Pagi dua hari sebelum ke panti, Marko pamit sebentar kepada Kimi  dan berpesan  agar Kimi tidak pergi-pergi selama ia belum pulang. Kimi memang tidak keluar rumah, tapi masuk ke kamar ayahnya, ingin menanti dengan tertib di sana hingga ayah pulang. 

Melihat kamar yang semrawut, ia membersihkannya ingin membuat ayahnya senang. Selama beberes ke sana ke kemari di dalam kamar, Kimi melihat ada foto perempuan tergeletak di meja. Beberapa kali bisa menahan diri, akhirnya Kimi meraih foto itu dan  mengamatinya. Lekat-lekat ia perhatikan wajah perempuan dalam foto tanpa melewatkan setiap detail. Rambut panjang tergerai sepunggung, bahu yang lebar, leher jenjang, wajah tirus, hidung mancung, mata bulat, bahkan garis-garis kerutan di dahi pun ia amati.

Setelah merekam detail-detail itu di benaknya, foto diletakkan lagi dan Kimi melanjutkan membersihkan kamar. Begitu menganggap pekerjaannya selesai, Kimi keluar karena tak mau menunggu ayah di dalam kamar bersama foto perempuan yang tak dia kenal. Namun sebelum keluar kamar, Kimi meraih foto itu dan di kamarnya berulang-ulang menelusuri detail-detail perempuan di dalam foto.

Lima jam sebelum Marko dan Kimi berangkat ke panti, datang seorang perempuan membuka pagar rumah. Ia melangkah masuk ke pekarangan namun Marko tergesa menghadangnya. Perempuan itu tersenyum gembira disambut Marko, yang justru malah mengusirnya. Bagi Marko, sejak istrinya pergi meninggalkannya, hanya boleh satu perempuan di dalam rumah. “Biar aku urus Kimi dulu. Hari ini aku antar ia ke panti,” katanya mendorong perempuan itu menjauh dari rumah.  

“Oke, oke. Aku kembali,” sahut perempuan itu, mencium pipi Marko, dan berbalik berjalan ke luar pagar.

Di dalam rumah Kimi melihat keduanya dari balik jendela. Kimi bingung: merasa pernah melihat perempuan itu namun tidak mengenalnya. Dia bergegas ke dapur dan keluar dari pintu kecil di halaman belakang. Di jalanan, Kimi semakin bergegas mengikuti perempuan di dalam foto. 
***

Kimi sedang duduk di bibir tempat tidur, sembari mengamati perempuan di foto yang ia pegang ketika Moya masuk ke dalam kamarnya. Mayo ingin memastikan Kimi sudah nyaman dan aman di dalam kamar panti namun Kimi tak menjawab selain melepas senyum yang terlalu lebar. 

“Itu foto siapa, Kimi?” tanya Moya.

Spontan Kimi menggeleng. Hening. 

Beberapa detik Kimi mendadak penuh bersemangat seperti terbangun dari tidur yang panjang. Dengan tangan silang menyilang dan suara keras yang naik turun memelan dalam kalimat-kalimat yang tidak runtut, Kimi menjelaskan kondisi ayahnya. Moya diam bersabar menampung seluruh bahasa mulut dan tubuh Kimi. Menurut Kimi, sebenarnya ayahnya sedang tertekan dan bersedih. Kimi ingin menghibur ayahnya yang terlalu baik kepadanya dan menyiapkan kado sebelum diantar ke panti. Kimi berharap sekarang ayahnya juga bisa bebas seperti dirinya. 
***

Sesampai di rumah usai mengantar Kimi ke panti, Marko membuka pintu ke kamar Kimi yang sudah kosong. Diputarnya pandangannya berkeliling kamar dengan rasa sedikit aneh menyadari kamar itu tak lagi berjiwa. Saat pandangannya tertuju pada tempat tidur Kimi, terlihat sebuah kotak di sana. Marko masuk mendekati kotak yang di bagian atasnya tertera pesan yang tertulis belepotan: Semoga Ayah senang. 

Marko memegang kotak itu dan duduk di pinggir tempat tidur. sebelum membukanya Begitu kotak terbuka, Marko tersentak, karena di dalamnya ada sebuah pisau yang masih berlumur darah segar
.***

Yuditeha, pendiri Komunitas Kamar Kata. Telah menerbitkan 18 Buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *