mimpi kita, dik
dalam rajutan kisah
tak akan pernah usai
sebab kasih wafa
dalam denyut puisi
namun kauperam air mata
yang tak mampu kuseka
tertimbun dalam kubang kelesah
lindap di langit kamarmu
dikunci rapat tanpa celah
kaucipta dunia tanpa suara
hingga kopi membeku
dan tinta mengering sejak lama
mufakat kita, dik
kucatat di lumbung asa
berharap suatu saat kauingat
melanjutkan perjalanan
dalam layu dan rekah musimmu
seusai badai dan pekat malam
kutinggu di sini, dik
kan kupesan cokelat dan kapucino
lalu kembali kauhapus kulacino*
dari gelas yang kita bagi bersama
***
Cirebon, 9 Januari 2022
* kulacino = dari cullaccino (Italia) atau bekas jejak gelas dingin di permukaan meja
Jalan Perjuangan
Apa yang terbawa di ransel saat petang menyusul kita untuk segera kembali
melanjutkan cerita selepas sua
Tak habis kisah di sepanjang jalan yang berlimpah petuah
dan akar sejarah kukuh berdiri sebagai tanda ksatria
melawan koloni demi Sang Saka Merah Putih
Kita basuh peluh yang tersisa dengan kepasrahan di tumpukkan naskah mimpi yang dibangun
Meja-meja di warung kecil bersaksi
merekam janji-janji, menyerap keringat yang menetes saat rawi menyengat wajah penuh
harap dan gigih menindas kebodohan
Merangkul tumpukan masalah yang hendak diuraikan di taman-taman hikmah tak lekang waktu
Namun, beberapa purnama berlalu
Mimpi yang berceloteh sepuasnya di jejalan para pencari ilmu
Semarak orasi calon-calon pemimpin berubah kelu
Sepotong takdir menutup para pemangku idealisme
Ia memulangkan kita kembali pada muasal diri
Bercengkerama di pojok-pojok sepi
Menekur tentang sebait puisi yang menghimpun janji-janji
Ke mana kita berjalan di sanalah rentetan pertanggungjawaban meminta realisasi
juga proposal yang kita layangkan sebagai tanda bakti bagi kemaslahatan manusia
Perjuangan belumlah usai
masih ada mufakat yang harus diselesaikan
Pantang mengakhiri ketika separuh narasi telah tertulis
Pantang mengkhianati ketika Tuhan telah mengikat janji-janji yang kita resapi sejak
menapaki jalan ini
***
Cirebon, 7 Februari 2022
Nur Zulfiani Imamah memiliki nama pena Nurul Mahabbah. Ia merupakan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cirebon. Aktivitasnya sekarang mengajar di Ponpes Modern Al-Muqoddas dan menulis puisi di surat kabar lokal dan media elektronik. Pada Desember 2021, dia dinobatkan sebagai Penulis Puisi Terproduktif Tahun 2019-2021 oleh FLP Wilayah Jawa Barat.