Di loteng rumah Nyai tinggal seorang perempuan. Kata orang-orang dia setua Nyai dan merupakan saudara nenekku itu. Tetapi, kata ibu, perempuan di loteng sudah ada sejak masa kecil Nyai. Dan bukan tidak mungkin sudah ada bahkan sebelum Nyai lahir. Kau bisa bayangkan betapa tuanya perempuan itu?
Sejak satu per satu anaknya meninggalkan rumah dan Datuk juga mangkat, Nyai tinggal seorang diri. Oh, tidak, sebenarnya dia tinggal dengan perempuan di loteng itu. Tetapi orang-orang menganggap Nyai tinggal sendirian di rumah kayunya yang besar yang sudah berusia ratusan tahun, sebab keberadaan perempuan di loteng hampir-hampir seperti mitos. Sebuah dongeng.
Telah puluhan kali ibu meminta Nyai untuk tinggal bersama kami di kota, di rumah kami yang lebih hangat sebab terbungkus rapat oleh dinding beton dan ventilasi yang dilapisi kawat kasa. Nyai punya asma dan ibu khawatir udara dingin yang bertiup dari hutan di bukit dan menyusup lewat celah-celah kayu akan menggigilkan Nyai dan memicu asmanya kambuh. Segagah apapun rumah kayu Nyai, rumah itu tetaplah menimbulkan banyak masalah bagi seorang perempuan tua yang tinggal seorang diri.
Tetapi, tiap kali ibu meminta Nyai untuk meninggalkan rumah itu, tiap kali itu pula Nyai menolak.
“Aku tak bisa tinggalkan emakku. Dia harus makan dan mandi sepekan sekali. Kau saja yang pindah ke sini,” suara Nyai masih terdengar jelas di telepon.
“Nyaimu itu musyrik,” kata ibu kepadaku, “dia beri makan setan di loteng.”
Ibu tentu saja tak bisa pergi dari kota. Dia guru PNS yang tak gampang pindah tugas. Lagipula, semua tersedia di sini: pekerjaan, anak-anak yang cerdas, suami yang tertib, dan pergaulan yang asyik. Di rumah Nyai, apa yang bisa dilakukannya?
Dan Ibu berkali-kali bilang tak menyukai rumah itu sekalipun terlahir di sana. Terutama dengan cerita tentang perempuan di loteng.
“Aku bersyukur keluar dari rumah itu sejak masa remajaku, atau aku akan berakhir seperti ayukku*,” kata ibu.
Nyai beranak delapan. Dari benih tiga lelaki. Dari benih tiga jaman.
Tahun 1943, ketika negeri dalam cengkeraman saudara tua, rahim Nyai meletus untuk kali pertama. Bayi itu bermata sipit, berkulit kuning. Entah tentara Jepang mana yang membuatnya bunting. Sebagai budak seks bagi bangsa kulit kuning penjajah itu, Nyai tak bisa menolak ketika berganti-ganti lelaki menggilirnya.
Seharusnya ianjo** memberlakukan hukuman ‘ditusuk bayonet sampai mati’ bagi jugun ianfu *** yang kedapatan hamil. Tetapi, entah bagaimana Nyai selamat. Begitu juga jabang bayi dalam rahimnya. Kata Nyai, semua itu tak lepas dari pertolongan perempuan di loteng.
“Kalau begitu, kenapa dia tak menyelamatkanmu dari tentara Jepang yang meculikmu hingga kau tak perlu jadi budak seks penjajah?” sanggah ibuku.
“Diam. Kau tak mengerti cara kerja Semesta. Ada alasan di balik semua peristiwa.”
Setelah Indonesia merdeka, Nyai kembali ke desanya yang dilalui sungai Batanghari dan itu merupakan aib bagi keluarga. Kenyataan bahwa Nyai telah beranak tanpa yakin siapa bapaknya tak pelak menciptakan kasak-kusuk di antara orang-orang. Yang orang-orang tahu adalah bahwa Nyai selama bertahun-tahun tinggal di ianjo. Namun orang-orang itu tidak ingat bagaimana orang-orang Jepang merangsek ke desa-desa dan menyeret gadis-gadis kencur ke dalam truk, termasuk Nyai. Betapa orang-orang itu dulu menangisi gadis-gadis yang diculik dan kini dengan mudah menjatuhkan penghakiman hanya karena gadis-gadis malang itu kembali dalam keadaan tak utuh lagi.
Nyai telah ditunangkan dengan seorang pemuda sebelum Jepang menculiknya. Laki-laki itu masih keturunan sultan, lagi seorang berpangkat. Tuan Amir namanya. Tetapi, mendapati kekasihnya kembali dengan seorang bocah bermata sipit, laki-laki itu undur diri. Di tahun-tahun itulah Nyai lebih banyak berdiam diri di rumah, merawat si bocah Jepang dan bercengkerama dengan perempuan di loteng.
Adalah bocah Jawa berkulit tembaga yang selalu menolong Nyai dan gadis-gadis lain di ianjo selama masa-masa gelap. Kamto namanya. Asalnya dari sebuah desa di Magetan, Pulau Jawa nan tak terbayangkan. Awalnya dia bermaksud ikut pamannya yang akan menjadi buruh perkebunan teh di Deli Serdang. Entah bagaimana ceritanya, ia malah berakhir menjadi budak Jepang di ianjo.
Di rumah bordil, Kamto bertugas membersihkan kamar para jugun ianfu yang hanya berupa bilik bersekat papan triplek. Tugas bersih-bersih ia lakukan ketika ianjo sedang sepi tamu atau hari libur untuk para gadis. Sepekan sekali para gadis diijinkan pergi melihat kota, jalan-jalan ke pasar Bukittinggi, atau sekedar melepas jenuh. Kamto bersahabat dengan para gadis dan sering dimintai tolong untuk beli ini-itu di kota, jika seseorang sedang malas pergi keluar. Kadang-kadang mereka mengupahnya dengan bercinta satu kali. Ketika tahu Nyai hamil, Kamto membantunya mencarikan obat penggugur (meski tak berhasil) dan merawatnya paska melahirkan.
Setelah Jepang kalah dalam kancah perang global, ianjo pun bubar. Para gadis bingung. Di satu sisi senang karena terbebas dari jerat perbudakan seks, namun di sisi lain bimbang untuk kembali ke kampung, kepada ayah bunda. Sebab diri sudah tak suci lagi.
Nyai dan Kamto berpisah, meski lelaki itu memintanya tinggal. Dia bilang mereka bisa memulai hidup baru di Bukittinggi, sebagai sebuah keluarga. Kamto akan menerima si bocah Jepang selayak anak sendiri. Tetapi, Nyai masih mencintai tunangannya di kampung dan berharap padanya.
“Berikan aku alamat rumahmu. Aku akan datang sebagai seorang teman.”
Kamto benar-benar datang meski terlambat sekian tahun. Dia mendapati Nyai dan si bocah Jepang (kini telah empat tahun dan lupa pada Kamto) tak bertuan, tanpa suami. Demikianlah Kamto menikahi Nyai dan memboyongnya ke Bukittinggi. Sekali lagi Nyai berpisah dengan perempuan di loteng. Kata Nyai, perempuan itu bilang padanya akan selalu mempunyai cara untuk membuat Nyai kembali.
Tahun 1965, setelah peristiwa terbunuhnya tujuh jendral di Jakarta, Kamto menghilang, bersama ratusan laki-laki (juga perempuan dan anak-anak) lain. Mereka memburu orang-orang komunis. Setahu Nyai, Kamto bukan orang partai. Suaminya hanyalah pemilik kios buku bekas di pasar Bukittinggi. Buku apa saja ada di sana. Sesekali orang partai memang mampir untuk menanyakan buku ini dan itu (Nyai tak begitu paham) dan mengobrol. Kelak Nyai tahu buku-buku itulah yang dijadikan alat bukti bahwa suaminya seorang komunis.
Kelak Nyai juga tahu bahwa si anak Jepang (kini telah 20 tahun dan menjadi pembangkang) terlibat konspirasi penghilangan ayah tirinya. Telah lama si anak Jepang berselisih paham dengan suaminya. Nyai demikian murka dan mengutuk si anak haram.
Dengan perasaan kalah dan hidup yang compang-camping, sekali lagi Nyai kembali ke rumah kayunya. Dengan kelima anaknya namun tanpa si anak Jepang, yang telah mati terseret ombak di pantai Malin Kundang.
Sekali lagi Nyai kembali dalam rengkuhan perempuan di loteng.
“Kali ini kau tak akan kemana-mana lagi. Di sini kau aman.”
Tunangan yang dulu menolak Nyai karena si bocah Jepang, kini hidup membujang. Telah memutih sebagian rambutnya namun tak ada istri baginya untuk pulang. Meski luas sawah ladangnya namun tak lengkap hidupnya. Bagai bujang putus asa, dia menerima Nyai.
Lihatlah, betapa hidup begitu lucu: dulu Tuan Amir menolak Nyai karena kehadiran seorang bocah, tetapi kini dia menerima mantan kekasihnya beserta lima orang anaknya. Bujang lapuk dan janda lima anak. Semesta sudah begitu adil.
Sepanjang kisah hidupnya yang kerap dibumbui prahara, bersama Tuan Amir itulah tahun-tahun terbaik bagi Nyai. Darinya, Nyai mendapatkan dua anak. Hidup tenang sebagai istri pegawai negeri dengan ladang luas terbentang. Nyai bagai ratu dalam istana kayu. Perangainya berubah menjadi wanita manja dan egois setelah kenikmatan hidup membuainya. Atau, memang demikianlah sebenarnya sifatnya.
Duapuluh tahun masa pemerintahan Orde Baru, wajah desa banyak berubah. Terutama hutan-hutannya. Mereka membabat hutan-hutan dan menjadikannya permukiman. Mereka membangun rumah-rumah petak dari papan dan beratap seng. Rumah-rumah itu untuk orang-orang transmigran dari pulau Jawa (yang mengingatkan Nyai pada Kamto si komunis). Hutan-hutan perawan juga disulap menjadi perkebunan kelapa sawit dan para-para. Orang-orang proyek bekerja dari pagi hingga petang, menginap di barak-barak. Pada hari Minggu setelah gajian dua pekan sekali mereka pelesir ke kampung-kampung, menggoda gadis-gadis kencur.
Kini, satu per satu anak-anak Nyai sudah mentas. Mereka menikah dan memiliki kehidupan masing-masing. Ada yang sukses menjadi petani sawit dan karet, ada yang menjadi toke pinang, ada Ibu yang menjadi guru PNS, bahkan ada yang duduk di DPRD dan akan dicalonkan sebagai bupati, tahun depan.
Namun, tak satupun anak-anak Nyai mau tinggal di rumah kayu Nyai. Bahkan saat Nyai sudah renta begini. Kata ibu tak ada orang lain yang betah tinggal di rumah itu selain Nyai. Jika ada yang betah, pasti umurnya tak bakal panjang. Kakak ibu dan Tuan Amir, datukku, sudah cukup menjadi bukti. Mereka sempat raib dan ditemukan kaku menjadi mayat.
“Perempuan itu tak suka dengan kami. Dia hanya menyukai Nyai,” kata ibu.
Hari berganti, tahun berjalan. Aku sudah lulus SMA dan bersiap masuk universitas. Nyai juga semakin tampak tua. Kali terakhir kami berkunjung ke rumah kayu, dia masih tampak sehat walau dengan tubuh yang makin kisut.
Ada satu hal yang tak kuceritakan pada ibu, satu hal yang sempat dikatakan Nyai padaku: “Cu, kau mau menggantikan aku?”
***
Rumah Bahasa, Juli 2020
* ayuk =
** ianjo = rumah bordil tentara Jepang yang mereka dirikan di negara-negara jajahan pada masa Perang Dunia II
*** jugun ianfu = perempuan yang dipaksa tentara Jepang menjadi penghibur, yang merupakan eufisme dari pekerja seks paksaan di ianjo.
Linggar Rimbawati lahir di Jambi namun selalu merasa Solo adalah rumahnya. Menulis cerpen, esai dan puisi. Tulisannya dapat dibaca di Mojok.co, Magdalene, Difalitera, Tribun Jabar, Kompas.id, dan Magrib.id.