Setiap berkunjung ke Jakarta, selalu saya sempatkan ke warung buku bekas di Taman Ismail Marzuki milik seniman Jose Rizal Manua. Juga selalu saya beli dua tiga buku, sebagai pernyataan masuk dalam barisan pendukung warung buku itu.

Selalu pula saya sediakan waktu untuk duduk-duduk di bangku plastik di depan warung menyaksikan orang lalu lalang, entah akan atau selesai nonton film di bioskop sebelah maupun makan di berbagai warung aneka masakan di sekitar. Dengan dua kaleng bir dingin dari salah satu warung, maka saya nikmati santainya malam yang masih muda, setelah tuntas dengan kepenatan sistematis dan materialistis di salah satu gedung bertingkat di putaran Bundaran Hotel Indonesia.

Warung buku bekas milik Jose Rizal Manua bisalah disebut sebuah anomali di Jakarta atau sanctuary yang meneduhkan. 

Sekali waktu saya beruntung sempat duduk sebentar dengan Jose Rizal Manua. Kami sekedar menyapa singkat untuk sekedar saling menghormati keberadaan satu sama lain sebelum dia sibuk membereskan sampah-sampah kecil dan memberi makan kucing di pojok samping warung bukunya. Tawaran bir kaleng saya ditolaknya dengan sopan.

Sekarang, sejalan dengan renovasi di TIM, saya baca kalau warung buku itu berkembang menjadi toko buku yang -menurut foto di internet- tampak bersih dan rapi. Mungkin hilanglah romantisme saya akan sebuah sanctuary yang cuma selemparan batu dari kawasan materialistis, tapi rasanya toko buku itu bakal punya pembeli lebih banyak. Kaum muda mungkin lebih nyaman dengan toko buku yang bersih, rapi, dan terang dibanding warung buku yang sedikit gelap dengan buku ditumpuk-tumpuk sebisanya untuk tertampung di sebuah ‘gua’ kecil. 

Di abad 21, pastilah komersialisme lebih berguna dibanding romantisme. Walau kayaknya bisa juga memadukan komersialisme dan romantisme dengan baik. Bahkan sesekali orang sengaja berjual beli romantisme dan laris pula. 

Toko buku bekas Barter Book di Alnwick mungkin jadi salah satu bukti perpaduan laba dan rasa. Barter’s Book menjadi salah satu tujuan wisata di wilayah Northumberland, Timur Laut Inggris, sekitar 5 jam perjalanan mobil dari London. Tak jauh dari garis pantai yang berseberangan dengan Norwegia, banyak orang Inggris yang liburan ke pantai menyempatkan diri ke Barter Book di kampung Alnwick.

Disebut Barter Book karena memang orang bisa melakukan barter. Jadi ada satu pojok khusus untuk orang-orang yang membawa buku dan pegawai akan menilai buku bawaan. Cuma selama saya sengaja mengamati pojok itu, orang-orang yang datang ke sana hanya berniat menyumbangkan bukunya, bukan untuk tukar menukar.

Saat menjelajah ‘gua’ buku itu dan membeli  dua tiga buku untuk menyatakan dukungan, saya sempatkan juga duduk di pojok santainya dan membayangkan warung buku Jose Rizal Manua berkembang seperti Barter Book, bukan seperti yang terlihat di foto internet. 

Tapi segera saya buang bayangan itu, “Ah lain padang, lain belalang.”

***
Foto:
1. Isson Khairul
2. Selebihnya ceritanet.com

Liston P Siregar, editor ceritanet.com dan pengasuh anjing di homefromhomedogboarding.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *