Mata Aisyah berbinar mendapati polong-polong buah asam yang tergeletak di antara rerumputan kerdil. Pohon asam itu berbuah lebat dan angin kencang selalu mudah menjatuhkan buahnya yang sudah matang. Aisyah bergegas memungutnya sebelum kemudian memamerkannya kepada Badri, laki-laki 60-an tahun yang tengah suntuk menjalin jaring ikan—jaring itu robek di sana-sini akibat tersangkut terumbu karang.

“Kek, lihat ini!” ujar Aisah seraya mengguncang-guncangkan buah berwarna cokelat kusam itu di dekat telinganya. 

Polong-polong itu mengeluarkan bebunyian yang teramat dikenal Badri; bunyi buah matang yang kerap memancing rasa ngilu di giginya dan ia selalu tidak bisa menolaknya. Ia tersenyum seraya mengulurkan kepalanya, mencoba menyimak bunyi itu lebih dekat lagi. “Ais juga mendengar bunyinya, kan?” ujar Badri. “Kalau sudah begini, rasa buahnya pasti lebih manis. Mau kakek kupaskan?”

Bocah perempuan 6 tahun itu cepat-cepat menggeleng seraya menirukan suara desis seperti seseorang yang tengah menahan rasa kecut di lidah. Badri tertawa melihat tingkah cucu perempuan satu-satunya itu. “Ya, sudah,” ujar Badri, “kalau begitu, bawa saja ini ke dalam. Taruh di dapur, ya!” 

Seekor anjing kampung berwarna cokelat dekil, mengekor Aisyah. Tepat di depan pintu rumah, bocah perempuan itu mengentakkan kakinya dan anjing itu pun berhenti sejenak sebelum kemudian kembali ke kolong balai-balai untuk mengendus-endus tulang ayam kering. Anjing itu baru berhenti mengendus ketika terdengar bunyi sepeda motor mendekat. Pengendara sepeda motor itu seorang laki-laki paruh baya berwajah tembam—ia turun dari kendaraannya dan langsung menghampiri Badri. “Robek lagi?” sapanya. “Pasti karena tersangkut karang. Mungkin sudah saatnya ganti jaring yang baru.”

Badri tersenyum tipis, matanya tetap awas dan tangannya tetap sibuk di antara senar-senar jaring yang terkoyak. Laki-laki yang baru saja tiba itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong kresek dan melambai kepada Aisyah yang segera berlari kecil menujunya. 

“Ini, Paman Salman bawakan ayam kentaki. Ais pasti suka,” ujar laki-laki itu.

Bocah berwajah tirus itu menelan ludah dan tangannya bergegas membuka bungkusan. “Oh, ayam taki-nya beli di mana, Paman?” tanyanya seraya mencomot sepotong paha ayam dengan takjub.

“Ini paman beli di supermarket,” jawab Salman dengan bangga.

Badri menoleh ringan, memperhatikan sejenak Aisyah yang sedang menikmati ayam goreng tepung. Tangan, bibir, dan sebagian pipi bocah perempuan itu segera berlepotan minyak goreng; dan itu mengingatkan Badri pada seorang penjual makanan serupa di pinggir jalan di dekat kantor kecamatan. Suatu hari, Mahir—anak laki-lakinya—pernah membelikannya makanan seperti itu di sana. Ingatan itu membuat Badri semakin yakin bahwa Salman sedang berbohong: ia tidak membeli ‘ayam tepung berminyak’ itu di supermarket!

“Kata orang, kalau di supermarket makanan seperti ini jadinya lebih mahal,” ujar Badri. “Kenapa tidak beli yang di pinggir jalan saja? Rasanya juga mirip.”

 “Oh, sesekali bolehlah,” tanggap Salman dengan air muka mencurigakan. “Kebetulan sedang ada sedikit rezeki.”

Badri berdeham—seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya. Sementara ia kembali mengurus jaring, Salman berjalan ke arah pembatas lahan. Dua batang pohon banten tumbuh berdekatan. Dari celah kedua batang pohon itu, Salman mengintip melalui kamera gawainya. Tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri, pagar lintasan memanjang, lurus, berkelok, lurus lagi hingga tikungan paling jauh berlatar bebukitan. Sebuah nama perusahaan besar terpampang besar di punggung bukit. Perusahaan itu—bersama seluruh rekanannya, baik dari pusat maupun daerah—telah merampungkan proyek pembangungan sirkuit yang akan segera digunakan untuk menggelar balapan bertaraf internasional. Seraya tersenyum, Salman membidik beberapa gambar dengan kamera gawainya, termasuk Badri yang sedang menyulam jaring di bawah pohon asam.

“Saya ambil beberapa foto,” ujar Salman setelah kembali di samping Badri. “Biar orang pusat tahu, beginilah kondisi sebenarnya di sini.”

“Saya sudah sering lihat foto saya di koran. Wartawan-wartawan itu menunjukkannya pada saya. Mereka sudah tahu semua. Orang pusat, orang kota, orang daerah, orang-orang di sekitar sini tahu semua. Memangnya masih ada lagi yang belum tahu?” tanggap Badri.

“Saya kenal dengan orang-orang penting.” Salman mencoba meyakinkan. “Tenang saja, mereka akan ke sini dan masalah tanah ini akan selesai secepatnya.”

 “Hahaha! Saya juga sudah sering mendengar yang seperti itu,” tanggap Badri, suaranya terdengar sinis.

Tampaknya Salman belum menyerah, ia berusaha memasang tampang tenang. Ia kembali menyinggung sejumlah kasus yang menurut pengakuannya bisa selesai dengan baik berkat campur tangannya. Badri tidak punya pilihan lain selain membiarkan Salman terus mengoceh. Lagi pula bukan hanya sekali-dua Salman datang ke tempatnya dengan perangai yang sama. Salman terlihat di kawasan itu sejak sirkuit diresmikan.

Badri sempat melihatnya di antara para pengunjuk rasa—Salman memegang sebuah kamera dan sepertinya sedang mendokumentasikan peristiwa itu. Bahkan sosok Badri yang baru saja pulang dari pantai, ikut terekam juga. Salman menunjukkan kepadanya beberapa hari kemudian. Pada saat itu, ia mengira Salman adalah seorang wartawan, tapi ternyata bukan. Salman mengaku bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat dan Badri tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya. Apalagi, Salman jelas tampak peduli. 

“Sampai sekarang, tak ada yang bisa membuktikan tanah ini telah dijual,” ujar Salman, seperti yang sudah-sudah. “Makanya, Pak Badri tetap berhak dapat ganti rugi yang layak.”

Badri membuang napasnya. Ada keinginan untuk menanggapi ocehan Salman, tapi ia berusaha menahannya ketika sebuah sepeda motor memasuki pekarangan. Aisyah bergegas menyongsong. “Lihat, lihat! Paman Salman bawa ayam taki. Enak sekali,” ujarnya seraya memamerkan paha ayam goreng tepung yang nyaris tinggal tulang kepada sosok perempuan yang baru datang. 

Sahnim tersenyum, turun dari sepeda motor, lantas mengelap sisa minyak goreng di pipi anak perempuannya itu dengan ujung bajunya. Tanpa mengujarkan sepatah kata pun—kecuali tatapan ramah kepada Salman dan Badri—ia berjalan memasuki rumah dan langsung menuju dapur untuk menyalakan kompor. Ia belum memasak apapun hari itu. Sejak pagi ia pergi ke kantor pos yang letaknya cukup jauh dari dusun untuk mengurus pencairan uang BLT. Biasanya ia meminta tolong Sali, seorang pemuda tetangga jauh—dengan mengganti uang bensin—agar bisa sampai ke sana. Namun, belakangan ia selalu punya alasan untuk mengendarai sendiri sepeda motor matic tua milik suaminya yang selama ini hanya teronggok di pojok ruangan.

Suatu kali, Salman menawarkan diri untuk memperbaikinya dengan mendatangkan seorang montir dari kota. Satu-satunya barang peninggalan Mahir itu akhirnya bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Sahnim belum juga berminat mengendarai sepeda motor itu, sampai kemudian Salman semakin sering berkunjung. Kunjungan-kunjungan itu selalu bersamaan dengan hari di mana Sahnim keluar dusun untuk urusan-urusan tertentu. Dan biasanya, Sahnim akan kembali ke rumah ketika siang atau menjelang sore, tidak berselang lama dengan kedatangan Salman. 

Badri tidak tahu, apakah Salman pernah datang secara diam-diam ke rumahnya ketika ia sedang mencari rumput; atau pada malam-malam tertentu ketika ia masih berjibaku di tengah laut. Awalnya, Badri tidak menaruh prasangka terhadap kunjungan-kunjungan Salman yang sudah menjadi kebiasaan. Saking terbiasanya, Badri seolah bisa mengendus aroma kedatangan Salman dari kejauhan—aroma yang nyaris sama dengan minyak wangi yang menguar dari tubuh Sahnim.

Seingat Badri, menantu perempuannya itu tidak pernah lagi menyemprotkan minyak wangi sejak suaminya—Mahir—pergi meninggalkan dusun untuk menjadi pekerja migran. Ya, kecuali sejak rentetan kunjungan Salman dengan dalih ‘menjembatani warga’ terkait masalah ganti rugi pembebasan lahan. Dan kini, aroma itu kembali menguar dari sana. Badri menajamkan penciumannya, ia tahu aroma itu bukan hanya bersumber dari satu orang. Ketika aroma yang sama itu semakin mendekat, Badri telah menyelesaikan satu bagian jaring yang terkoyak.

“Maaf, saya lupa beli gula tadi. Kopinya pasti agak pahit,” ujar Sahnim yang datang dengan dua gelas kopi panas. Setelah menaruh nampan di atas balai-balai bambu, Sahnim bergegas kembali ke dapur. Namun, jejak aroma minyak wangi itu masih tertinggal di jaket yang dikenakan Salman—Badri bisa mengendusnya dengan sempurna.

“Ombak masih tinggi, ya?” tanya Salman, terdengar seperti basa-basi. 

“Sedang musimnya,” tanggap Badri.

Cuaca di kawasan pesisir memang sedang tidak ramah. Badri tidak bisa melaut beberapa hari itu. Ia harus menunggu sampai cuaca benar-benar bersahabat. 

“Mestinya mereka datang besok. Bersiap-siap saja, jangan ke mana-mana. Saya juga sudah memberitahu yang lainnya.”

Badri terbatuk-batuk kecil. Alih-alih menanggapi rencana pertemuan dengan orang-orang dari pihak perusahaan itu, ia justru bertanya perihal lainnya. Salman pernah bercerita tentang seorang pemilik toko sembako dan peralatan rumah tangga yang sedang mencari karyawan baru. Tampaknya Salman tidak menduga bahwa Badri tertarik dengan apa yang pernah diceritakannya itu.

“Belum terlambat,” tanggap Salman dengan penuh percaya diri. “Bukan satu orang saja yang dicari. Jangan khawatir, pemilik toko itu teman lama saya. Kalau memang Sahnim mau, ia bisa masuk kapan saja. Bagaimana?”

“Nanti saya tanya dulu,” jawab Badri.

Dalam sekejap, Air muka Salman berubah lebih semringah. Badri tersenyum tipis—ia yakin, bahwa Salman memang menghendaki Sahnim keluar dari rumah. Badri juga berpikir, tidak ada gunanya Sahnim berlama-lama tinggal di dusun yang sudah tergusur itu; lebih baik ia melanjutkan hidup di tempat lain. Badri tidak akan menyalahkan menantunya itu kalau pada akhirnya harus menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Lagi pula, Mahir sudah lama meninggalkan Sahnim, bahkan berusaha melupakannya. Badri mengetahuinya, meski Mahir selalu punya dalih untuk membela diri. Tahun-tahun pertama kepergiannya, Mahir masih sering berkirim kabar; ia bahkan sempat mengirimkan sejumlah uang untuk biaya kelahiran Aisyah. Namun, sejak Aisyah mulai belajar berjalan, Mahir semakin jarang berkirim kabar hingga namanya seolah-olah lesap diisap tanah.

“Kita tinggal menunggu kabar baik saja besok. Mudah-mudahan soal tanah ini cepat selesai. Hal lainnya, mudah-mudahan Sahnim juga bersedia. Pak Badri tidak keberatan, kan?”

Badri menggeleng. Matanya tetap awas dan tangannya tetap sibuk di antara senar-senar jaring yang terkoyak. Angin bertiup kencang, polong-polong buah asam itu bergoyang-goyang. Aisyah yang sedang berbagi makanan dengan anjing kampung itu menatap ke atas. Matanya berbinar. “Ayo, jatuhkan lagi buahnya!” teriaknya. 

***

Selepas zuhur keesokan harinya, Sahnim menyampaikan pesan kepada Badri bahwa pertemuan dengan orang-orang dari pihak perusahaan ditunda terlebih dahulu. Salman telah menghubunginya melalui ponsel ketika Badri sedang menggembalakan sapi di sekitar bukit.

“Kak Salman bilang, ada pertemuan mendadak dengan orang pusat,” jelas Sahnim dengan hati-hati. 

“Ditunda atau tidak, ada yang datang atau tidak, saya sudah tidak peduli. Paling-paling, hasilnya akan sama. Mutar-mutar di situ-situ saja,” tanggap Badri datar. 

Mulut Sahnim segera terkunci, meski sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Saat Badri mulai memilin tembakau, jemari Sahnim menggeser-geser layar ponsel sekenanya. Pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Angin kasar menyibak sebagian rambutnya yang jatuh di kening; ada sedikit kerutan di sana, seolah kerutan itu akan terus bertambah setiap waktu. Ibu muda itu seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam kepalanya, tapi ia masih menunggu, barangkali hingga Badri membakar rokoknya dan mulai menyesap kopi hangat yang terhidang di atas balai-balai bambu reyot itu.

  “Apalagi yang kamu tunggu?” tanya Badri tiba-tiba. “Bajingan itu tidak akan pernah pulang. Kalau pun pulang, mungkin tidak akan ke sini. Mahir sudah bersama perempuan lain. Saya yakin kamu juga tahu.”

Sahnim seperti tersentak dari tidur panjang. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah mertua laki-lakinya itu. “Apa yang bisa saya lakukan?” tanggapnya kemudian. “Kalau saya pergi, siapa nanti yang akan masak dan bikin kopi untuk Bapak? Siapa juga yang akan mengurus sapi sewaktu Bapak sedang melaut? Saya sudah terbiasa tinggal di sini.”

“Kamu pikir, siapa yang melakukan semua itu sebelum kamu tinggal di sini? Mahir? Jangan harap! Saya terbiasa mengerjakan semuanya. Ya, sepeninggal ibunya Mahir, sayalah yang mengerjakan semuanya,” ujar Badri dengan suara bergetar.

Sahnim bisa memahami apa yang dirasakan Badri, dan ia percaya semua yang diujarkan Badri itu benar belaka. Bertahun-tahun tinggal satu rumah dengannya, membuat Sahnim tidak mempunyai alasan lain selain mempercayainya. “Saya percaya sama Bapak,” ujar Sahnim, terdengar seperti gumam.

Badri beranjak dari balai-balai dan mulai mengemasi jaring yang beberapa bagiannya sudah selesai dijalin. Setelah terkemas dengan baik, Badri mulai bersiap-siap. Ia masuk ke rumah terlebih dahulu hanya untuk memandangi wajah cucu perempuannya yang sedang tertidur lelap di dipan beralaskan tikar pandan. Ia tidak ingin bersedih, oleh karenanya ia segera kembali ke pekarangan.  

“Saya akan ke pantai memeriksa perahu. Kalau ombak surut, nanti sore saya dan Sali  akan berangkat melaut. Lebih baik kamu hubungi Salman sekarang. Orang itu pasti senang kalau kamu mau bekerja di toko itu. Selain di sini, selama ini kalian sering bertemu di tempat lain, kan?”

Air muka Sahnim berubah sedikit pucat. Ia tidak menyangka Badri akan berujar seperti itu. Namun, Sahnim tidak ingin membantahnya.

“Dan jangan lupa, kamu harus bisa mengurus Ais. Pikirkan dari sekarang, bocah itu akan tinggal bersama siapa selagi kamu kerja. Kalau kamu tidak bisa mengurusnya, lebih baik tetap tinggal di sini.”

Sahnim mendengarkan Badri dengan saksama. Ia tidak ingin membuat laki-laki tua itu tersinggung dan merasa khawatir. Bagaimanapun, Badri layak memikirkan nasib Aisyah, cucu satu-satunya itu.

“Sementara saya kerja, Ais akan tinggal di rumah adik perempuan Kak Salman,” ujar Sahnim. “Kami sudah pernah membicarakannya.”

Badri terdiam sejenak. Seraya memperhatikan wajah Sahnim, ia manggut-manggut perlahan. “Baguslah, kalau kalian sudah membicarakannya,” ujarnya kemudian.

Sahnim hanya bisa menundukkan pandangan. Kali ini ia tidak bisa lagi bersembunyi—dan ia merasa sedikit lega karena telah mengatakannya. Sesaat sebelum Badri meninggalkannya siang itu, Sahnim mencium kedua tangan mertuanya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh hingga kedua matanya basah oleh air mata. 

“Saya bingung kalau kamu minta maaf,” ujar Badri dengan suara tegas. “Bilang sama Salman, ya! Tidak perlu datang ke tempat ini lagi. Apapun keputusan soal tanah ini nanti, saya akan tetap tinggal di sini. Saya lahir dan besar di sini. Mati juga di sini…”

Badri bergegas meninggalkan pekarangan menuju pembatas lahan. Sahnim kembali terduduk di balai-balai bobrok di bawah pohon asam itu. Kepalanya menengadah, dan matanya terpejam.
***

Ampenan, 30 Maret 2022

Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur. Menulis cerita pendek, esai, resensi, sejumlah feature perjalanan, dan novel. Sejumlah bukunya telah terbit, antara lain Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017—Kumpulan Cerita Pendek), Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019—Feature Perjalanan), Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020—Kumpulan Cerita Pendek), Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021—Kumpulan Puisi).Selain menulis, ia menekuni perwajahan (desain) buku dan media cetak (koran, majalah, bulletin, jurnal, zine). Saat ini mukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *