Aum harimau itu terdengar nyaring, bahkan sebelum aku membuka mata di pagi yang sejuk. Ingin rasanya ditelan bulat-bulat oleh dunia mimpi, agar tak perlu bangun untuk mendengar lengkingan yang memekakkan telinga seperti itu. Ah, tidak, aku belum ingin mati. Ribuan orang masih membutuhkan jasaku, mengurus premi asuransi mereka. Lagipula, sesekali aku menikmati perasaan seperti dewa, memutuskan siapa yang berhak menerima bayaran dan siapa yang tidak.

“Pa, ayo, bangun. Sudah jam berapa ini?” Suara Intan, istriku, menggelegar di pintu kamar. Ibarat radio tua yang rusak, volumenya tidak bisa dikecilkan.

Aku beringsut malas menuju kamar mandi. Pancuran air hangat biasanya sanggup menggugah semangat untuk menjalani satu lagi hari yang panjang.

“Cepat, Pa, nanti aku terlambat!” seru Yudha, anak semata wayangku. Baru kelas tiga SD, tingkahnya sudah mirip mamanya.

Jadi buru-buru kulahap habis nasi goreng buatan Intan, yang lumayan enak, tetapi sayangnya tak pernah disajikan dengan cinta. Tidak seperti si Mbok pemilik warteg dekat kantor yang melayani dengan cinta. Menu sederhana jadi terasa nikmat.

“Aku berangkat, Ma,” pamitku sambil meraih tas, menyusul Yudha menuju garasi. Intan hanya menggumam.

Setelah menurunkan Yudha di sekolah, mobil langsung bertolak ke kantor. Walaupun kantor sejuk ber-AC, rasanya tetap gerah saat melihat Pak Dirham datang ke mejaku.

“Ini arsip enam bulan terakhir. Aku butuh laporan sore ini sebelum jam lima. Harus selesai,” kata bosku tanpa basa-basi. “Selisih dananya besar, CEO ingin semua clear secepatnya.”

Kepalaku terasa pening seketika. Arsip di meja menjulang hingga jendela di seberang tidak tampak lagi. Kuempaskan pantat ke kursi yang biasanya terasa nyaman sambil memejamkan mata, bergumam, “Rumah dan kantor, kok, sama-sama jadi neraka.”

Gumamanku terhenti oleh aum harimau yang samar-samar, tetapi jelas. Harimau itu duduk di meja, menatap tajam dengan dua mata yang bersinar garang. Harimau kembali menggeram, sepertinya ingin melompat dan menyerangku, tetapi merasa belum saatnya.

Kubuka laptop dan juga map-map arsip di meja. Tujuh jam sebelum laporan di meja bos. Maka istirahat makan siang di warteg cinta si Mbok tergantikan dengan makan roti isi tanpa cinta di depan laptop, yang kering kerontang tanpa rasa apa pun. Aku telusuri angka-angka di depan laptop secepatnya dan sesaksamanya karena sedang dikejar harimau menelusuri lorong penuh api neraka. Sedetik saja lengah, harimau akan menerkamku atau tubuhku hangus terbakar. Pukul setengah lima, laporan kuserahkan kepada Pak Dirham.

Sekujur tubuhku pegal, kepalaku berdenyut, dan mataku berkunang-kunang. Aku duduk sambil memejamkan mata. Kurebahkan sandarannya sedikit. Walaupun lelah luar biasa, ada rasa puas pekerjaanku selesai.

Tiba-tiba Pak Dirham muncul di hadapanku, membanting laporanku ke atas meja. “Sampah macam apa ini? Kamu kerja di kantor asuransi, bukan di badan sosial. Bos tidak mau tahu alasan klien. Sudah senior, kok, masih belum paham cara perusahaan bekerja!”

Aku tidak mendengar lagi kelanjutannya. Harimau yang mengekor di belakang Pak Dirham melompat dan menerjangku. Taring-taringnya yang tajam tanpa ragu mengoyak kulit dan dagingku. Darah berhamburan ke mana-mana, berceceran di meja, kursi, dan lantai. Laporan yang kubuat dengan susah-payah juga basah berlumur cairan merah.

Namun ceceran darah dan tubuhku yang terkoyak-koyak tak terlihat Pak Dirham yang terus berteriak, terus mengumpat, terus memaki, dan terus menyumpahi pekerjaanku yang divonis di bawah standar. Aku pasrah tak berdaya. Barulah Pak Dirham pergi, membawa harimau- harimaunya yang telah puas merobek-robek tubuhku.

Kuraih kunci mobil dengan mengabaikan kepala yang berdentam hebat, tubuh yang tercabik, dan darah yang masih menetes. Aku berjalan lunglai menuju tempat parkir. Tak ada yang perduli dengan kepiluanku: rekan di dalam lift yang terus terpaku dengan layar ponsel, satpam yang hanya menyapa kaku selamat sore, dan tukang parkir yang tak mengangkat wajahnya ketika menerima karcis parkir. Tak ada yang melihat sobekan luka di bawah mataku, juga tak ada yang mencium amis darah yang masih mengalir di lengan kananku.

Kukuatkan tenaga dan tekadku untuk tiba di rumah secepatnya agar segera bisa berlama-lama mandi pancuran air hangat, makan malam, lalu melelahkan mata di layar ponsel hingga jatuh tertidur.

Setiba di rumah, buyar semua anganku. Baru satu kaki melangkah masuk, Intan sudah menyambut dengan wajah masam dan mulut tajam. Di belakangnya berbaris harimau-harimau lapar yang menunjukkan taring-taring tajam dan meneteskan deras liur menjijikkan. Bau busuk tubuh mereka berbaur dengan aroma parfum cendaya layu Intan yang menyengat, membuatku mual.

“Kenapa dari siang tadi teleponku tidak diangkat? Itu penting, tentang sekolah Yudha.”
“Maaf, Ma. Hari ini Papa tidak sempat apa-apa. Pak Dirham tiba-tiba minta laporan enam bulan
harus selesai hari ini juga.” Bekas cabikan harimau di kantor tadi kembali terasa berdenyut-denyut.
“Sibuk sekali hari ini .…”
“Papa ini sebenarnya sayang keluarga atau sayang Pak Dirham-mu itu?” potong Intan.

Seiring ocehan Intan yang tiada henti, harimau-harimau di belakangnya mulai menyerangku. Mereka menancapkan taring-taringnya amat dalam sampai menusuk dasar dagingku. Kepalaku yang sejak di kantor tadi sudah berdentam hebat, sekarang kehilangan tempurungnya. Tubuh yang terkoyak kini kembali tercabik-cabik. Darah segar kembali membanjiri lantai dengan potongan organ-organku yang terburai berserakan di lantai.

Aku berjalan gontai ke kamar mandi dengan napas sesak dan mata kabur sambil menahan sakit,
bukan hanya di kepala tapi di semua titik tubuh.

Harimau-harimau itu masih menggigiti sisa-sisa daging yang menempel di tulang-tulangku yang nyaris remuk. Air pancuran kubuat jauh lebih panas dari biasa, tetapi tubuhku tetap tidak merasakannya.

Entah sejak kapan harimau-harimau masuk ke rumahku. Dulu di awal-awal pernikahan kami, mereka tidak ada. Kemunculan mereka hampir bersamaan dengan harimau-harimau di kantor, tak lama setelah Pak Dirham diangkat sebagai manajer operasional. Kini, gerombolan harimau, di kantor dan di rumah, bergantian mengoyak tubuhku, siang dan malam.

Sepanjang sisa malam, aku dan Intan membisu saling memunggungi di ranjang yang dulu pernah amat hangat dan sangat menggairahkan. Namun, kini tidurku penuh kewaspadaan karena harimau-harimau tidak pernah tidur. Mereka berjaga di sekitar ranjang, siap menerkamku kapan saja.

Kupejamkan mata tak melihat, kubekukan tubuh tak bergerak, kututupkan telinga tak mendengar apa pun walau hatiku tetap waswas terkepung harimau-harimau buas.

Keesokan paginya, aku bangkit dari tempat tidur perlahan-lahan, menarik napas sekejap demi sekejap, mengangkat tubuh sejengkal demi sejengkal, dan melangkah setapak demi setapak. Aku tak mau Intan terbangun, juga tak mau membuat harimau-harimau tersentak dan menyergapku.

Aum harimau-harimau terdengar kembali, samar-samar, tetapi jelas. Begitu di luar kamar segera kumasak mi instan dan bergegas ke luar, melompat masuk ke mobil, dan ngebut ke kantor. Kuserahkan nasib perjalanan Yudha ke sekolah kepada mamanya.

Duduk di kursi kerja, segera kumatikan ponsel dan kunyalakan laptop, tak tahu persis apa yang akan kukerjakan selain pasrah menghadapi Pak Dirham dan harimau-harimaunya.

Beruntung sepanjang hari tak ada Pak Dirham, mungkin sedang dipanggil CEO urusan laporanku. Aum harimau-harimau terdengar sayup-sayup di balik pintu ruangannya yang sejak pagi hingga sore tertutup rapat.

Selepas kantor, kuarahkan mobil ke rumah Sinta, sekretaris departemen kami. Dia selalu datang lebih awal dan pulang lebih awal. Bebas dari harimau Pak Dirham, rasanya aku belum siap menghadapi harimau-harimau piaraan Intan di rumah.

Sinta dan aku sesekali makan bareng di warteg cinta si Mbok sambil ngobrol riang dan ringan. Jika aku menatap Sinta di mejanya dan pandanganku berbalas, maka harimau-harimau di kantor mendadak mengantuk dan menguap lebar, bahkan beberapa sering malah lari melompat keluar dari jendela kantor.

Wanita lajang di awal tiga puluh itu pulalah yang rutin mengobati luka-luka di tubuhku yang terkoyak-koyak harimau, entah lewat senyumnya, suaranya, tatap matanya, atau bahkan sekadar embusan aroma tubuhnya ketika melintas.

Sore itu, Sinta sedikit terkejut melihatku. Namun, kekagetannya segera terganti senyum yang merekah. Aku duduk di sofa empuk rumah kontrakannya yang kecil, tetapi lapang dan hangat. Amat berbeda dengan rumah besarku yang bertembok tebal, tetapi sempit dan dingin. Aku bersandar nyaman di sofa sambil menatap berkeliling dengan damai karena tidak ada harimau-harimau busuk yang buas. Kutajamkan pendengaran, tak ada aum harimau. Yang ada hanya suara lembut gerak gemulai Sinta menyeduh teh di dapur sebelah.

Sinta datang dengan dua cangkir teh. Lalu dia duduk di sebelahku, mengobrol sambil tertawa tentang banyak hal. Aku semakin riang dan nyaman, juga Sinta. Kami duduk semakin dekat. Tubuhnya menguarkan aroma mawar segar yang menggoda seluruh titik-titik tubuhku. Kami bersentuhan, mendesah, berciuman, mengelus, berpelukan, meronta, bergumul, mengerang, berpeluh…

Petang itu, di ranjangnya, Sinta melekatkan pakaian baja di sekujur tubuhku, sebagai perisai pelindung dari terkaman harimau-harimau busuk di rumah dan di kantor.

Aku pulang dengan senyum tersungging. Tidak akan ada yang bisa menyakitiku lagi. Dan memang tidak ada wajah masam dan mulut tajam Intan yang menyambut walau aku pulang terlambat. Juga tak terdengar aum gerombolan harimaunya yang berbaris diam sambil melongo di belakang Intan. Di malam yang masih muda itu, Intan mendekat dan memeluk sambil menyandarkan kepala ke dadaku.

“Pa, maafkan Mama, ya. Selama ini Mama egois, tidak memikirkan Papa yang benar-benar sibuk di kantor. Toh, Papa kerja juga buat Mama dan Yudha. Maaf, ya, Pa.”

Aku terdiam. Perisai baja yang dipakaikan Sinta tadi mulai meleleh dalam hangatnya pelukan Intan. Lelehannya membakar sekujur tubuhku. Dalam hati aku menangis, menahan perih lelehan baja. Aku menyesal membiarkan Sinta memakaikannya di tubuhku.

Kuedarkan pandang ke seluruh kamar. Tidak ada lagi harimau. Namun, aku amat cemas bila Intan menghirup sisa-sisa aroma mawar segar di tubuhku.
***
Wellington, 5 April 2022

Jenny Seputro, penulis asal Jakarta yang berdomisili di Wellington, New Zealand. Menyukai
cerita-cerita misteri dan thriller. Telah menerbitkan dua novel solo, novel duet, dan lebih dari
30 antologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *