Pada musim kemarau tahun lalu, ketika angin gersang bertiup mengacau debu, dedaunan kering, dan sampah plastik di tepian jalan, ayah Hartanto meninggal setelah memakan sewajan tumis jamur tahi sapi. Tidak ada tanda-tanda kematian yang biasanya menyertai perilaku atau ucapan calon mayat yang berkesan pada ayah Hartanto, kecuali bahwa ia berpikir ia adalah seekor elang yang sedang terbang menukik seekor kura-kura rawa. Tanpa berhenti meracau, ia membasuh bedilnya dengan cairan pasta gigi, lalu menembakkan isi bedil ke dadanya sendiri. Begitulah.
Ayah Hartanto seorang tamtama yang tidak mengalami kenaikan pangkat sedikit pun sejak kali pertama mendapat gelar paling bawah dari hierarki angkatan bersenjata nasional, empat puluh tahun lalu. Dalam dua puluh tugas menertibkan demonstrasi yang diamanatkan komandan kepada para prajurit, maka sebanyak delapan belas di antaranya, ayah Hartanto selalu memiliki alasan untuk tidak hadir. Mendadak meriang adalah alasan andalannya yang telah dihapal seluruh kawan prajurit dan komandannya.
Ia pernah begitu menggebu melaksanakan tugas keamanan, hanya sekali waktu, pada suatu malam di pertengahan bulan Juni, ketika kepala Hartanto menyembul dari lubang kelahiran. Saking menggebunya semangat sang ayah, sebuah batok kepala milik seorang sipil nyaris pecah oleh ulahnya. Ayah Hartanto mendapat sanksi dipindahtugaskan ke pelosok, di tepi cagar Alam Rambayan, untuk mengamankan satwa-satwa liar dan pembabatan pohon ilegal.
Sang istri meyakini tugas itu sebagai pengucilan secara tak terhormat, maka ia pun uring-uringan begitu menyandarkan bahunya di dinding kamar kontrakan yang cat putihnya luntur dan meninggalkan jejak serpih pada pakaiannya.
“Kau tidak akan pernah memiliki kesempatan menjadi jenderal sampai kapan pun,” kata perempuan itu sembari menimang-nimang Hartanto dalam gendongan. “Kita akan terjebak di hutan terkutuk ini selamanya.”
Hartanto bayi tidak pernah memiliki malam yang menyenangkan. Ia menangis dan hanya berhenti ketika menjelang subuh, ketika ayam jantan bersahut-sahutan dengan cuitan burung pagi di dahan-dahan pohon di kejauhan. Tetangga Hartanto, sepasang pemulung kayu bakar, menyarankan agar bayi itu dibawa kepada orang pintar di kaki gunung. Sebab kata mereka, bisa saja Hartanto terkena sawan. Hutan, bagaimanapun juga adalah kerajaan makhluk astral. Dan sudah sewajarnya bayi-bayi lebih peka dengan keberadaan mereka ketimbang manusia dewasa.
Ibu Hartanto setuju dengan pendapat itu. Namun, tidak halnya dengan sang ayah. Ia memutuskan membawa anaknya ke dokter umum di pusat kecamatan di Rambayan. Itu bisa lebih diterima nalarnya. Mereka mesti menempuh jalanan yang berkelok-kelok dan nyaris sunyi sepanjang tiga puluh lima kilometer untuk sampai di tempat praktik sang dokter. Mereka pulang dengan membawa sebotol sirop penurun panas untuk kanak-kanak yang dilemparkan sang istri ke halaman, sebab mereka sudah menyiapkan printilan semacam itu jauh hari, saat baru tiba di tepi hutan. Mereka punya dua belas botol pereda demam kanak-kanak dengan merek dan tampilan yang lebih meyakinkan.
“Kubilang juga apa. Dokter itu tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anakmu,” kata istrinya.
“Hartanto cuma demam.”
“Dia diganggu demit hutan.”
“Tidak ada demit di hutan.”
“Kau tidak melihatnya. Mereka ada, mengganggu kita.”
Sang suami menggeleng kesal. “Hartanto menangis terus karena kau tidak menyusuinya dengan benar.
“Aku tidak suka tempat berenergi buruk seperti ini. Kemiskinan kita akan kekal jika tinggal di sini terus.”
“Tenanglah, istriku,” sahut sang suami dengan amarah yang ditahan-tahan. “Bertahanlah sebentar lagi. Ini hanya satu dari sekian banyak rintangan yang mesti aku hadapi untuk berganti pangkat menjadi jenderal dan kau akan bergelimang perhiasan,” hibur ayah
Hartanto hampir setiap hari, hingga hari beranak menjadi bulan, dan bulan berkembang menjadi tahun. Ia berharap dapat menekan kenestapaan sang istri dengan ucapannya.
Sang istri mengangguk seraya tersenyum semata demi menghindari perdebatan yang kini, di umurnya yang ke empat puluh lima, terasa membosankan dan sia-sia. Saat itu tepi hutan Rambayan telah berangsur-angsur ramai oleh pendatang dan penduduk lokal yang beranak pinak. Dan status tamtama sang suami akan tetap lelaki itu sandang hingga ia mati. Istrinya yakin betul.
Perempuan itu telah pasrah dan menghibur hari-harinya yang pedih oleh impian penghidupan yang lebih baik di masa depan dengan berbungkus-bungkus rokok yang pada suatu hari yang ganas, ketika pohon-pohon meranggas, ia hampir membakar rumah dan hutan dengan sebatang rokok yang lupa dimatikan dan terjatuh di atas tumpukan pakaian hangat yang baru diangkat dari tiang jemuran. Beruntung Hartanto menemukan rokok itu dan kanak-kanak lugu itu mencelupkan ujung rokok yang menyala ke dalam mulutnya.
Istri Tamtama abadi itu tahu, mustahil bagi suaminya mendapat gelar yang harum jauh sebelum ia meninggal. Tidak ada upacara pemakaman yang membuat jutaan air mata rakyat menetes, bahkan tidak pula dengan air matanya. Namun ia begitu syok ketika mengetahui lelaki itu meninggal bunuh diri setelah melahap sewajan jamur tahi sapi. “Bukan hanya tidak harum, tetapi juga tidak terhormat,” racau perempuan itu sepulang dari pemakaman.
Saat itu, ia yang berjalan dipapah sang anak menuju rumah, bertemu pandang dengan seorang lelaki yang memiliki tiga lapis lemak di perutnya.
“Selamat siang,” kata lelaki itu. Suaranya seteduh sore setelah gerimis.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai jenderal yang dahulu mengamanatkan keamanan tepi hutan Rambayan pada suaminya. Bersama pengawalnya ia datang untuk berbela sungkawa.
“Masa tugasnya seharusnya dicabut delapan tahun lalu.” Lelaki itu kemudian berbicara berbelit-belit untuk menutupi kesalahan teknis yang berdampak sangat besar pada cara mati seorang tamtama.
Perempuan itu mengangguk tanpa ingin menutupi rasa jengkel yang memancar dari roman mukanya, tetapi kebanyakan jengkelnya saat itu bersumber pada kecenderungan mendiang suaminya yang berhasrat pada jamur tahi sapi. Ia bertanya-tanya, kapan dan bagaimana semua itu bermula. Sebab yang ia ingat yang datangnya dari ingatan buram terhadap perilaku suaminya yang tak lagi menggairahkan baginya, hanyalah selarik kalimat bermuatan positif, bahwa pada suatu hari ia akan berpangkat jenderal. Pasti!
Sang jenderal mohon diri. Lelaki itu sudah sangat renta sehingga sang pengawal pun menyopiri mobil jeepnya. Ia menyatakan kemungkinan-kemungkinan bagi Hartanto, anak sang tamtama malang, mendapat santunan darinya hingga pemuda itu mencapai cita-citanya, meneruskan darah prajurit di dalam keluarganya dengan syarat kematian kepala keluarga itu tidak tercium publik.
Sang ibu setuju dan sejak hari itu ia menitipkan impian berkeluargakan seorang jenderal pada Hartanto. Impian miliknya yang gagal dicapai oleh suaminya. Ia meracau dekat daun telinga Hartanto, seperti yang dahulu ia lakukan pada mendiang suaminya seakan jalan menjadi kaya hanya bisa ditempuh dengan kenaikan pangkat.
“Jadilah jenderal,” pesan sang ibu setiap kali Hartanto mengecup punggung tangannya sebelum berangkat sekolah. “Jabatan itu menjadikanmu kaya dan terhormat.”
Dua tahun kemudian, di penghujung SMA, Hartanto berbelok dari cita-cita ibunya. “Aku mau jadi pengarang,” katanya. “Aku tidak ingin menjadi jenderal. Aku tidak berani memegang bedil. Aku lebih senang memegang pensil dan bermain mesin tik.”
Sang ibu tidak buru-buru menyahut yang diartikan Hartanto sebagai sebuah persetujuan hingga menetaslah kata-kata ini dari bibir sang ibu, yang menyapu pancaran kesenangan dari wajah sang anak:
“Jangan gembira dulu. Kemungkinan paling gila dari semua jenis kegilaan yang pernah ada di muka bumi bisa saja menimpamu–jika kau mengabaikan saranku.” Perempuan itu berkata sarat akan kepedihan.
“Oh, Tuhan. Betapa mengenaskan hidupku yang sisa sedikit ini tetapi belum pernah aku cium aroma kehormatan dan kemegahan,” lanjut perempuan itu.
Jika ditatap seperti itu oleh sang ibu, Hartanto yang tumbuh menjadi pemuda penyendiri dan mencintai ruang kamarnya, buru-buru menunduk dan menyatakan ketersediaannya meneruskan cita-cita mulia sang ibu.
“Sialan!” gerutu Hartanto pada suatu sore ketika sang ibu memintanya mengangkat bedil sang ayah di hadapan pesuruh jenderal yang melakukan kunjungan rutin sebulan sekali ke rumahnya setelah ayahnya menetap di liang kubur. Mereka sedang menyusun agenda sekolah militer untuk Hartanto. Dua bulan lagi pemuda itu lulus SMA.
“Aku menggigil,” kata Hartanto mengiba pada sang ibu.
“Jangan mempermalukanku,” bisik sang ibu. “Tunjukkan kau layak diberi kehormatan rakyat dan berbakat sebagai penjinak senjata.”
Hartanto mengambil bedil kosong dari tangan ibunya. Ia menatap dua pesuruh jenderal bergantian hingga cairan bening kekuningan merembes dari celananya. Dan untuk pemanis adegan, Hartanto lalu memilih pingsan.
“Kau harus tetap jadi jenderal. Apa pun yang terjadi. Bahkan seandainya berak keluar dari mulutmu. Jangan seperti Ayahmu,” tutur sang ibu saat Hartanto membuka mata, tersadar dari pingsan yang agak lama. Sang pesuruh jenderal telah kembali ke kabupaten. Lelaki itu bilang Hartanto sebaiknya datang padanya untuk menyiapkan berkas pendaftaran sekolah militer.
“Jika pun aku jadi jenderal, aku yakin Ibu tidak akan melihatnya. Ibu sudah pasti mati saat itu.”
Sang ibu lalu beranjak ke dapur dan kembali demi mengguyur Hartanto dengan seember air rendaman piring kotor.
“Enyahlah kau iblis dajal dari jiwa anakku!”
Keesokan harinya Hartanto mendatangi kediaman sang jenderal, tetapi lelaki tua itu tidak menyambutnya sebagaimana mestinya. Ia telah berbaring di dalam peti dengan wajahnya yang dirias muda kembali sebelum akhirnya dikremasi lalu lebur menjadi abu. Di sisi kanan kiri petinya, berjaga pengawal dengan senapan yang disilangkan ke dada. Pandangan mereka menatap lurus menembus lalu lalang para peziarah dan isak tangis yang berdesak-desakan di udara.
Hartanto duduk mengerut di bawah palem di sisi kolam koi. Semerbak bunga duka cita dari para petinggi negara menyerang indra penciumannya tanpa ampun. Ia adalah anak tersesat di antara kerumunan pria berseragam dan pelayat dengan wanita-wanitanya yang meskipun berpakaian gelap tidak bisa sepenuhnya menutupi jejak hidup gemerlap dari laku dan tutur mereka.
Bahkan, hanya dengan memandang mereka sekilas, Hartanto tahu, orang-orang itu tidak pernah dijenguk kemelaratan barang sebentar. Pakaian mereka licin. Wajah mereka bercahaya. Dan kaki-kaki mereka bersih dan enak dilihat. Lelaki itu kemudian hanyut dalam perbandingan-perbandingan yang ia ciptakan yang membuat ia semakin berjarak dengan hiruk pikuk upacara pemakaman sang jendral.
Sekarang Hartanto paham mengapa ibunya berhasrat menjadikan ia dan ayahnya seorang jendral. Sekaligus pula ia paham kenapa ayahnya, dulu, membasuh bedil dengan cairan pasta gigi, lalu menembakkan isi bedil ke dadanya sendiri.
***
Indah Fai, pengarang kelahiran Banyuwangi yang kini bermukim bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Karyanya tayang di media cetak dan daring. Dua novelnya tayang di platform Dreame, Pengantin Iblis (2021) dan Sang Penjaga (2022).