Puisi, edisi 360 November 2022

Aku persiapkan, katamu suatu kali, hari yang ungu ini untuk ku
sebuah langit, –tentu dalam cat biru, juga arak-arakan awan tipis,
beberapa pohon dengan cabang nasib, dan dermaga kecil setelah
lelah menyibukkan diri. Sebuah potret menyenangkan dari suara
yang kau hafal. 

Kau barangkali berbakat menyimpan doa, tetapi setelah tekun
berlatih membenci kata, bibirmu berhambur konsonan-konsonan
kecil hidup. Serupa air bah. Seumpama hari senin. Atau bagian
-bagian dari warna lidahku. Jadi kau memutuskan disini dengan
pikiran memanjang juga gegas ke bilik barat. 

Setiap menemukan lagu dari timur jauh, kau terus berencana pergi
demi memungut kata kerja, ornamen dunia, atau partikel-partikel
dari rasa. Hari yang tiba-tiba sebatas segi meja, semakin penuh dan
utuh. Kau kumpulkan waktu, kau sulam harapan-harapan sebelum
benar siap menerjemahkan kita.

Aku akan mengirimimu surat-surat. Hanya surat. Katamu suatu kali
dari kegemaran pintu-pintu memandang halaman sebagai pasangan
juga sebuah sungai jernih setelah sesuatu yang tiba ke ujung samudra
menaikkan segala kuasa.

Tetapi kau tak mungkin tau. Atau akan pura-pura tak mengerti
aku dengan jemari gemetar, terus ingin menulismu untuk pertama 
kali. Dan menunggu hari apa, suratmu sampai meski hanya tanda
baca atau koma dari kesedihan yang kita pelihara.

Dari balik pagar rumah, atau sebelum aspal menuju jantung kita
tukang pos akan bersabar dari segala sebab keingintahuan, berkat
apa sebuah amplop berdegub dan menderu dan menyebut sebuah
nama dari kesedihan dunia.
***
Sumenep, 2022

Arsip Kerinduan

Kita akan menepi ke batas-batas paling jauh dunia
dan belajar mencuri cuaca paling perih dari hidup
berkat itu, kita memekar seperti sepasang kembang
lalu menunggu kelopak lepas, lalu membenci angin,
lalu mengutuk dingin.

Seperti orang-orang menata manekin di gerai pasar
kita berlatih kesabaran menyingkirkan masa lalu
dari setiap yang datang dan pergi di sekian ruang diri
mengeringkan jalan berkelok yang kita lalui

Setiap pertanyaan muncul, segera air mata timbul
sejak hari keberapa jarak-jarak membunuh kita?
***
Sumenep, 2022

Ritus Tigapuluh Empat Musim

Ini musim kesekian kita saling mendoakan

dari empat penjuru mata angin kita belajar
menenun kabar, memberi segala kesenangan
dan mengharap umpatan-umpatan berlayar

Atas kesediaan pilihan-pilihan cinta
Sungai gelap cekung mata
Menghardik segala
***
Sumenep, 2022

M. Rifdal Ais Annafis lahir di Sumenep dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Buku kumpulan puisinya berjudul ‘Artefak Kota-kota di Kepala’ (2021). Tulisannya terpublikasi di pelbagai media seperti: Tempo, Duta Masyarakat, Harian Sabah Malaysia, dan lain-lain. Masuk dalam 5 Terbaik Payakumbuh Poetry Festival 2021 serta Juara 1 Cipta Puisi Fakultas Bahasa & Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2022.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *