Cerpen, edisi 360 November 2022

Alia meninggalkan rumah karena cintanya kepada orang tuanya menguning, memudar, mengering, lalu tanggal seperti dedaunan, berganti dengan yang hijau dan segar namun cinta itu kini kepada Joseph. 

Kisah mereka bermula di Kopeng, sebuah desa yang terletak di lereng Merbabu, Salatiga. Jika tidak mengenal tempat ini, selembar peta dapat membantu Anda. Mulailah dari Semarang ke selatan, niscaya Anda akan menemukan Ungaran, dan setelah itu barulah Salatiga.

Tiba di Salatiga, sangat dianjurkan agar Anda melipat peta dan bertanya kepada penduduk setempat. Sebab terkadang informasi dari penduduk lebih mudah dipahami ketimbang peta. 

Tak jauh dari Pasar Kopeng, di antara rumah warga, motel, dan villa, sebuah masjid dan gereja berdiri dalam pekarangan yang sama, tanpa pagar pemisah, berdampingan sejak Orde Baru hingga kini. Umat-umatnya memangkas rerumputan yang sama, merawat tanaman yang sama, menyapu dedaunan kering yang gugur dari pohon yang sama. Di pekarangan itulah Joseph dan Alia bertemu.

Mula-mula, mereka hanya saling tersenyum serta membungkukan badan ketika berpapasan. Namun suatu sore, setelah dua hari adzan tak berkumandang, Joseph dari gereja datang ke masjid ketika Alia baru saja tiba. Joseph berjongkok di belakang mimbar, di samping kotak perkakas yang dibawanya sambil memeriksa seutas kabel.

“Mas itu sedang apa?” tanya Alia kepada perempuan di sampingnya.
“Oh, Mas Joseph dimintai tolong sama marbot. Corongnya mati, Mbak.”
“Pantas saja tak ada adzan.”

Setelah melipat mukena, ketika berniat meninggalkan masjid, langkah Alia berhenti di ambang pintu depan. Ia berdiri di situ cukup lama. Ia merasakan keganjilan saat mengamati lelaki gereja itu secara seksama, mulai dari rambut, wajah, dada, punggung, tangan, kaki, hingga tanpa sadar, lelaki itu terlukis secara jelas dan terperinci di pikiran Alia.

Dibawanya lukisan itu pulang. Dipajangnya di dinding kamar, langit-langit, meja belajar, lemari, sprei, bantal, di mana-mana. Maka ketika petang tiba dan Alia rebah di kasurnya, satu-satunya yang tampak di matanya adalah Joseph.

Betapa baiknya lelaki itu, pikir Alia. Tak semua pemuda gereja mau melakukannya. Ah, sayang sekali, ia pemuda gereja dan aku pemudi masjid. Sayang sekali? Memangnya, apa yang akan kulakukan jika ia bukan pemuda gereja?

Saat batinnya bertikai, cinta beramai-ramai mendatangi kamarnya melalui lubang bawah pintu, sela-sela jendela, rongga-rongga semen di sudut lantai, dan lain-lain. Satu per satu dari mereka memaksa untuk menginap. Alia tak sudi. Bagaimanapun, Joseph bukanlah lelaki dari golongan yang sama. Alia melarang, tetapi rombongan cinta semakin kuat menentang hingga Alia tak bisa berbuat apa-apa. Dan mereka, yang semula hanya bermaksud menginap, malah merasuki pikiran Alia, menetap di sana.

Pada November 2016, meja ditata di pekarangan masjid dan gereja karena kedua umat berniat merayakan Hari Toleransi. Alia memilih duduk di hadapan Joseph. Seusai makan, ketika orang-orang bercengkerama tentang hal-hal keseharian, Tuhan pun berulah. Joseph mengeluarkan sebuah novel dari tasnya, meletakkannya di meja untuk mencari sesuatu.

 “Aku merasa kasihan kepada Olenka.”
“Kamu membacanya juga?”
“Ya.”
“Tak ada perempuan yang tidak iba kepadanya, bukan?”
“Tentu. Perempuan kesepian, dimanfaatkan oleh suaminya.”
“Aku tak akan memperlakukan istriku seperti Wayne memperlakukan Olenka.”
“Kamu telah beristri?”
“Aku bahkan belum punya kekasih.”

Percakapan mereka berlanjut mengenai buku-buku yang mereka baca. Alia lalu bercerita bahwa wisudanya di Fakultas Psikologi tinggal menghitung hari. Untuk selanjutnya, ia ingin tinggal di Yogya. Ia jatuh hati pada kota itu tetapi ayahnya jatuh hati kepada anak kyai Desa Kopeng: Alia tidak jatuh hati kepada anak kyai tersebut.

Sementara Joseph bercerita bahwa sejak kecil ia menempati rumah yayasan bersama anak yatim piatu lainnya di bawah naungan gereja. Berkat gereja, Joseph dapat menempuh pendidika. Dua tahun yang lalu, Joseph lulus dari Fakultas Bahasa dan Seni dan ia menulis novel, cerpen, serta merawat gereja.

Semenjak hari itu, mereka jadi sering bertemu. Di Sabtu sore ketika kabut mulai turun, Joseph berdiri di tepi jalan depan gereja sedangkan Alia di masjid melipat mukena, bercermin sebentar pada lemari kaca untuk membenahi kerudungnya. Alia lalu keluar masjid untuk menghampiri Joseph. Mereka kemudian melambaikan tangan pada angkutan kota yang keluar dari kabut, yang datang dari utara untuk menuju kota.

Alia dan Joseph turun di taman kota, sebuah taman terindah dari yang paling indah di dunia, begitulah yang mereka rasakan. Kedua insan itu saling jatuh cinta. Anda tahu, bahkan cinta dapat menyihir teras-teras rumah menjadi tempat terindah, apalagi taman kota.

Dan sebetulnya, taman itu memang serupa dengan taman-taman lain: ada pepohonan rimbun, bangku-bangku, bunga-bunga, rerumputan, dan di tengahnya, terdapat kolam bundar dengan airnya yang jernih. Gumpalan awan di langit seperti terbalik di kolam itu, ikan warna-warni berenang riang di dalamnya. Bukankah itu sangat biasa?

Alia dan Joseph menuju bangku terakhir di taman itu: satu-satunya bangku yang tersisa, bangku lain telah diduduki pasangan lain. Anda tahu, bangku terakhir di sebuah taman pastilah bangku terjelek. Ia biasanya berkaki tak rata, kotor, sandarannya patah, dan terletak di tempat yang keliru: tiada pohon untuk berteduh, bising, berdekatan dengan tong sampah. Di bangku itulah Alia dan Joseph duduk.

Mereka bercengkerama, tertawa-tawa, menunjuk-nunjuk bulatan jingga di langit barat, yang bersembunyi di belakang gedung-gedung dan antena-antena pertokoan. Alia lalu menatap mata Joseph secara lekat, sangat lekat. Ada pohon di dalam bola mata lelaki itu, Alia berteduh di bawah rimbun daunnya.

Mereka kemudian berpindah ke warung bakso. Sebelum melahap suapan pertama, Alia memejamkan mata, mengucapkan allahumma bariklana fima rozaktana dan seterusnya sedangkan Joseph menyentuh kening, dada, bahu kiri, dan kanan dengan jemarinya seraya mengucap, dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, amin. Dengan cara itulah hubungan mereka berlangsung dari waktu ke waktu.

Namun, di suatu malam yang menyenangkan karena langit begitu cerah, seorang pedagang soto mendorong gerobaknya, melintasi rumah-rumah warga di jalan desa. Ia lalu terkejut karena seseorang berteriak di salah satu rumah. 

“Tinggalkan dia atau tinggalkan rumah ini!”
“Aku mencintainya, Ayah!”
“Pilih lelaki yang sama seperti kita!”
“Tak ada lelaki seperti kita yang sama sepertinya!”

Alia masuk ke kamar, mengunci pintu, memadamkan lampu. Ia tersedu-sedu di sudut kamar. Beberapa kali ia mendengar namanya disebut-sebut oleh ayah dan ibunya di ruang tamu, bersahut-sahutan antara nada rendah dan tinggi. Memar di pipinya tak seperih luka di hatinya. 

Kepada Sang Khaliq, Alia pun melempar rentetan pertanyaan. “Tuhan, jika Joseph bukan untukku, kenapa Kau mempertemukanku kepadanya?”

Tuhan tak menjawab pertanyaannya. Anda tahu, Tuhan juga tak menjawab pertanyaan Anda, atau pertanyaan siapapun.
***

Di sore lain, Alia dan Joseph kembali bertemu di sebuah sungai yang dikepung oleh pepohonan pinus tinggi hingga pucuknya menusuk awan. Mereka duduk di batu besar kelabu di tepi sungai. Percakapan mereka beradu dengan gemericik air, gemerisik dedaunan, desir angin, dan kicau puluhan burung yang melintas kian kemari di antara batang-batang cokelat pohon pinus.

“Apakah aku harus meninggalkan Tuhanku, Al?”
“Jika kau berani meninggalkan Tuhanmu, kau pun kelak berani meninggalkanku.”

Joseph menengadahkan kepala, memandang langit biru keputihan di atasnya. Perlahan-lahan, kabut tipis mulai turun. Mata mereka lalu bertemu. Wajah mereka saling mendekat. Joseph merasa jantungnya begitu gaduh, seperti derap kaki puluhan kuda di padang sabana, terutama saat mencium aroma yang tak sekalipun pernah ia cium: keringat, debu, skincare, parfum murahan, dan unsur lainnya yang menyatu dan membuat Alia adalah Alia yang ia kenal. 

Kabut pun menebal ketika bibir mereka bertemu, saling melahap, dan berhenti saat azan maghrib terdengar samar-samar. Keduanya meninggalkan tepi sungai, mengabaikan sensasi nikmat yang belum terselesaikan.
***

Setibanya di rumah, tangan kanan sang ayah menyambut Alia dengan baik: melayang ke pipi Alia. Kali itu melesat lebih cepat, kuat, dan bertubi-tubi hingga kerudungnya ditarik dari kepalanya. Di bangku ruang tamu, Alia tersedu-sedu di bawah sinar lampu yang menyala terang.

Jam kuno berdentang tujuh kali seiring dengus napas tua bangka berkopiah, dan tangisan putrinya.

“Bermesraan di hutan dengan Si Salib, apa tak ada lelaki lain? Keluargamu akan menjadi bulan-bulanan para tetangga!”
“Semestinya, kau lebih memedulikan perasaanku ketimbang mulut tetangga!”
“Apa katamu?”
“Kau mendengarku!”.
“Ya. Oleh karena itu, keluarga besar Pak Kyai akan berkunjung besok!”

Alia tak henti-henti menangis di kasurnya. Ada badai dalam kepalanya ketika terbaring di kasur, mengacaukan pikirannya, membuat badannya tergolek ke kanan dan ke kiri. Hingga tiba-tiba, jam kuno di ruang tamunya berdentang empat kali: hari nyaris Subuh. 

Alia pun meraih tas besar, mengemasi bajunya, mengendap-endap dan meninggalkan rumahnya. Di tengah kegelapan, ia melintasi jalan bebatuan dengan tangan terlipat ke dada: hawa dingin meremas badannya.

Ia memasuki langgar setelah azan terdengar. Usai shalat, ia menengadahkan tangan dan berdoa. Kepada Sang Khaliq, ia lagi-lagi bertanya, “Tuhan …, Joseph sangat baik kepadaku. Bolehkah kami bersama?”

Tuhan tak menjawab pertanyaannya dan Anda tahu persis itu.
***

Baron Yudo Negoro, seorang buruh di Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *