Catatan, edisi 364 Maret 2023
Seorang sahabat, pelukis @paulflandersartist yang sudah beberapa kali ikut pameran bersama di pusat kota London, menyamakan pameran sosial dengan: “Minta komentar ibu sendiri untuk karya kita’.
“Sudah pasti jawabannya bagus dan mendukung,” katanya kira-kira dua pekan sebelum saya menggelar pameran sosial: The British and The Beach.
“Yang diperlukan adalah komentar dari kurator,” tambahnya.
Dia jelas tidak bermaksud mengejek pameran yang saya gelar ‘untuk teman dan keluarga’ tentang bagaimana orang Inggris menikmati pantai. Apalagi dia sebenarnya salah seorang pendukung proyek dan sudah mengintip beberapa fotonya.

The British and The Beach adalah rangkaian foto yang diambil di beberapa pantai Inggris, pada musim panas, gugur, dingin, dan semi. Sekitar empat hingga lima tahun belakangan, saya mengunjungi pantai-pantai di Inggris dan memfoto perilaku orang-orang. Ada yang menarik, menurut saya, bahwa tidak semua orang Inggris pergi ke pantai untuk mandi di laut, lari-lari di pasir atau membuat kastil-kastil dari pasir. Kegiatan di pantai ternyata tak harus selalu berurusan dengan pasir dan laut.
Beberapa orang malah membaca khusuk di pantai yang sibuk, atau berbaring malas-malasan maupun tertidur lelap, maupun nonton di komputer tablet. Dalam pandangan orang Indonesia, seperti saya, ngapain repot-repot ke pantai kalau cuma malas-malasan. Di halaman belakang rumah juga bisa, atau pergilah ke taman yang lebih besar dan bagus di sekitar rumah. Kira-kira seperti itulah sudut pandang untuk proyek The British and The Beach.
Mimpi besarnya adalah berkeliling pesisir Pulau Inggris untuk mendokumentasikan perilaku orang Inggris di pantai. Sebagai negara pulau -ukurannya kira-kira dua kali Pulau Jawa- kawasan pesisir penting buat orang Inggris. Dari pesisirlah mereka dulu melancarkan kolonialisasi ke seluruh dunia, termasuk ‘mencuri’ barang-barang peninggalan budaya dan teh. Sekaligus pula pantai menjadi tujuan wisata penting, lengkap dengan asumsi ‘bagus buat kesehatan jiwa dan raga’.

Industri wisata pantai Inggris memang sempat merosot dengan hadirnya penerbangan murah sehingga warga Inggris memilih terbang ke pantai-pantai Spanyol, Portugal, Yunani, maupun Turki. Cuacanya lebih bagus dan makanan serta minuman lebih murah pula. Namun usai pandemi muncul semangat staycation atau liburan di dalam negeri sendiri ditambah lagi dengan Brexit -keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Maka pelan-pelan wisata dalam negeri Inggris, termasuk pantai, terasa lebih hidup.
Proyek The British and The Beach tak bermaksud mencatat perubahan itu namun sekedar mendokumentasikan orang-orang yang menikmati harinya di pantai. Sejauh ini mungkin baru sekitar seperlima atau seperenam garis pesisir Inggris yang sudah dikunjungi. Dan seperti banyak hobby atau pekerjaan lain, maka ada saatnya orang sampai pada satu titik tertanya-tanya sendiri, “Apa gunanya?” Sekaligus pula perlu dukungan dan masukan untuk melanjutkannya.
Saya cuma tukang foto amatir, jadi jelas tak layak untuk minta komentar kurator fotografi namun tetap ingin mendapat masukan. Jalan satu-satunya adalah menggelar, itu tadi, pameran sosial untuk kawan dan keluarga -walau sebenarnya tak ada keluarga sedarah di London. Tinggal hampir 28 tahun di London, kami memang punya sejumlah anak angkat, kakak serta adik angkat, om atau amangboru angkat, juga tante atau namboru angkat. Sudah adalah yang bisa disebut sebagai keluarga.
Bisa jadi seperti yang dibilang sahabat tadi, para keluarga angkat dan teman dekat akan memuji dan mendukung proyek pribadi saya. Cuma, mengambil analogi yang sama, dalam keluarga ada pula abang dan adik yang sering ketus menanggapi kerjaan kita, “Ngapain lu susah-susah ke pantai” atau “Foto kek gitu saja kok mau dipamerkan”. Tapi begitulah, ejekan saja pun bisa diubah menjadi masukan bermanfaat jika auranya positif. Maka saya, dengan dukungan istri, putra, dan putri, yakin bahwa pameran sosial cukup tepat buat tukang foto amatir seperti saya.

Pabrik Bir
Tempat pameran sosial dipilih adalah sebuah pabrik bir di kawasan South Bermondsey, sekitar 10 menit kereta dari stasiun utama London Bridge ditambah jalan kaki sekitar 15 menit. Pabrik bir merek Forest Road itu menyediakan area -yang disebut tap room- untuk minum-minum di salah satu pojok, yang hanya buka Kamis dan Jumat selepas jam 5 sore hingga 10 malam. Kalau musim panas, area minum diperluas hingga ke halaman semen di depan pabrik.
Jadi orang duduk di bangku dan meja kayu sambil minum bir segar yang mengalir langsung dari salah satu tong-tong besar, yang antara lain digunakan untuk fermentasi bir. Tabung-tabung itulah yang menjadi pemandangan dari bangku tempat duduk kita dan beberapa poster retro. Jelas bukan pemandangan yang indah tapi bisa juga memicu sensasi. Seorang kawan yang pernah saya ajak ke sana berkomentar, “Asyik nih suasanya, minum bir langsung di pabriknya.” Seorang teman lain dari Indonesia juga senang, “Pengalaman pertama minum bir langsung di pabriknya.”
Ketika Piala Dunia Qatar tahu 2022 lalu, Forest Road menyediakan TV berlayar lebar walau yang nonton tidak terlalu banyak. Kebanyakan pelanggan lebih suka minum bir sambil ngobrol dan paling melirik jika ada ada gol. TV ukuran 65 inci itulah yang juga digunakan untuk pameran sosial The British and The Beach.
Tayangan Slide
Akan terlalu mahal untuk seorang tukang foto amatir pemula jika mencetak sekitar 120-an foto pilihan. Belum lagi ditambah dengan kerangka-nya. Pilihan termurah adalah menyajikan sebagai tayangan slide. Lagipula proyek The British and The Beach sebenarnya bukan fotografi tapi lebih ke storytelling atau bercerita dengan bentuk rangkaian foto yang diselingi naskah sebagai cerita pendeknya.

Salah satu yang menarik buat saya, anak Medan yang merantau ke London, adalah sepertinya tidak ada aturan di pantai-pantai Inggris. Hanya ada tim petugas penyelamat yang siap membantu orang yang terseret gelombang laut. Biasanya mereka terlihat cuma memantau dari pos-nya sambil sesekali patroli sepanjang pantai untuk memastikan tidak ada orang yang terancam jiwanya karena gelombang laut.

Walau tanpa peraturan, orang-orang bisa menjaga teritori pribadi dengan baik. Yang sering digunakan sebagai pembatas teritori adalah handuk, kursi lipat, juga kain penghalang angin, maupun kursi roda anak. Jadi ketika ada orang yang baru datang ke pantai, dia akan menghormati barang-barang pembatas itu. Belum pernah saya dengar pertengkaran untuk memperebutkan teritori di pantai karena prinsipnya yang datang belakangan mengalah mencari teritori yang lebih jauh dari tempat parkir, misalnya. Pokoknya siapa duluan yang dapat.
Pada musim panas, beberapa pantai bisa amat padat dengan batas-batas teritori yang amat berdekatan. Tapi masing-masing orang saling tidak perduli sekaligus pula saling menghormati. Misalnya dua keluarga yang bersebelahan teritorinya melakukan kegiatan masing-masing. Cuma seorang kawan Inggris mengatakan tampaknya saja mereka tidak saling perduli tapi sebenarnya begitu ada kesempatan, ya ‘ngegosip’ juga tentang perilaku tetangga kiri-kanan.
Pantai juga menjadi tempat kumpul keluarga. Dalam beberapa kesempatan sering terlihat tiga generasi main ke pantai, entah cuma ngobrol sambil makan dan minum, sementara anak-anak lari sana sini atau berenang di laut. Biasanya ada satu dua orang dalam reuni keluarga itu yang tidak menyentuh air laut sekalipun. Jadi untuk apa jauh-jauh ke pantai, kenapa nggak ngumpul di halaman belakang rumah saja.
Pertanyaan itu pula yang saya ajukan secara diam-diam kepada beberapa orang yang datang ke pantai sendirian untuk membaca, main HP, atau tidur bersantai maupun cuma jalan menyusuri garis gelombang laut. Jelas masing-masing punya alasan, tapi itulah: saya tertanya-tanya saja. Kalau saya, setiap ke pantai pasti menyentuh air lautnya: entah cuma sekedar main-main air laut dengan menggulung ujung celana, atau menceburkan tubuh sambil sok-sok berenang.
Hidup sekitar 28 tahun di Inggris, saya rasanya melihat masyarakat Inggris yang semakin beragam dengan berbagai etnis. Keragaman itu juga terlihat di pantai dan masing-masing kelompok etnis, sepertinya, masih membawa kultur aslinya. Misalnya, komunitas Afrika asyik berdansa secara ekspresif dengan pengeras suara, sedang komunitas Asia Selatan tak mau duduk di pasir karena mungkin tak mau repot dengan pasir yang berlepotan ke pakaian mereka. Juga komunitas Muslim yang masuk ke air dengan pakaian tetap memenuhi kaidah Islam. Terlihat pula kegemaran selfie yang kental di kalangan komunitas Asia.

Hal-hal seperti itulah -yang terus terang hanya merupakan permukaan saja- yang saya dokumentasikan lewat The British and The Beach. Walau namanya dokumentasi, sebenarnya tak ada pretensi untuk menjadikannya sebagai dokumen kehidupan di Inggris namun lebih semacam catatan kecil tentang hiburan orang Inggris di pantai yang dibuat oleh orang Indonesia. Catatan kecil itu kemudian jadi bahan cerita untuk orang Inggris dan orang non-Inggris, sama seperti obrolan ngalor ngidul lain sambil minum bir atau kopi.
Memang begitulah skenarionya: orang melihat tayangan slide yang terus berputar tanpa henti sambil minum bir, anggur, atau jus dan menyantap jajanan kecil Indonesia: tempe goreng, tahu bacem, bakwan, lemper, dan kerupuk ikan, plus sambal Andaliman botol. Jika di dekat pintu masuk ada kursi-kursi di depan TV layar lebar maka di bagian belakang ada meja dengan jajanan kecil Indonesia itu, dengan barisan bangku dan meja tersebar di antara kedua pojok.

Malam itu juga ada hiburan musik hidup. Kawan lama -yang kami kenal sejak putri kami masih TK dulu- ternyata pemain bas amatiran. Dia bersama teman gitarisnya sering manggung di pub-pub kecil sekitar kampung kami dan, asyiknya, bersedia pula menyumbang pertunjukan di pameran sosial saya. Aliran musik duet bergelar Shouting Into The Dark adalah progressive folk. Bagi kaum berusia 60-an hingga 80-an tahun, istilah progressive rock jelas akrab dan kira-kira dari situlah mereka menggolongkan musiknya, tapi folk bukan rock. Jika sejumlah orang menikmati Shouting Into The Dark, ada juga beberapa yang tetap menonton slide dengan iringan musik progresive folok.
Beragam masukan
Ada sekitar 70-an undangan yang disebar ke keluarga dan kawan, dengan 62 orang memastikan hadir. Latar belakang mereka beraneka ragam, dari segi usia, profesi, maupun etnisitas. Misalnya, gerombolan teman anak-anak saya, yang sudah sering bertemu dengan kami, dengan usia antara 25 hingga 30 tahun. Anak-anak angkat itu ada yang orang Inggris, orang Indonesia, dan ada juga yang berdarah campuran. Perkerjaan mereka beragam, mulai perancang disain, psikolog, model, apoteker, tukang listrik, manajer studio seni, dan dua anak angkat adalah juru foto profesional.
Kemudian paman dan tante, yang semuanya pensiunan, berusia 80 tahun ke atas. Walau acara mulai jam 7 malam pada musim dingin, para paman dan tante tetap bersedia datang untuk mendukung keponakannya. Mereka semua pensiunan, entah itu mantan guru, perawat, dan juga ahli komputer. Masuk lagi kawan-kawan sebaya, seperti mantan kawan kerja maupun kawan yang kami kenal dari kawannya kawan-kawan. Kelompok ini ada yang orang Inggris, Burma, Cina, maupun Indonesia. Yang terakhir bisalah disebut adik-adik angkat, yang jauh lebih muda dari saya tapi juga lebih tua dari ‘anak-anak angkat.’ Etnis juga beragam, begitu pula dengan profesinya.

Di samping TV layar lebar, ada buku untuk masukan. Tidak semua menulis di buku itu karena beberapa datang menyampaikan langsung secara lisan, sambil menunjuk foto-foto yang dia maksud. Seorang mantan teman kerja di BBC dulu, asyik menyaksikan slide dan begitu melihat saya melintas di samping, dia langsung berdiri untuk menyampaikan pendapatnya dengan penuh semangat, “Ini bukan fotografi tapi jurnalisme. Kau memang tetap seorang jurnalis.”
Seorang kawan dekat orang Inggris tulen tampak kadang senyum-senyum sendiri ketika mengaksikan tayangan slide sekitar 120 foto sepanjang 20 menitan. Jadi saya mendekat ke sampingnya dan dia berkomentar, “Kamu amat bagus menangkap eksentriknya orang Inggris.” Menurut dia, ada beberapa foto yang memperlihatkan keunikan orang Inggris, seperti adegan piknik dengan pemandangan truk lalu lalang di pelabuhan Dover, yang menghubungkan Inggris dengan daratan Eropa. Juga seorang bapak yang tampak asyik membuat kastil dari pasir. Sepertinya anak-anaknya sudah bosan main dan giliran si bapak yang berkonsentrasi penuh menggunakan mainan plastik.

Sebagian orang mengaku ingin menunggu pameran kedua kelak, jika semakin banyak pantai yang sudah saya kunjungi. Saya memang sempat memberikan semacam pengantar kecil dan cita-cita keliling pesisir Iggris itu, hingga Skotlandia di sebelah Utara maupun Wales di Barat Daya. Salah satu menulis komentar, “Tak sabaran seperti apa nanti foto-foto yang akan tampil di pameran kedua nanti.” Rasanya kepala saya agak membesar sekejap membaca komentar itu.
Tapi yang membuat kepala saya amat membesar dan cukup lama adalah ketika salah seorang anak angkat menunggu saya benar-benar luang. Waktu itu sebagian keluarga dan kawan sudah pulang, jadi dia -juru foto profesional yang hidup dari memotret hingga ke Eropa- datang dan menjelaskan kepada saya foto-foto yang dia suka, yang dia foto di telepon genggamnya. Dia foto sebanyak 10 foto dan dia jelaskan dari yang dia suka sampai yang paling disukai.
Dan bukan hanya sekedar suka berdasarkan suka-suka subyektif namun dengan ukuran profesional. Salah satu foto seorang perempuan yang memandang lepas ke laut, misalnya, dia sebut bagus karena pada ketinggian mata, sehingga yang dipandang para penonton sama dengan dipandang obyek foto. Di foto yang lain, tentang seorang ibu dan anak yang siap-siap lomba lari di pantai, dia menyebut momen yang amat tepat, sedang di foto pasangan yang sedang menunduk, dia berkomentar, “Komposisinya sempurna dengan latar belakang barisan gubuk pantai yang beraneka warna.”

Mungkin yang dibilang sahabat saya pelukis tadi tentang pameran sosial ada benarnya. Hampir semua masukan mendukung, termasuk yang menambahkan dengan, “Saya mengharap lebih banyak gelombang lautnya.” Tapi mungkin itulah yang dibutuhkan tukang foto amatir macam saya, yang sebenarnya lebih membuat catatan kecil bergambar.
Akan halnya analogi pameran sosial dengan pameran untuk ibu kita sendiri, sahabat pelukis itu menulis email yang cukup panjang keesokan harinya. Dia suka dengan komposisi sebagian foto yang dipamerkan dan mengaku akan meniru komposisi itu untuk lukisan-lukisannya yang berikut dan di ujung emailnya menyarankan agar mulai menghubungi galeri-galeri foto di London.
Hmmmm… saya suka saran itu, tapi rasanya lebih suka di kawasan nyaman sajalah dulu. Mungkin juga karena belum punya percaya diri walau mungkin saya lebih suka ngobrol ngalor ngidul sekalian kumpul-kumpul sama keluarga dan kawan. Dan bahan obrolannya termasuk perilaku orang-orang di pantai-pantai Inggris.
***
Liston P Siregar, editor ceritanet.com