Cerpen, edisi 366 Mei 2023

Bar kepunyaan Abu Elia boleh dibilang yang termurah di Beirut selama masa pengepungan. Letaknya satu tingkat di bawah permukaan tanah. Panjang dan sempit, menyerupai sekeping biskuit segi empat. Tapi bar itu aman belaka, atau setidaknya dirumorkan cukup aman. Ada disebut dinding-dindingnya dibikin begitu kuat dan keras, namun tak seorang pun berusaha memastikan kebenarannya. 

Abu Elia menata satu sudut bar dengan kartu-kartu pos dan kadang-kadang, sepanjang petang atau saat gencarnya pengeboman, beberapa pelanggan asing akan mencomot selembar kartu pos dan mulai menulis dengan riang, seolah mereka sedang dalam tamasya. Dan Abu Elia akan memastikan kartu pos tersebut terkirim ke kantor pos esok harinya.

Bapak saya adalah operator gramofon di bar itu. Itulah pekerjaannya. Dia menghabiskan beberapa jam dan beberapa jam berikutnya di belakang bar, memutar tangkai gramofon Berliner berangka tahun 1900—tak ada listrik dan bar itu biasanya diterangi lilin-lilin. Kadang dia memutar tangkai pelan-pelan karena letih, dan jika sebiji bom mendarat di dekat sana, dia bisa kehilangan konsentrasi dan memutarnya lebih cepat. Maka musik pun jadi menggeliat serampangan. Namun tak ada seorang pelanggan pun ambil pusing, sebab suara gramofon demikian lemahnya untuk diperdengarkan keras-keras dengan cara apa pun. Yang membikin mereka tertarik bukanlah seberapa banyak musik yang dimainkan, melainkan usia pemutarnya, juga fakta yang memaparkan bahwa benda itu bekerja secara manual.

Jika kau ingin mendengar barang satu lagu, kau harus pergi ke bar. Gramofon itu kepunyaan Bapak: dia mewarisi dari Kakek, dan Kakek memainkannya saat masih sangat muda. Bapak berteman dengan Abu Elia waktu masih bersekolah dan disarankan menaruhnya di bar Abu Elia saja. Bapak seperti seorang DJ. Dia baru pulang ke rumah saat fajar dan, jika saya sudah bangun, dia akan minta saya memijiti sepasang lengannya. 

Saya senang belaka melakukannya. Dia selalu cepat tertidur manakala saya memijiti lengannya yang kekar. Bar Abu Elia pernah -suatu kali- kena gempur, oleh seonggok bom yang  meluluhlantakkan semua bangunannya. Bom tersebut melewati tiga lantai sebelum meledak dan menghancurkan gedung seperti buah pir busuk. Bapak jadi korban, tentu saja. 

Kala itu dia berada di belakang pemutar gramofon di ujung bar, jadi mustahil untuk meloloskan diri. Ledakan bom menggapai-gapai hingga angkasa, namun Bapak tetap melanjutkan memutar tangkai gramofon selama beberapa waktu, bingung akan suara gramofon yang lenyap seluruhnya. Sangat bingung, begitulah dia. Dia bahkan tidak yakin kalau lengannya benar-benar bergerak. 

Untuk beberapa saat dia berpikir bahwa saya tidak memijiti lengannya dengan benar di waktu fajar sebelumnya, dan mengutuki saya. Kemudian dia mulai letih, dan beberapa dinding serta langit-langit ambrol menimpa tubuhnya. Tapi Bapak tidak mati. Dia keluar dari pengeboman dalam keadaan hidup. Tak seorang pun menyangka, juga beberapa orang yang tinggal di dalam bangunan sekitar bar atau siapa-siapa yang berada di dalam bar kala itu tak berharap dapat hidup. Dia adalah satu-satunya, diselamatkan oleh gramofon yang tentu saja hancur-remuk. Dia bercerita ke saya bahwa, sebelum bangunan runtuh, beberapa pelanggan berkerumun di dekatnya, mempelajari gramofon dan

 mendengar suara lemah yang dihasilkannya. Sebelum menemui ajal, mereka minum bir dan berkelakar perihal Bapak dan gramofonnya.

Orang-orang di bar mati lebih cepat daripada yang dapat mereka perbuat. Saat mencapai

lokasi bangunan, saya tak tahu kalau Bapak masih hidup. Ada empat atau lima petugas ambulans di sana. Mereka sukarelawan. Salah satu menanyai saya, “Apa kamu dapat

mengidentifikasi tubuh bapakmu?” “Tentu saja,” jawab saya tanpa berpikir. 

“Berjalanlah lewat batu itu dan jika menemukannya, kabarkan ke saya,” katanya. Saya melangkah ke dalam. Bau orang-orang mati bercampur-baur dengan bir, dan beberapa mayat telah basah kuyup. Sekawanan tikus bahkan tak selamat. Mereka mati lemas dengan mata merah membeliak. Buih bir tampak masih segar dan merembes di antara bongkahan-bongkahan batu.

Mayat-mayat itu bukan jenis terbaik yang diterima para petugas ambulans. Mereka adalah

orang-orang yang mati saat menenggak alkohol dan tak akan menyenangkan menggali mereka keluar dari sana. Saya mengenali tubuh Bapak dari lengan yang biasa saya pijiti. Jari-jari tangannya masih mengepal tangkai kecil gramofon. Itu membuat saya lega dan tersenyum. Bapak keras kepala seperti keledai, meskipun biasanya bertabiat baik. 

Saya memberitahukan keberadaan Bapak pada petugas ambulans, dan kami menarik tubuhnya bersama-sama. Mudah saja mengeluarkannya, meskipun banyak puing di sana-sini. Si petugas ambulans, yang mengenakan penutup wajah berwarna putih, berkata, “Nak, kamu beruntung. Kami tak akan bisa membebaskan mayat-mayat itu sampai buldozer tiba malam ini.” 

Saya meninggalkan tubuh Bapak di dalam ambulans. Petugas ambulans melarang saya mengambil tangkai gramofon. Lengan Bapak seluruhnya berlumuran darah, mirip pembuluh darah setelah kena tusuk. Saya pergi untuk memberitahu Ibu. Saat itu saya enam belas tahun.

Di perjalanan pulang, saya dua kali menelan muntahan sendiri, dan ketika tiba, saya

menderitakan rasa sakit yang parah di usus. Saya pergi ke kamar mandi dan muntah. Muntahan berasa sangat asam, dan keasamannya barangkali telah merusak tenggorokan dan kerongkongan saya -beberapa tetes darah pun keluar. Hal itu membuat saya berpikir tentang rasa sakit yang pasti Bapak rasa manakala sepasang lengannya kehilangan banyak darah, sebagaimana telah saya lihat.

Di rumah sakit kami beroleh kabar bahwa Bapak tidak mati, namun kehilangan lengan.

Kedua lengannya. Dia di ranjang, dengan sepasang bahu yang lebar, agak mirip robot

superhero yang sepasang lengannya kena tebas setelah melakoni satu pertempuran sengit dengan sekelompok penjahat. Namun, begitu sadar dari obat bius, dia menanyai saya dalam suara tak bertenaga, “Di mana gramofon kita?”

“Hancur, Bapak. Lebur. Tak bersisa,” jawab saya.

Dia melihat ke sepasang lengannya yang buntung, seolah kehilangan gramofon mengingatkannya bahwa bencana turut juga menghantam tubuhnya sendiri. “Maka Bapakmu ini tak butuh lengan lagi,” selorohnya.

Sementara Ibu menghapus air mata, saya dipanggil ke meja resepsionis dan disodori tangkai gramofon beserta selembar kertas untuk saya bubuhi tandatangan. Itulah yang tersisa dari si mesin tua. 

Namun Bapak perlahan-lahan berubah begitu kembali ke rumah. Dia menderita beberapa kerusakan psikologis. Saya menyembunyikan tangkai gramofon darinya, tak menyebut-nyebut keberadaan benda itu di hadapannya. Dia hanya membeliak ke lengan saya dan lengan Ibu, tanpa memandang mata atau wajah kami. Dia berbicara pada kami hanya melalui lengan kami. Dia fokus memandang lengan-lengan itu beberapa kali, seolah ada lumuran tai atau sesuatu yang salah dengannya, dan kau harus buru-buru menyelipkan tanganmu ke dalam saku, atau menyembunyikan kedua lengan ke dalam sweter, membiarkan dua ujungnya menggantung kosong, seperti anak-anak saat bermain peran

jadi pengemis.

Dia kadang menanyai kami beberapa hal, seperti: “Bagaimana perasaan kalian saat melihatku? Katakan, jujur saja. Bagaimana perasaan kalian? Bukankah jadi satu kemewahan bisa memiliki dua lengan? Ibumu juga? Dia pasti merasakan hal serupa, kan?” 

Kadang-kadang juga dia meminta saya menggerakkan lengan-lengan saya dengan cara tak lumrah. “Angkat lenganmu tinggi-tinggi, lalu jatuhkan seolah-olah ia mati,” katanya. Dan saya akan menjawab, “Cukup, Bapak. Hentikan” Atau dia meminta saya berdiri di belakang dia, membiarkan sepasang lengan saya menggantung sedemikian rupa sehingga kemudian tampak seperti sepasang lengannya. “Lenganmu cocok dengan badan Bapak, bukan begitu? Tak diragukan lagi kita pasangan bapak dan anak,” katanya. 

Itu menyakitkan buat saya. 

Saya menurut saja, seolah-olah saya masih bocah ingusan. Bapak mulai jadi sangat gampang tersinggung. Bagi Ibu, itu tak ubahnya hukuman, karena Bapak tak lagi tidur dengannya, sementara ia juga tak bisa meninggalkannya. “Orang-orang akan mulai bicara dan menggunjing. Mereka akan melihat Ibumu ini sebagai wanita yang buruk tabiatnya,” katanya.

Bapak mulai buang tai dan kencing di tempat tidur, maka Ibu mulai membeli popok dan

memakaikannya . Ia mencuci biji pelir dan bokong Bapak, serta mencukur janggut Bapak dengan mesin cukur listrik -Bapak tak percaya Ibu bisa menggunakan pisau cukur manual. Beberapa usaha saya untuk meyakinkannya, bahwa dia harus percaya pada Ibu, tak berhasil. “Ibumu punya kekasih lain saat aku keluar rumah untuk bekerja di bar,” katanya “Kau mana tahu?”

Bapak dan saya akhirnya bertengkar, dan saat itu juga kami tak mengobrol sepatah kata pun. Bapak menonton sebuah acara kesehatan di televisi, tentang transplantasi anggota

tubuh, untuk tangan dan lengan misalnya. Dia memanggil saya ke kamarnya, yang tak pernah ditinggalkannya. Begitu saya tiba, dia bicara dengan suara rendah, “Aku mau mengajukan permintaan yang tak satu bapak pun pernah mengajukannya. Kalau kau bersedia, kau akan menerima pujian dan sanjungan dari semua orang -para kerabat, teman-temanmu, para tetangga. Setiap orang di lingkungan tempat tinggal kita akan menaruh hormat padamu jika kau mau lakukan hal itu untukku.”

“Tentu, Bapak,” jawab saya. “Bapak tahu saya bersedia melakukan apa saja.” Saya telah meninggalkan sekolah begitu Bapak mengalami musibah itu, dan bekerja magang di tempat tukang kayu. Sekarang saya telah bermitra dengan dua teman di sebuah perusahaan perabot, dan siap melakukan apa saja -semampu saya- demi memenuhi

harapan Bapak.

“Aku mau kau sumbangkan satu lenganmu untukku, “ katanya. “Mereka yang di televisi bilang hal itu mungkin dan dapat dilakukan secara medis.”

Saya tak bisa percaya Bapak meminta satu lengan saya. Saya bilang tidak. Saya sedang memikirkan bom dan gramofon. Saya harap saya yang kehilangan lengan, alih-alih Bapak, dan pada saat itu, seolah dia bisa membaca pikiran saya, mengatakan, “Kalau kau kehilangan sepasang lenganmu, aku akan menyumbangkan satu lenganku tanpa ragu. Apa arti sepotong lengan jika dibandingkan aku dapat melihat kau bahagia, atau kau dapat melihat bapakmu bahagia?”

“Saya setuju bahwa itu adalah sebuah permintaan yang tak seorang bapak pun pernah minta pada anaknya,” kata saya. “Itu sepenuhnya orisinal,” saya menambahkan, mengutarakan kata terakhir dalam gaya Prancis dengan nada sarkastik dan sedih. Saya mencoba meyakinkannya bahwa itu tak mungkin: “Bagaimana jika operasi itu gagal, lalu saya kehilangan satu lengan?”

Dia sontak meledak dengan kemarahan di wajahnya. Dia bilang saya egois dan, bahkan jika hal terburuk datang menuju yang terburuk, saya masih memiliki satu lengan. “Satu lengan lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali,” katanya.

Saya meninggalkan ruangan itu dan dihantui beban pikiran. Saya bersedih untuk Bapak. Saya tidak merasa marah atau kecewa. Saya hanya sedih dan bicara pada Ibu. Saya hampir bisa terima, sebab saya tak benar-benar perlu tangan ketika berurusan dengan pabrik perabot. Kerja saya hanya mengawasi desain dan kadangkala menyarankan modifikasi. Saya bahkan bisa mempekerjakan seorang asisten. Teman-teman saya tidak akan keberatan. 

Namun Ibu mencegah, memohon dengan sangat, “Jangan dengarkan bapakmu. Tolong jangan dengarkan dia. Ibu mau saja menghabiskan seumur hidup memopoki dia, membersihkan tai dari anusnya, mencukurnya, tapi Ibu tak mau melihat kau kehilangan satu lenganmu.”

Setelah itu Bapak menolak berbicara dengan saya. Dia mendendam, namun meneruskan harapannya dengan sangat arogan, sampai suatu hari saya berubah pikiran, setengah berteriak ke kamarnya dan berkata, “Baiklah, Bapak. Saya bersedia. Kita pergi bersama ke Prancis demi operasi itu.”

Saya sering bepergian ke Paris untuk mengunjungi pacar saya. Beberapa kunjungan terasa singkat namun menyenangkan, sebab saya jauh dari rumah, di mana suasananya diracuni oleh pikiran Bapak yang memburuk, juga kesedihan Ibu yang sekarang menanggung diabetes, tekanan darah tinggi, dan degup jantung yang mulai tak beraturan.

Suatu kali pacar saya memberikan kotak musik yang ada gagang kecilnya. Ketika kau

memutar gagang pengungkit dengan dua jari, kotak musik itu memainkan “Non, je ne regrette rien” dari Edith Piaf. Saya masih memiliki tangkai gramofon di Beirut dan saat saya pulang, benda itu mendorong saya agar menghubungkannya ke pengungkit kotak musik kecil. Itulah yang saya lakukan. Saya berpikir untuk memberi Bapak kotak musik yang saya modifikasi bersama tangkai gramofon sebagai hadiah ulang tahun, dengan harapan dia akan memaafkan saya. 

Namun saya berubah pikiran. Hal itu justru akan membuatnya tersinggung. Bagaimanapun Bapak menemukan kotak musik itu dan berhasil membawanya ke kamarnya. Entah bagaimana dia meletakkannya di meja samping tempat tidur di antara berbungkus-bungkus pil yang dia minum. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya meletakkan kotak musik dengan tangkai gramofon itu di meja samping tempat tidur. Tentu saja dia tidak bisa mengoperasikan benda itu dan tidak juga meminta Ibu mengoperasikan untuknya.

Mungkin dia hanya tertarik dengan tangkai gramofonnya, dan mungkin dia membiarkan kotak dan tangkai tetap tersambung karena dia sendiri tidak bisa memisahkan kedua benda itu. Segalanya tampak memalukan. Untuk pertama kali saya merasa bersalah. 

Pertama, untuk tangkai gramofon yang saya simpan selama 23 tahun sejak musibah tanpa

memberitahunya, dan kemudian memutuskan untuk menyambung tangkai itu ke kotak musik dari Prancis, negara yang sudah lama Bapak inginkan menjadi tempat untuk satu lengan saya ditransplantasikan. Saya pikir hal itu melukainya. Bapak tidak makan berhari-hari dan kesehatannya merosot. 

Dia sudah 72 tahun. Saya masuk ke kamarnya. Dia tampak pucat, terlalu pucat. Kami menghubungi dokter, yang kemudian memeriksanya dengan cepat sebelum memberitahu bahwa denyut nadi Bapak lemah dan -mungkin- hanya punya waktu beberapa jam untuk hidup. Dokter memasang infus dan berkata, “Berdoa saja. Siapa tahu ada hal baik akan terjadi nanti.” Dokter kemudian pergi.

Tak ada hal dapat saya lakukan. Saya duduk di samping Bapak, di ujung tempat tidur, mencomot kotak musik dengan tangkai gramofon, yang merupakan benda terakhir yang disentuh lengan Bapak sebelum sepasang tangannya yang malang diamputasi. Saya mulai memutarnya. Saya ingin Bapak mendengarkan musik lewat kotak musik sebelum mengembuskan napas  terakhir. Saya lihat bibirnya bergerak untuk mengguratkan sesungging senyum. 

Namun dia tidak bangkit. Dia hanya tersenyum. Sebagaimana yang pernah dilakukannya, saya beroleh kesan bahwa sepasang lengannya sedang tumbuh perlahan dari pangkalnya, seperti jamur, tangkainya mendesak naik dari dalam tanah setelah melewati satu beban berat, seperti payung penuh gembok. Lepas sudah. 

Hal itu mendorong saya hingga mulai memutar tangkai lebih cepat dan makin cepat. Jantung saya mengentak-entak tak karuan. Saya ingin lengannya tumbuh, utuh, seolah-olah bom itu tak pernah jatuh dan Ibu tidak harus menghabiskan seluruh hidupnya memopoki Bapak, dan Bapak tidak lagi berbaring di samping kotak musik kecil sembari menunggu sesuatu terjadi, sesuatu yang ajaib.
***

*. Diterjemahkan dari ‘Gramophone’, terjemahan Jonathan Wright dari bahasa Arab yang dimuat dalam antologi Bahasa Inggris ‘Jokes for The Gunmen’ (Granta Books, 2019).

Mazen Maarouf adalah penulis, penerjemah, jurnalis, dan penyair berkebangsaan Palestina-Islandia. Beberapa karya puisi dan novelnya telah diterjemahkan ke banyak bahasa termasuk Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol.

Hari Niskala, dilahirkan di Kabupaten Tulungagung. Tak banyak kegiatan berarti yang dilakukan, sebab duapertiga hidupnya sering dihabiskan di warung kopi untuk mencelotehkan hal-hal yang masih dapat dijangkau oleh nalar manusia. Juga sebulan sekali mencoba peruntungan dengan menjadi pengamen di gubuk maya sederhana bernama Sadha. Sejak pertengahan tahun 2005 mencoba sepenuh hati menggemari tim sepakbola Liverpool dan di waktu yang lebih luang menjadi pengagum tim sepakbola Juventus. Bukunya yang telah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul “Vita Brevis Suwung Longa” (Tidar Media, 2020) dan novel berjudul “Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai” (Rua Aksara, 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *