Cerpen, edisi 366 Mei 2023
Tepat di malam bulan purnama berlian, Lamia melahirkan bayi lelaki rupawan, matanya serupa kilauan berlian, dan tatapannya setajam elang. Dalam keadaan lelah teramat sangat, setelah melewati keadaan antara hidup dan mati, perempuan jelita itu tersenyum memandangi bayinya yang menyusu dengan lahap. Peluh di tubuhnya belumlah kering.
Tiba-tiba malam yang benderang perlahan menggulita. Purnama seolah ditelan angkasa. Angin menderu bersama aroma teror, terasa pekat. Wajah Lamia mendadak pucat pasi. Ia memandang jeri, saat sesosok wanita bermahkota merak muncul di hadapannya.
“Kumohon jangan!” pinta Lamia dalam ratapnya. Air matanya deras membasahi pipi, sambil terus menggelengkan kepala.
Lamia beringsut bangkit, sambil terus mendekap bayinya erat. Tapi nahas, seperti kelahiran sebelumnya, kali ini ia tak juga mampu mempertahankan bayinya setelah sepuluh kali persalinan. Wanita bermahkota merak merampas bayi Lamia secara paksa. Kemudian melesat, menghilang dalam kelamnya malam. Namun suara mengerikannya terdengar begitu membahana, membuat seluruh persendian Lamia seperti diloloskan satu persatu. Sebuah kutukan menghambur di udara, menyatu dengan semesta. Pelan tapi pasti, kutukan itu bersemayam ke dalam tubuh Lamia.
Lamia yang malang histeris sepanjang malam, sepanjang hari, hingga waktu bergulir, hingga ia terjerembab dalam kubangan frustasi tak berkesudahan. Ia tak peduli lagi pada hiruk-pikuk dunia. Hatinya dipenuhi luka yang pedih. Luka yang akhirnya menciptakan bongkahan dendam. Namun seiring dendam yang membesar, keanehan di tubuh Lamia terjadi. Mulai dari perut hingga kakinya berubah menjadi tubuh ular hitam. Matanya yang semula sebening kristal kini menjadi merah menyala dengan bola mata selegam koral. Wajah eksotisnya pun menjadi keriput dan menembaga. Lantas tumbuh sepasang taring meruncing di barisan geliginya. Makanannya tak lagi lazim yang dimakan manusia, hanya darah dan bayi yang bisa memuaskan dahaga dan rasa laparnya.
Setiap purnama tiba, ia meliuk di atas langit gulita. Berburu bayi merah yang masih beraroma darah. Dengan penuh teror ia merampas bayi-bayi dalam dekapan ibu mereka, yang hanya mampu histeris tak berdaya. Lantas dibawanya bayi malang itu ke Hutan Emerald.
Serupa monster yang kelaparan, Lamia mencongkel sepasang biji mata bayi. Tidak puas, ia pun mengorek jantungnya. Kemudian mengunyah dengan buasnya. Akan tetapi, acapkali ketika memakan bayi-bayi itu, air matanya selalu mengalir deras tanpa mampu ia bendung. Ia meraung histeris, dan mengutuk musuh abadinya.
“Atas nama Poseidon Yang Perkasa, hidupmu tak akan bahagia, Hera terlaknat!”
Kalau saja Lamia tahu pertemuan dengan Zeus di tepi Sungai Lambada beberapa tahun silam akan menjadi malapetaka, barangkali ia akan berpikir ribuan kali untuk menerima cinta penguasa Gunung Olympus itu. Tapi perempuan mana yang tidak tersihir oleh pesona Zeus?
Zeus adalah wujud dari keperkasaan dan kejantanan pria di jagat raya. Tidak ada satupun wanita yang mampu melepaskan jerat cinta Zeus. Semua perempuan yang telah dimiliki Zeus bahkan berlomba-lomba untuk menjadi yang utama. Mengalahkan satu dengan lainnya, apapun caranya.
Sayangnya terjerat cinta Zeus sama saja dengan mengibarkan bendera perang terhadap Hera. Tak ada satupun selingkuhan dewa flamboyan tersebut yang mampu melepaskan diri dari gangguan dan kutukan mengerikan Hera. Hal yang juga dialami puteri Raja Belos dari Mesir, cucu Poseidon itu.
Sembilan kali Lamia melahirkan buah cintanya bersama Zeus, tak satupun bertahan hidup. Semua mati mengenaskan di tangan sang permaisuri. Lalu tepat pada persalinan kesepuluh, selain kehilangan anak, ia bahkan mendapat kutukan mengerikan. Kutukan dari permaisuri Zeus, yang bahkan Poseidon sendiri tak mampu membebaskannnya. Akan tetapi Poseidon mengubah Lamia menjadi makhluk abadi dan penguasa di Kerajaan Belysia. Kerajaan Belysia menjadi besar pengaruhnya di separuh permukaan bumi. Begitu juga dengan teror yang ditebarkannya.
Setiap purnama tiba, bayi-bayi di seantero kekuasaan Belysia dipersembahkan kepada sang ratu. Bayi-bayi tersebut membuat kesaktian Lamia abadi. Sebab ia telah berjanji untuk membalaskan dendam kepada sang permaisuri.
***
“Waktunya telah tiba Hector, kau harus mengakhiri kekejaman Lamia,” ujar Annolieta cepat.
Sebelumnya Annolieta menceritakan tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh monster betina. Setiap malam purnama tiba, sepuluh bayi pilihan dipersembahkan kepada sang ratu yang merupakan jelmaan monster. Ia terus saja berbicara kepada lelaki yang tengah memainkan harmonikanya, pelan.
Seketika Hector menghentikan harmonikanya. Celoteh Annolieta yang sedari tadi ia anggap seperti dongeng kini terdengar semakin nyata dan mengerikan.
“Apa harus aku?” Hector meragukan kemampuannya sendiri. Tetapi gadis berparas rupawan dengan hiasan bulu merak di rambutnya itu terus saja meyakinkannya. Ia bahkan mengatakan kepada Hector tentang sebuah ramalan. Mendengar ramalan itu, Hector malah menjadi jeri.
“Hanya seorang pria yang terlahir di malam bulan purnama berlian yang dapat membunuhnya!”
Hector menatap wajah peri hutan itu lekat-lekat. Dia tahu maksud Annolieta. Peri hutan itu sudah berkali-kali menceritakan asal-usulnya. Hector bahkan sudah hapal betul bagaimana Annolieta menceritakan riwayat hidupnya. Mulai dari kelahiran di malam purnama berlian, orang tuanya tewas, hingga diasuh oleh Annolieta di dalam hutan.
Peri hutan sejatinya lebih tua dari Hector tetapi tidak membuatnya tampak renta. Mereka terlihat seperti sepasang sejoli yang masih sama-sama remaja. Hector jatuh cinta, tidak peduli siapa Annolieta. Peri hutan pun membalas cintanya. Bukan hanya itu, kekasihnya bahkan mengajarinya menggunakan berbagai jenis pusaka perang. Katanya, hal itu perlu dimiliki Hector untuk menjaga diri, minimal menjaga dari serangan binatang buas. Lantas kali itu Annolieta memintanya keluar hutan untuk menumpas seorang monster wanita. Meskipun Hector ragu, tetapi jika Annolieta yang meminta, nyawa pun akan ia serahkan.
“Katakan rencanamu,” bisik Hector akhirnya, meski ia masih didera seribu ragu. Peri hutan membisikkan rencananya.
***
Tepat tengah malam bulan purnama berlian, rembulan membundar dengan sempurna.
Sepuluh bayi telah dipersiapkan penduduk untuk dipersembahkan kepada Ratu Belysia. Halaman belakang kastil bagai siang benderang, disinari cahaya purnama berlian. Di sana sepuluh pelayan berjubah hitam menggendong bayi yang belum genap berusia satu bulan. Bayi-bayi yang telah ditelanjangi dengan tangisan menggema hingga angkasa, terdengar . Tangisan yang terdengar di seantero negeri, bagai sebuah elegi kematian yang menyayat hati.
Sang Ratu berdiri di depan altar pemujaan, tangannya direntangkan, jubahnya mengembang serupa sayap kelelawar. Lamia merapal mantra, lalu mendongakkan wajahnya tepat di bawah kilau purnama berlian. Beberapa saat kemudian satu persatu bayi yang berada dalam gendongan para pelayan, terbang menuju kepadanya.
Tak diduga siapapun, muncul seorang tamu tak diundang merusak ritualnya. Tampak seorang pemuda lancang di hadapannya menerbitkan murka tiada terkira. Lamia membelalakkan mata dan meraung kencang. Suaranya menggelegar hingga membuat tanah sekitarnya bergetar. Sang ratu menjelma menjadi monster betina. Wajah cantiknya berubah mengerikan. Bola matanya seperti melompat. Kedua kakinya berubah menjadi ekor ular raksasa. Hector terbelalak menyaksikan monster yang nyata di depan mata.
“Pengganggu! Tak ada satupun yang bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!” sentak Lamia. Ekornya mengibas dan menyabet Hector hingga terpelanting. Lalu dililitnya Hector hingga lelaki itu sulit bernapas.
“Sekarang saatnya!” teriak Annolieta yang bersembunyi dari kejauhan. Sejak tadi Annolieta terus bersama Hector.
Annolieta mencabut hiasan bulu merak dari rambutnya dan melemparkan ke arah Lamia. Monster wanita itu meraung terkena tusukan bulu merak yang terasa bagai tikaman ujung pedang. Seketika Hector terbebas dari lilitannya. Dengan cepat Hector menghujamkan pedang tepat di jantung Lamia. Sayangnya, Hector dan Annolieta tidak mengetahui bahwa monster betina itu ditakdirkan menjadi abadi. Lamia kembali meradang. Bola matanya menyala seperti kobaran api. Ia meraung sejadinya, menimbulkan deru angin yang dahsyat.
“Siapa kau!” desis Lamia dalam amarahnya.
Belum sempat Hector menjawab, Annolieta sudah berada di antara mereka. Ia tersenyum dingin. Sejurus kemudian beralih rupa menjadi ratu dengan mahkota burung merak, ratunya para dewi di Gunung Olympus. Jubahnya berkilauan dihiasi permata dan berlian.
“Apa kabar Lamia? Lama tak bertemu!” sapa Hera dengan dingin. Tatapan matanya mengarah bengis kepada Lamia dan Hector.
“Sudah kuduga bajingan itu adalah cecungukmu!” sentak Lamia dengan geram. Masih segar dalam ingatannya, perempuan laknat itu yang telah mengutuknya menjadi iblis mengerikan. “Kalau saja dulu kau tidak membunuh anak-anakku, kalau saja kau tidak merusak kebahagiaanku. Kalau saja .… ”
“Kalau saja kau tidak menggoda dan merebut Zeusku!” bentak Hera memotong kalimat Lamia. “Dengarkan aku wanita jalang, pria yang kau katakan cecunguk itu sesungguhnya adalah bayimu yang terlahir di malam purnama berlian. Aku tidak membunuhnya, aku ingin dia sendiri yang mengenyahkanmu dari muka bumi. Jadi sekarang, bagaimana rasanya diserang anak sendiri?” Tawa Hera meledak dalam dengking kebencian dan amarah. Kobaran dendamnya belum padam untuk Lamia. Tujuannya hanya satu, menghancurkan hidup seluruh wanita yang merebut suaminya.
Mata Lamia memelotot mendengarkan kenyataan pahit itu. Ia lalu beralih menatap Hector dengan tatap mata sendu. Hatinya nelangsa dan perih. Rasanya jauh lebih perih dari tikaman pusaka tersakti di muka bumi. Semua rasa bercampur di dadanya. Bayi mungilnya ternyata tumbuh menjadi pemuda tampan dan hebat. Meski tidak bisa ia terima bahwa ternyata buah hatinya menjadi tameng musuh abadinya.
Lamia kembali menjerit, mempertanyakan semesta yang begitu kejam mempermainkan dirinya. Begitu pula Hector yang tidak kalah terpukuln. Bagaimana bisa ia tertipu selama belasan tahun oleh perempuan yang sungguh-sungguh ia cintai. Perempuan yang ternyata hanya menjadikannya alat untuk membunuh ibu kandungnya sendiri.
Jantung Hector berdegup semakin cepat. Perlahan ia kembali mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Ia kembali menghunuskan pedang. Emosi yang tidak tertahan lagi membuatnya pendek akal. Ia berusaha melakukan serangan balik ke arah Hera. Sayangnya Hector lupa siapa Hera, maka belum sempat Hector mendekat, tubuhnya sudah roboh hanya dengan cahaya kehijauan yang keluar dari sorot mata Hera.
“Terkutuk kau, Hera!” jerit Lamia histeris, melihat anaknya roboh tak berdaya.
Hera tersenyum dingin. “Kau yang terkutuk!” sentaknya, lalu melemparkan butiran berlian ke arah Lamia.
Namun Lamia mampu menghindari serangan Hera. Butiran berlian meledak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian mulut Lamia menganga menampakkan lubang hitam mengerikan, lalu menyemburkan kabut pekat, sehingga menghalangi pandangan Hera. Sepersekian detik dia menyambar putranya yang telah rebah dan terbang dalam pekatnya malam.
“Dengar wanita terkutuk, aku akan terus membuat teror di muka bumi, hingga semua keturunanmu musnah tak bersisa!”
Suara Lamia menggelegar diiringi tawa yang mengerikan, serupa lengkingan teror dalam dendam yang tak akan pernah padam.
***
Sleman, 06052023
Dituturkan berdasarkan mitologi Yunani
Puput Sekar, mantan guru yang kini menjadi bakul di Sleman.