Cerpen, edisi 369 Agustus 2023

Tawaran menjadi penjaga odong-odong diterimanya karena perlu uang tambahan untuk belanja harian. Terkesan dramatis tapi nyata. Dia tak mau anaknya makan nasi panas berlauk kecap manis setiap hari. Meski melintas rasa ragu dan malu, Mirah bersikeras ia mampu menjadi penjaga odong-odong.

“Pekerjaan kasar Mbak. Cape dan berat karena harus mengangkat dan menurunkan anak-anak. Memangnya Mbak sanggup?” pemilik odong-odong pun awalnya terlihat ragu.
“Sanggup Mas. Kalau cuma membopong anak-anak naik atau turun sih nggak begitu berat…” Mirah meyakinkan. 

Maka pada suatu sore, Mirah siap di depan odong-odong, di bawah pohon mahoni besar di area taman kota yang setiap malam minggu ramai oleh orang-orang yang datang dari berbagai penjuru.

“Naik odong-odong Bu…” Seorang ibu muda yang menuntun balita, menghampiri. 

Mirah mengangguk. Dipijitnya tombol mainan paling depan, odong-odong itu berhenti.

“Mau milih yang mana?” tanya Mirah. Anak usia dua tahunan itu menunjuk roda kelinci warna merah.
“Mobil aja ya. Mobilnya bagus. Adek nanti yang nyetir…” tunjuk si ibu muda pada mobil-mobilan warna merah.

Si anak menggeleng dan tetap menunjuk kelinci.

“Kelinci katanya Bun… dedeknya pengen kelinci!” Mirah mengulurkan dua tangannya akan menggendong si anak untuk dinaikkan pada odong-odong.
“Naik mobil aja ya? Tuh bagus, warnanya merah dek…” Si ibu tetap menunjuk mainan mobil-mobilan.

Anak kecil itu menggeleng, berteriak dan mulai menangis.

“Anaknya mau naik yang kelinci bu…”Mirah tersenyum tapi hatinya mendongkol ‘Yang mau naik anaknya atau ibunya.’ 

Ibu muda itu jenis orangtua yang suka memaksakan keinginan, mungin dia mau foto di Facebook nanti pakai mobil biar berkesan mewah, bukan kelinci yang kekanak-kanakan. Mirah pun beranjak ke pasangan orangtua yang menuntun anak perempuan berupluk abu-abu. Cantik sekali. Mereka menunjuk kuda-kudaan.

“Berapa Mbak?” tanya suaminya yang ganteng, muda, dan berkaca mata merek mahal. Seperti sepasang suami istri muda yang kaya raya.
“Sepuluh ribu Mas…”
“Bukannya lima ribu Mbak?” lelaki itu menawar.
“Wahhh… tarif odong-odong sudah segitu Mas. Sudah umum…” jawab Mirah dengan suara lirih dan manggut sopan, walau sedikit kaget, Kaca mata merek mahal, eh cuma lima ribu perak buat anak diributin.
“Ya sudah…” Si lelaki memangku anaknya dan dinaikkan pada mainan kuda-kudaan.

Seiring itu, seorang perempuan muda, dengan dandanan sedikit lusuh menuntun anak kecil usia sekitar empat tahunan, ada dot tanpa botol yang menyumbat mulut anaknya yang juga terlihat sedikit dekil.

“Ini mau naik Bu…”Dia menyorongkan tangan anaknya.

Mirah mengangguk. Tersentak bau keringat, dia sempat sedikit ragu memangku anak kecil itu dan menaikan ke mobil-mobilan, pilihan ibu yang tukang paksa tadi.

“Sepuluh ribu Mbak!” Mirah manggut pada perempuan muda yang sedikit lusuh dan datang seorang diri itu.
“Dibayar sekarang ya Bu?” Perempuan itu mengasongkan lembaran kusam sepuluh ribuan. Mirah menerimanya.

Beberapa pasangan muda yang membawa anak kecil mulai berdatangan dan merubung. Odong-odong yang hanya berisi sepuluh macam mainan itu hampir penuh. Si ibu yang tadi keukeuh ingin menaikan anaknya pada mobil-mobilan, sudah mengalah pula dan anaknya tampak girang naik kelinci. Si ibu itu, dengan wajah bosan, berulang kali memotret anaknya yang tersenyum riang di atas kelinci, menggunakan HP yang hampir dua lipat besarnya dari HP punya Mirah.

“Padahal bagusan naik mobil-mobilan tuh dek…” Rupanya si ibu muda masih sibuk  dengan mobil-mobilan. Tapi si anak tak perduli dan tersenyum besar sambil mengelus-ngelus kelinci odong-odong.

Odong-odong berputar. Wajah anak-anak balita terlihat riang. Pasangan-pasangan muda yang menunggu anaknya, berdiri di seputaran odong-odong dan sibuk memfoto keriangan anak-anak mereka di atas odong-odong. Mirah yakin pastilah ada satu foto terbaik dari belasan jepretan yang kelak layak dipajang di Facebook, bertema, Kusediakan waktu khusus untuk anak tersayangku.

Mirah sesaat bisa duduk di pinggiran odong-odong, memperhatikan keriangan anak dan tingkah para orangtua yang kadang lebay. Ada satu balita yang naik odong-odong, dengan penonton dan pendukung serombongan hampir satu RT. Kakek nenek, paman bibi, bahkan sepertinya pembantu diboyong pula. Jika odong-odong si anak lewat, semua bersorak dan berteriak, seperti menyambut artis beken. Mirah tersenyum. Ya ampun…!

Ada juga sepasang suami istri yang sibuk sendiri mengintil odong-odong yang ditumpangi anaknya sambil membawa kotak plastik berisi nasi bawaan dari rumah. Odong-odong jadi ajang nyuapin makan si anak. 

Tingkah balita pun rupa-rupa. Ada yang duduk diam terpaku menikmati lajunya odong-odong. Ada yang melambaikan tangan tiada henti seperti Ratu Dunia di hadapan para penggemarnya, Ada pula yang sesekali menangis meraung minta turun tapi dicegah dan dirayu ibunya agar duduk diam. 

Yang paling mencemaskan, seorang anak yang berdiri dengan tangan menjambak lampu disko atau mengguncang-guncang mainan yang ditumpanginya. Orang tuanya tak perduli, sibuk ngobrol berdua sambil sesekali memfoto. Berkali-kali Mirah menenangkan si anak super aktif itu untuk diam. Hanya sebentar pula nurut dan detik berikutnya sudah kembali beraksi. Di belakang anak itu, duduk diam anak lelaki yang manis dengan sikap masa bodoh: melongong kosong bersemu kantuk.

“Sudah Bu. Kayanya Adit sudah tak kerasan…” Ibu si anak yang cuek itu mencolek bahu Mirah.

Mirah mengangguk. Bergerak menghentikan odong-odong.

“Sudah cukup semua. Silakan turun giliran…”Kata Mirah  melihat antrian penunggu yang akan naik.
“Kok cuma sebentar Bu? Kirain sampe anaknya bosan…” Lelaki sok kaya raya tadi masih enggan menurunkan anaknya.
“Anak Mas malah yang paling duluan naik lho. Sudah beberapa putaran…” jawab Mirah, kesal dengan kebawelan pasangan suami istri yang pelit untuk urusan anaknya. Kalau beli kaca mata bermerek bisa…
“Sebentar lagi deh Bu… kan sepuluh ribu…” tawar si suami, sambil mengangkat sedikit kaca matanya.

Mirah memasang mimik sebal.

“Anak saya nggak mau turun. Minta satu putaran lagi ya…” si ibu muda yang dekil mengangsurkan uang sepuluh ribu. Mirah mengangguk. Takjub. Ini dia, dekil tapi jujur, sambil berharap pasangan sok kaya menyaksikan ibu dekil, yang membayar sesuai harga.

“Saya titip anak saya Bu. Mau cari makan dulu di sana. Yang itu ya Bu! Ntar naikin satu putaran lagi,” mendadak seorang ibu muda menghampiri Mirah dan menyerahkan sepuluh ribu. Anak perempuan sekitar tiga tahunan sudah senyum riang saat odong-odong mulai bergerak keliling. 

Mirah mengangguk. Matanya mengekor si perempuan berlari ke arah tukang bakso yang mangkal di pinggir trotoar. Duduk sambil sibuk dengan HP setelah memesan bakso. Masih sangat muda. Anak itu mungkin anak pertamanya. Mirah jadi sedikit usil melihat dandanan yang menor dan modis, sementara anaknya tampak kucel seperti tak terurus. Apa dia tahu siapa bapaknya, celutuk Mirah dalam hati. Segera diusirnya tuduhan liarnya itu.

Mirah pun jadi ikut senang melihat anak itu tidak rewel dan sepertinya sudah terbiasa ditinggal. Ia cuek dan riang di atas odong-odong meski ibunya tidak menunggu dan tidak memfoto seperti barisan orang tua  lain.

Odong-odong kembali bergerak. Orang-orangtua lebih sumringah dan kecentilan nya melebihi anak-anak yang naik odong-odong. Mirah menyaksikan pemandangan itu sambil sesekali menyungging senyum kecil atau menggeleng kecil. 

Anak-anak masa depan, yang dicintai, dimanjakan, juga diatur semau orang tua. Beberapa bocah menangis  meraung saat dipaksa naik odong-odong oleh orangtuanya. 

“Dedeknya nggak mau bu…” dia coba mengingatkan tapi tak dianggap.

Putaran permainan berakhir. Anak-anak diangkat dari atas odong-odong. Tinggal si anak perempuan yang ditinggal si ibu menor dan modis yang tadi makan bakso. Anak itu masih duduk di atas odong-odong dengan wajah menyisakan keriangan sambil berharap akan ada keriangan lain.

“Lho…ibumu kemana Nak?” Mirah celingukan. Ibunya tak terlihat lagi di tukang bakso 

Mirah mulai panik. Membagi tatapnya pada bocah yang wajahnya mulai berubah ketakutan.

“Mamaaa….”Anak itu merengek dan sebentar saja tangisnya pecah.

Orang-orang merubung. Bertanya. 

“Duuhh maafff…” Tiba-tiba seseorang menyeruak kerumunan. 
“Kok kamu nangis sih? Ibu bilang tunggu aja. Ibu balik kok. Cengeng banget sih…” Ibu menor itu terlihat kesal dan memarahi si anak hingga tangisnya diam.

Mirah terlongo. Pun saat si perempuan pergi menuntun si anak bersama seorang lelaki, yang tak perduli pada si anak. Wah cepat banget udah ketemu pacar baru, Mirah tersenyum kecil. Dia tak bisa membayangkan dirinya menjadi menor dan modis seperti itu demi pengganti mendiang suaminya. 

Menjelang pukul delapan malam, Mira beres-beres. Tak berapa lama, pemilik odong-odong tiba, “Gimana Mbak, masih mau kerja besok.”

“Siap Mas,’ katanya menyerahkan seluruh pemasukan. Pemilik odong-odong yang berperut buncit menghitung dan memberi empat lembar sepuluh ribuan. Tak sebanyak yang dia harapkan, tapi cukup untuk beli lauk buat esok dan lusa.

Dalam perjalanan pulang, baru terasa agak lelah. Mirah masih harus jalan sekitar 20 menit sebelum bertemu kedua anaknya. Tadi si kecil merengek minta ikut, tapi tak mungkin karena dia sibuk mengurus anak-anak orang lain.

Sampai di rumah, keduanya menyerbu, berebutan memeluknya. Mirah tersenyum senang. Si besar langsung minta main catur, hadiah ulang tahun dari kakeknya dua pekan lalu, sedang si kecil minta digendong. Petang itu Mirah lelah, “Ibu mau istirahat dulu,” tegasnya dengan suara tidak sabaran, mendudukkan si kecil di tikar depan TV dan tak memperdulikan papan catur yang sudah terpajang di atas meja.

Begitu menjatuhkan tubuhnya ke kursi, bermunculan keping-keping gambar si ibu yang maksa anaknya naik mobil-mobilan, pasangan yang sok kaya, ibu dekil yang jujur, juga si ibu menor dengan pacar baru. Ada lagi seliweran-seliweran gambar rombongan se-RT, orang tua yang heboh memfoto anaknya di atas odong-odong, atau yang sibuk ngobrol berdua tak perduli sama anaknya.

Mirah pun segera bangkit, menggendong si kecil dan mendekati si besar di papan caturnya, “Ayo Mas, kamu hitam atau putih,” dengan suara yang amat riang, mungkin suara paling riang sejak ditinggal suaminya, tiga tahun lalu.
***

Ratna Ning, lahir dan besar di Subang 47 tahun yang lalu. Mulai menulis tahun 1995 dengan tulisan pertama dimuat di majalah remaja populer KawanKu. Menulis  cerpen, puisi, opini, berita yang tersebar di media cetak dan online. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan cerpen.  Selain menulis dan jadi jurnalis mandiri, juga menyukai sejarah dan budaya kearifan lokal. Aktif bergiat di Komunitas Pecinta Sejarah Subang, Kompas dan Jejak. Kini menjabat Ketua Cabang Rumah Belajar Kreatif Subang.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *