Cerpen, edisi 377 April 2024

Praaanngg!!!

Suara kelontrang menggema memecah keheningan malam. Jangkrik yang sedari tadi mengikrik tetiba diam membisu. Aku meraba-raba dalam gelap tapi barang yang kucari tetap tak ketemu.

“May! May, dima kau?” Suara Andung jelas terdengar dalam hening. Rupanya Andung mendengar suara benda terjatuh. Pantulan cahaya menyelusup di balik pintu yang sedikit terbuka. Aku terduduk di sudut sanggar tari yang gelap. Kulipat tangan memeluk lutut yang menghimpit ke dada.

“May….” Andung masih memanggilku. Pintu berderit dibuka. Sekejap sorot senter menerobos ruangan. Lalu tak lama pijar lampu menerangi seluruh ruang. Andung menghidupkan lampu yang sengaja kumatikan. “Onde mande … Apo yang kau lakukan di sini, May?” lanjutnya menghampiriku yang masih diam.

Aku hanya menatap Andung sekilas. Lalu kutundukan kepala menyentuh lutut. “Kenapa Andung belum lalok?” tanyaku sebelum ada pertanyaan lagi.

“Andung yang harusnya tanya, apa yang kau perbuat di sini?” Andung memperhatikan sekeliling. Di sudut kanan ada piring kecil yang tertelungkup dan sebatang lilin kecil yang padam. “Kau menari May?” Aku hanya menoleh sekilas, lalu membuang wajah ke arah piring dan lilin yang tergeletak di lantai.

“Aku ingin menari lagi, Andung. Aku ingin mencari cincinku yang hilang.”

“Astaghfirullah … Istighfar, May. Itu sudah masa lalu. Tak ada hubungannya dengan kejadian itu,” jawab Andung. Aku menarik napas panjang. Mungkin benar tak ada hubungan kejadian masa lalu dengan tarian. Namun entah kenapa aku ingin sekali melakukan gerakan tarian itu. Bukankah yang kualami sama dengan sejarah Tari Lilin?

Asal-usul Tari Lilin, menurut hikayat, berkisah tentang seorang gadis yang ditinggal tunangannya untuk mencari uang. Selama ditinggal, gadis tersebut kehilangan cincin pertunangan, lalu mencari sampai larut malam dengan menggunakan lilin yang ditaru di atas piring kecil. Gerakan tubuh yang gemulai, membungkuk, dan ayunan berdoa  melahirkan ritual yang sangat indah. Dari pencarian cincin pertunangan itulah, konon, tercipta Tari Lilin di kalangan gadis-gadis desa.

“Lalok lah May, hari la malam.” Andung mengusap kepalaku lembut.

Aku tersenyum sambil menggeleng. “Andung tidurlah, sabanta aku tidur.” Andung belum beranjak dari tempatnya duduk. “Aku indak apo-apo, Andung …,” sambungku meyakinkan Andung. 

Malam makin larut tapi mataku masih bergelayut kenang. Sebisa mungkin Aku ingin mengubur masa lalu namun kisah itu belum tuntas, hanya menguap begitu saja.
***

“Yon, kapan kau kembali?” tanyaku sambil menatap wajah berahang kokoh di depanku. Lelakiku yang tinggi besar itu tak berkedip. Ia masih memandang laut lepas. Keinginannya untuk merantau begitu kuat.

“Aku ingin mengubah nasib, May. Supaya bisa membawamu pergi jauh. Yakinlah, aku akan kembali. Pakai cincin ini, jangan sampai hilang. Jika ia lepas dari jarimu, aku bisa tak kembali.”

Ucapannya membuatku terpaku. Sungguh tak kumengerti maksudnya. Yon tetap pergi merantau. Tahun pertama ucapnya penuh madu. Tahun kedua ucapnya mulai kering tapi aku masih penuh harap. Tibalah aku pada hari kehilangan cincin pertunangan. Entah ke mana raibnya. Cincin itu menggelinding seperti ditelan bumi. Aku mencari ke penjuru sudut rumah. Tetap tak kutemukan.

Tahun ketiga, Yon lenyap tanpa ucap. Aku meradang. Takut jika yang diucapkan Yon dulu jadi kenyataan. Selintas kabar dari keluarganya kalau Yon hidup di Jakarta. Maka begitu kuliahku tuntas, aku pun nekad berangkat ke Jakarta: mencari kerja, juga mencari Yon setelah kehilangan cincin pertunangan. Amak dan Andung tak setuju, tapi aku tak peduli. Kulanggar perintah mereka.

Tiba di Jakarta, aku menumpang pada saudara Amak. Gelar sarjanaku cukup laku untuk segera dapat kerja, menapak jenjang karir sambil sesekali mengendus-endus Yon, hingga akhirnya aku yang bergelimang harta. Kubeli rumah di Jakarta dan mengajak Amak menemaniku namun Andung tak mau ikut. Sanggar tari yang bertahun-tahun lamanya ia bina pastilah akan tutup jika Andung tak ada. 

Tapi tujuan utamaku ke Jakarta tetap tak tercapai. Aku belum juga menemukan Yon. Keluarganya tak tahu apakah dia masih di Jakarta atau pindah merantau ke tempat lain. Yon hilang di dunia nyata tapi tidak di duna khayalku walau kucoba untuk melupakannya
***

Tahun kelima. Amak mengajakku pulang ke Padang untuk melihat makam Apak. Andung pun sudah rindu bertemu kami. Begitu tiba di rumah Andung, ada sesuatu yang langsung memelukku erat. Masa lalu itu datang mendekap dan mengaduk ingatanku kembali. Terlebih ketika melihat para gadis berlatih Tari Lilin di sanggar Andung. Aku kembali terkungkung kenangan.

“May!” Sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Andung tengah menatapku khawatir. Aku abaikan panggilan itu dan kembali melihat para gadis menari berlenggak-lenggok serasi. Kunikmati tiap gerak tarian. “May,” panggil Andung lebih keras sambil menepuk bahuku, “apa yang kau lihat?”

Aku tak menjawab tanya Andung. Kutarik napas dan menghembuskannya perlahan. Pertanyaan itu kujawab dengan gelengan kepala. Lalu aku tanya apakah benar sejarah Tari Lilin? Apakah Si gadis tak menemukan cincinnya dan tunangannya tak pernah kembali?

Andung bergegas menarikku ke luar sanggar dan meminta para anak dara terus berlatih Tari Lilin. Begitu di luar, terdengar suaranya amat cemas. “Untuk apo kau tanyakan itu, May? Kau sudah janji sama untuk melupakan semua. Kalian mungkin tak berjodoh. Ikhlaslah menerima takdir Allah, Nak.” Suara Andung penuh harap padaku. Aku diam mengangguk-angguk. 

Malam itu, ketika sanggar tari sudah sepi, aku masuk mengambil piring serta lilin yang ada di meja. Kulemaskan tubuhku untuk memulai gerakan yang gemulai, membungkuk, dan mengayun untuk isyarat berdoa. 

Praaanngg!!!

Tiba-tiba piring dalam peganganku terlepas. Aku terduduk lemas. Andung kembali mendengar suara benda terjatuh, segera datang, dan menghidupkan lampu.

Dua malam berturut-turut sejak kedatanganku bersama Amak, aku kembali didekap kegelisahan akan kenanganku terhadap Yon dan cincin pertunangan. Aku pun masuk ke sanggar tari untuk menari dengan gemulai di dalam gelap, berharap cincin pertunanganku kelak akan kutemukan di bawah sinar lilin dan Yon pun kelak bakal datang kembali. 

Tapi dua malam berjalan sia-sia dan lilin penerang mati bersamaan dengan jatuhnya piring yang kuayun-ayunkan dengan lembut.

“May, jangan seperti ini. Kau salah kalau menilai Tari Lilin sebagai gambaran seorang gadis yang mencari cincin tunangannya…,” kata Andung lembut sambil terus mengusap-usap lembut kepalaku. “Tari lilin bukan hanya itu tapi juga ucapan rasa syukur kepada Yang Maha Pencipta pada musim panen dengan hasil yang melimpah. Jadi tarian ini tidak ditampilkan dan dipertunjukkan setiap saat. Namun zaman membuatnya berubah. Yang tadinya ucapan syukur, sekarang menjadi hiburan…” Andung menyambung dan semakin lembut mengusap kepalaku. Aku terdiam, antara mendengar cerita Andung, mengenang cincin pertunanganku, dan mengutuk Yon yang menghilang. 

“Lalu apakah aku salah jika menarikannya sebagai bentuk kekecewaanku?”

“Kau tak salah jika menarikannya, yang membuatnya salah kalau kau menjadikan tarian itu sebagai pelampiasan kecewamu.” Andung seperti mendengar suara hatiku. Aku tertunduk dalam: gamang tentang semua hal disekitarku dan juga diriku sendiri. 

“Dua hari lagi ada acara kesenian daerah. Anak-anak gadis semua menari dengan pakaian warna-warni. Mereka akan menarikan Tari Lilin.”

“Aku ingin ikut menari. Bisa kan?” selaku memotong Andung.

“Kau mau ikut menari?” tanya Andung mengerutkan keningnya. “Kau yakin?”

Aku mengangguk lemah. 

“Baik, tapi dengan satu syarat.” Aku menatap Andung. Garis kerutnya terlihat jelas. “Kau menarikannya bukan untuk mengingat masa lalu tapi bergembira bersama teman-temanmu.”

“Iya, Andung. Ini tarian terakhirku. Aku ingin melupakan semuanya.”

Andung memeluk erat. Satu tangannya membelai kepalaku lembut. Aku akan melupakannya, Tuhan. Melupakan semuanya…

***

Balairung sudah dipenuhi warga. Para tetua dan ninik mamak pun berkumpul menyaksikan pergelaran tarian anak nagari. Tubuhku sudah berbalut baju tari yang dulu pernah kupakai waktu acara perpisahan sekolah. Busana adat khas Minangkabau dengan tengkuluak (hiasan Kepala), baju batabue (busana atas), lambak (busana bawah), salampang, dan hiasan dukuah (kalung), galang (gelang) dan cincin. Aku mematut di depan cermin. Andai Yon ada, pasti ia akan memujiku seperti dulu saat sekolah …

Musik mulai dilantunkan dan aku sempatkan berdiri di depan cermin di kamar rias penari.

“Cantiknya… tapi nanti akan lebih terlihat cantik menjadi anak daro.” Suara Andung mengejutkan. Andung ingin aku melupakan cincin dan Yon untuk kembali menjadi anak gadis yang bebas mencari dan dicari jodohnya. Kutatap wajah Andung lewat cermin. Ada guratan seribu harapan di wajah tua itu.

“Cincin pertunanganku sudah hilang, Andung…” jawabku lirih.

“Jangan kau kaitkan lagi dengan masa lalu, May. Semua sudah ada takdirnya.” Andung mengusap pundakku dengan lembut. Kutarik napas dengan berat. Andung betul, semua sudah ada takdirnya.

Pertunjukan berlangsung. Aku menari dengan kesungguhan hati, seolah memang mencari cincin pertunanganku yang hilang. Tepuk riuh penonton begitu ramai saat para penari memberi penghormatan terakhir. Kami masuk ke balik panggung. Semua senang karena Tari Lilin mendapat tepukan paling meriah.

Semua penari mundur dari panggung. Aku masuk ke ruang ganti dan duduk menyepi sendiri di pojok. Tiba-tiba piring dalam peganganku terjatuh. 

Praaanngg!!!

Lilin yang masih menyala sekejap padam. 

Kupejamkan mataku, mencoba melupakan cincin dan juga Yon. Aku ingin tarianku tadi menjadi jejak akhir dari Yon. 

Di pelupuk mataku sempat terlintas Yon memegang cincin pertunangan yang hilang. Lelakiku itu tinggi besar dengan rahang kokoh namun pelan-pelan menyusut kecil hingga menghilang di balik kilauan emas cincin pertunanganku. Segera kubuka mata, berharap Yon dan cincin itu nyata, tapi hanya dinding putih yang kosong di depan mataku. 

***

Malam itu, pada malam ketiga di rumah Andung, aku berjalan menyelusup perlahan-lahan masuk ke sanggar tari Andung. Ingin kulihat lagi Yon dan cincin pertunanganku di balik gerak-gerik tubuhku yang gemulai di dalam gelap. Kubuka pintu dan tampak seseorang berdiri di dekat meja tempat menyimpan piring dan lilin. Sosok yang tidak besar, juga tidak tinggi, dan tanpa rahang kokoh. Tubuh langsing itu berdiri tegak dan tegap.

“Kamu tidak boleh menari lagi…,” tegas Andung berjalan mendekati. “Tidak boleh!” Andung menghardik, kali ini dengan tangan keras menghalauku ke luar sanggar, tidak mengelus-elus lembut kepalaku lagi.
***

Keterangan:
1. Dima = Dimana
2. Andung = nenek
3. Onde mande = ya ampun ( ekspresi kaget)
4. Apo = apa|
5. Lalok = tidur
6. Sabanta = sebentar
7. Amak = ibu
8. Anak daro = calon pengantin wanita

Melly W, Penulis dan editor berdarah campuran Minang-Betawi dengan sejumlah karya: 205 lebih buku antologi bersama, 3 antologi puisi, 4 novel kolaborasi, dan 7 novel solo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *