Catatan, edisi 378 Mei 2024

Beberapa hari sebelum hebohnya Ketua RT, Diding, di Tangerang Selatan yang memaki-maki hingga memicu kekerasan fisik atas sekelompok mahasiswa yang sedang berdoa di dalam rumah, saya dan keluarga sedang berada di Krakow, Polandia. Pernah menjadi ibu kota Polandia hingga tahun 1596, Krakow kini menjadi salah satu tujuan wisata di Eropa. 

Gedung-gedung tua yang indah masih dipertahankan berdampingan dengan taman-taman hijau yang rimbun dan luas. Krakow juga menjadi pusat keberangkatan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Auschwitz, tempat tentara Nazi membantai umat Yahudi tahun 1940-an lalu. Sebagai mantan jurnalis, ingin rasanya melihat tempat terjadinya tragedi besar manusia itu dan sekaligus pula merenungkan ironinya bahwa orang-orang tidak juga mau belajar menjadi lebih baik dari sejarah buruk kemanusiaan.

Tapi rencana kunjungan ke Auschwitz itu gagal karena saya anggap remeh ‘gampanglah itu, nanti tinggal antri beli tiket dan masuk…’ Ternyata tidak segampang itu dan tak jadilah saya berkunjung ke sana. 

Jadi seharian kami menghabiskan waktu untuk lontang lantung di seputar Krakow, termasuk nongkrong di Rynek Główny yang merupakan Alun-alun Utama. Semua turis yang ke Krakow pastilah berkunjung ke Rynek Glowny, dengan daya tarik bangunan tua yang indah, dan juga restoran maupun bar yang meriah -baik yang murah maupun yang mahal- atau berkeliling naik kereta kuda yang dihias bergaya dongeng. 

Ketika mutar-mutar di Rynek Glowny itu, ternyata bersamaan dengan kegiatan doa Wojownicy Maryi, yang di Indonesia mungkin dikenal dengan Laskar Maria atau Legio Maria. Saya tidak tahu persis gerakan agama ini, tapi di salah satu situs internet disebut tujuan Wojownicy Maryi adalah mendorong agar para pria -sebagai pemimpin keluarga- taat beragama sehingga kelak seluruh anggota keluarganya juga akan menjadi umat Katolik yang taat pula.

Pagi itu, Sabtu 4 Mei, segera saya mendekati kebaktian Wojownicy Maryi yang berlangsung di tempat terbuka, persis di samping gereja utama Krakow. Kira-kira setengah dari jalur beton yang khusus untuk pejalan kaki mereka gunakan sehingga orang-orang masih bisa lalu lalang. Sambil setengah berjongkok, mereka berulang-ulang mengucap doa Maria diselingi kotbah pastor. Sekelompok pria mengangkat patung Maria, beberapa membawa bendera besar bergambar Maria, dan ada dua pria yang ikut berjongkok berdoa sambil membawa pengeras suara. Maka doa mereka terdengar oleh para turis yang lalu lalang di sekitar alun-alun itu. 

Sebagian wisatawan, termasuk saya, menyaksikan kebaktian itu sambil memotret sana-sini. Ada juga sekelompok kecil yang ikut berdoa di pinggiran tanpa harus bergabung dengan kelompok utama. Sedang yang paling banyak adalah orang-orang yang sama sekali tidak perduli dengan berlalu lalang santai, berfoto di atas monumen tua, maupun keliling naik kereta kuda wisata. Di salah satu pojok, saya melihat sekelompok wisatawan Inggris yang pada pagi sekitar jam 10-an itu sudah kira-kira setengah mabuk sambil bermain mencabut bulu kaki menggunakan stiker. 

.

Masing-masing orang menikmati pagi itu semaunya, walau hampir semua orang pasti menyadari ada sekelompok orang yang sedang beribadah. Suka-suka sendiri. Yang pasti tak ada yang mengejek kelompok Wojownicy Maryi, mentertawakan, apalagi berniat membubarkannya dengan menggunakan kekerasan fisik. Yang mau berdoa silahkan, yang mau bersenang-senang silahkan juga. Saya cukup kagum melihat dan sekaligus pula menjadi bagian kerumunan orang yang saling tak mengenal namun saling menghormati.

.

Dua hari kemudian -ketika masih di Polandia- saya membaca berita lewat Twitter tentang Ketua RT di Tangerang Selatan itu. Segeralah terkenang kembali suasana di Rynek Glowny walau jelas tak bisa dibandingkan langsung tanpa konteks budaya masing-masing. Tapi tetap saja saya yakin menghormati pilihan orang itu amat penting dalam kehidupan bermasyarakat. (Cailah… terdengar sok bijak, tapi sungguh saya sedang serius).

*** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *