Cerpen, edisi 380 Juli 2024

Cikal menutup kedua telinga sekuat tenaga. Hingga buku-buku tangannya memutih. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ia meraung dengan suara tertahan di sudut kamar. Tempat paling tersembunyi, menurutnya, di rumah ini; tak akan ada yang bisa menemukannya. Namun, suara di luar tetap terdengar keras, seolah kedua orang di luar pintu bertengkar di dalam telinganya. 

Teriakan ibunya bersahutan dengan  bentakan dan caci maki ayahnya. Suara piring pecah, kursi dan bangku dilempar. Suara pukulan dan tamparan. Suara tangisan di dalam hatinya. Semua seolah menjadi irama pengusir jantungnya melompat ke luar. Tak ada yang berubah; pekik-pekik liar akan berlangsung lama hingga kadang Cikal sampai tertidur kelelahan, 

Paginya ketika Cikal bangun, rumah itu sepi senyap, seolah tak ada lagi kehidupan. Cikal mencari-cari ke mana ibunya. Ia berputar sekeliling rumah untuk menemukan ayahnya. Nihil. Dua orang yang berkelahi sepanjang malam itu menghilang. Meninggalkan rumah. Meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Cikal panik, kembali meraung. Mencari ayah ibunya yang entah ke mana. Salah seorang tetangga yang sejak tadi malam terganggu dengan keributan di sebelah rumahnya menyadari kehampaan jiwa dalam keberadaan Cikal. Semua orang kampung akrab dengan pekik-pekik liar di rumah Cikal dan semua orang paham tak berdaya untuk melerainya. Ia pun melapor ke Pak RT, yang segera bergegas; bocah ingusan itu sedang meratapi nasibnya duduk di pintu depan. Badannya lesu, perutnya lapar; tak ada apapun di rumah yang bisa ia makan. Ia ditinggal kedua orang tuanya.

Tak seorang pun warga kampung mau dan mampu menampung Cikal. Maka Pak RT dan tetangga yang pertama kali menemukan Cikal ditinggal orang tuanya, mengantakannya ke rumah neneknya -ibu dari ayahnya yang tinggal di kampung sebelah. Mbah Titi yang tua renta menyambut cucunya yang berusia enam tahun dengan hati mengkerut. Mbah Titi marah: putra dan menantunya yang kurang ajar lenyap entah ke mana, meninggalkan anak perempuan yang tidak tahu apa-apa.

Mbah Titi sadar tak ada orang lagi selain dia yang bertanggung jawab. Mau tak mau, suka tak suka, miskin tak miskin, dia yang harus mengasuh cucunya.

“Doakan Mbah sehat, ya, ‘Le. Biar Mbah bisa membesarkanmu jadi orang hebat. Biar bapak sama simbokmu menyesal,” pintanya setiap malam seperti senandung teduh yang melelapkan Cikal. 

Tapi senandung itu justru menyadarkan Cikal tentang hidupnya dan hidup mbahnya. Hidup kerja keras yang harus dijalani hari demi hari. Ia rajin membantu Mbah Titi, juga menjaga sikap santun senantiasa. Cikal tak mau ditinggal neneknya, seperti dilakukan ayah dan ibu, yang menurut nenek, kurang ajar. 

Cikal rajin belajar di sekolah dan di rumah, juga tangkas membantu Mbah Titi jualan nasi pecal. Usai sekolah, Cikal bergegas lari ke pasar, berjongkok di samping nenek, mengumpulkan sampah-sampah buangan pembeli, mengantar pecal pesanan ke pos satpam atau warung kopi, membawa uang ke nenek, menghitung uang kembalian, dan memulangkan ke pembeli, yang kadang menyisakan koin 100 perak di tangan Cikal, yang membalas sopan, “Terimakasih Pak/Bu.”

Hari-hari yang dilakoni dengan tidak selalu riang namun hening selama bertahun-tahun. Cikal menyerap hari-harinya dengan indera kedewasaan. Namun Mbah Titi menjalani dengan sendi-sendi yang semakin perih hingga tak sanggup belanja subuh, menanak nasi, merebus  sayur, menggiling kacang, menggendong bakul, dan duduk setengah harian melayani segala jenis pembeli yang sopan, kasar, dan tidak perduli hingga Cikal datang membantu selepas sekolah.

Keduanya pun bertukar peran. Masuk SMP, Cikal menggantikan mbah sebagai pencari uang; menjadi pesuruh di pabrik batu bata. Setiap pulang sekolah, Cikal tak lagi bergegas ke pasar namun berjalan sepelan mungkin ke pabrik batu bata di ujung kampung. Tak ada simbah di sana, juga tak ada ayah ibu atau kawan-kawan. Cikal harus siap disuruh apa pun; membuat kopi, membeli rokok, mencuci piring, menjaga agar api tungku pembakar terus berkobar, atau menyapu kantor Bu Butet, pemilik pabrik. Setiap suruhan, apapun, menuju ke Cikal. Sesekali lengan kecilnya ikut membanting-banting adonan tanah liat merah pada cetakan bata, lalu merapikan permukaan dengan benang. Tapi Bu Butet pemilik pabrik tak mau sebutan buruh anak di pabrik miliknya.

Setiap usai kerja, Cikal berlari pulang dengan sisa-sisa tenaga, tak sabar bertemu mbah, yang tidak akan dia tinggalkan karena mbah tidak akan pernah meninggalkannya. Begitulah keyakinan Cikal. 

“Maafkan simbah ya, Nduk. Mbah malah ngerepotin kamu,” isak Mbah Titi setiap menyambut pulang Cikal sambil berbaring tak berdaya di dipan kayu yang keras dan tipis.
“Gak apa-apa, Mbah. Yang penting Mbah sehat,” jawabnya.
“Sebentar lagi bulan puasa, Mbah pengen puasa.”
“Gak apa-apa kalau gak puasa, Mbah? Kan mbah sudah tua, sakit pula.”
“Tapi mbah gak punya duit bayar fidyah, Le.”
“Kata guru agama, gak apa-apa kalau gak mampu mbah. Lah buat makan kita saja sulit kok. Allah pasti paham,” jelas Cikal tenang.

Dan dia ulangi hari-hari tanpa rasa di pabrik batu bata dengan memendam lelah dan rindu kepada mbah yang semakin hari semakin melemah menahan sakit di semua sendi-sendinya. . 

“Cikalllll….,” pekik Bu Butet dari ruang kerjanya di lantai atas.

Tak boleh ada suara yang tak terdengar oleh Cikal, apalagi suara Bu Butet, salah seorang langganan nasi pecal Mbah Titi yang berbaik hati menerima anak SMP kerja membantu-bantu di pabriknya. 

“Pergi kau ke toko Muslimah, terus kau kasih bon ini. Bilang aku mau sesuai pesanan! Cepat kau kerjakan“

“Baik Bu,” dan berlari turun tangga hampir tergelincir namun tersadarkan pekik Bu Butet, “Ingat apa yang aku bilang Cikal?”

“Ya, Bu, sesuai pesanan,” pekiknya tak kalah keras. 

Tiba di toko pakaian muslim dan perlengkapan ibadah, Cikal tertegun di depan pajangan kaca menatap mukena berwarna putih dengan renda senada di ujungnya. Teringat ia akan mukena mbah yang kusam dan penuh jahitan tambalan. Pemilik toko tak suka ada anak perempuan lusuh melototi dagangannya. 

“Cari apa, Dek?” Desaknya.

Cikal terkejut, tak menyadari tertangkap melototin mukena terlalu lama. Ia pun menyerahkan bungkusan dan bersuara lantang meniru Bu Butet saat menyuruhnya, “Bu Butet mau sesuai pesanan!” 

Pemilik toko masuk ke dalam, mengambil sajadah lain, memasukkan ke tas plastik dan memberi bungkusan  ke Cikal, yang tetap tak juga beranjak setelah menerima bungkusan.

“Itu dia pesanannya…. Apa lagi?” tanya pemilik toko dengan lantang penuh dendam karena tadi merasa didikte seorang anak perempuan lusuh yang menebar bau keringat. 

“Eh, nggak, Bu. Kalau boleh tahu, harga mukena itu?”  tanyanya.

“Dua ratus ribu!” bentak pemilik toko.

Cikal mengangguk yakin bahwa dia tak akan pernah punya sisa uang 200.000 untuk membeli mukena, untuk dia ataupun untuk mbah. Petang itu, Cikal tak bergegas pulang seperti biasa. Dia merasa ada yang kurang. Juga ada rasa bersalah yang bercampur ketidakberdayaan.  

***

Hari gajian tiba. Cikal semringah. Dan semakin semringah karena Bu Butet membagi bingkisan sembako lebaran untuk semua karyawan. Cikal tambah semringah lagi mengintip ada roti kaleng kesukaan Mbah Titi di bingkisan lebaran hadiah Bu Butet. Cikal berharap bingkisan lebaran itu bakal menghapus rasa bersalah dari ketidakberdayaan membeli mukena baru untuk mbah. Dia ingin segera pulang tapi Bu Butet berteriak dari lantai atas.

“Cikalllll…..” 

Dia pun berlari ke atas.

“Orang toko Muslimah bilang mata kau melototin mukena. Untuk si mbah ya… Ini kasih ke mbah… Sana kamu pulang cepat hari ini,” ujar Bu Butet. 

Cikal terpaku dan sekaligus terharu sebelum berbalik dan kembali hampir tergelincir lagi namun tersadarkan oleh suara lembut Bu Butet dari atas yang terdengar jelas, “Baik-baik kau sama simbah ya…”

Lekas ia berlari pulang, Mbah Titi harus melihat yang dibawanya. Mereka akan berlebaran dengan mukenah baru dan ada pula roti kaleng kesukaan simbah.

Namun, terlalu ramai di depan gang rumah mbah hingga Cikal kesulitan untuk lewat. Tak biasanya orang ramai  berkumpul di kampung kumuh ini. Dan keramaian berlanjut hingga ke depan rumah mbah. Cikal bingung, disambut tetangga yang memeluknya erat, mengabarkan Mbah Titi yang berpulang. 

Lagi-lagi Cikal ditinggalkan. Langit seolah merasakan duka yang sama, dan hujan turun deras seketika. Cikal tak punya kata-kata yang tersisa. Kenapa semua orang meninggalkannya? Cikal tak punya siapa lagi, kini. 

Esoknya, Cikal terduduk di samping makam mbah. Di situlah ia tidur sepanjang malam hingga penjaga makam menemukan tubuh yang telah dingin dan kaku di suatu pagi.
***

Syifa Aimbine, Ibu dua anak berzodiak Taurus ini mulai belajar menulis fiksi sejak pensiun dini dari profesinya sebagai dosen. Salah satu karyanya yang berjudul ‘Rentak Zapin’ dan ‘Jejak Luka’ sempat menjadi salah satu cerpen pilihan Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau 2022. Beberapa karyanya dapat ditemukan di media lain di antaranya ‘Emas dan Batuk Karman yang Menggila’ (Kompas, September 2023), ‘Mimin, Ibu dan Ayah-ayah’ (Ceritanet, Agustus 2023), dan lain-lain. Ikuti laman Fb: @SyifaAimBine.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *