Cerpen, edisi 385 Desember 2024

Istriku doyan membeli buah dan sayur langsung dari petani di kawasan pedesaan. Bukan dari mobil pick-up terbuka milik para penjual di tepi jalan raya -yang dia yakin: “Paling beli dari supermarket tapi sok-sok hasil tani sendiri”. Para pembeli, menurutnya, adalah orang-orang kota yang malas menelusuri jalan-jalan kampung yang sempit tapi sok romantis merasa menolong petani kampung. Jadi, tambah istriku, mereka cukup berhenti di tepi jalan raya dalam perjalanan pulang. “Nggak tahu orang itu kalau apel-nya dibeli dari supermarket dekat pompa bensin sana…”

Pilihan istriku adalah warung tani yang kecil di jalan-jalan kampung yang sempit dan berkelok-kelok naik turun, di depan lahan pertanian yang terbentang luas. Biasanya ada gubuk kecil di depan lahan pertanian, sebagai tempat parkir mobil atau traktor maupun peralatan tani lain. Area gubuk kecil itu menjadi semacam wilayah transit para petani tulen -dari rumahnya yang terletak agak jauh sebelum bekerja berkeringat di lahannya seharian. Sepanjang musim panas -ketika panen buah dan sayur yang bersamaan dengan musim liburan sekolah- beberapa gubuk kecil beralih jadi warung jualan buah dan sayur. 

Tak semua petani menjual sebagian hasil panen di gubuk transit. Banyak yang tak mau repot menata satu persatu bungkusan buah atau sayur dan harus menjaganya seharian setiap akhir pekan -ketika orang-orang kota liburan ke kawasan pedesaan. Sebagian besar petani lebih suka menjual ke pedagang partai besar yang memasok supermarket di kota. Dengan cara itu pula, maka hasil panen yang masih mentah pun bisa dijual karena akan masuk lemari pembeku dalam perjalanan menuju supermarket maupun di dalam gudang menunggu antrian untuk dipajang di rak-rak supermarket. 

Menjual langsung ke pembeli memang bisa dengan harga lebih mahal namun berisiko busuk jika tidak laku. Apalagi kalau pembelinya seperti istri saya, yang setia tapi amat telaten memilih. “Biar mahal tapi enak Pak… segar, matang di pohon,” tegasnya sambil memilih buah atau sayur yang sudah cukup matang tapi masih bisa bertahan beberapa hari lagi. Aku setuju sepenuhnya. Entah itu strawberry, apel, raspberry, pasti rasanya lebih manis dan garing -bukan lembek dalam perjalanan menuju busuk. Sedang sayur-sayuran, walau kelak direbus atau ditumis, terasa lebih segar. Mungkin saja aku sudah terpengaruh istri atau terkena siraman romantisme alam pedesaan.

Yang aku yakin 100% adalah harganya terlalu mahal. Minimal dua kali lipat dari harga supermarket. Ditambah lagi biaya bensin plus jasa menyetirku tenaga maka jadinya bisa berlipat-lipat lebih mahal dibanding supermarket. “Lihat sisi positifnya Pak… membantu para petani supaya tak dicengkram para pengusaha modal besar.” Aku pun mengangguk-angguk, sambil mengenang gengsi membaca terjemahan Das Kapital-nya Karl Marx jaman mahasiswa dulu walau tak paham maknanya, sampai sekarang.  

Kebetulan rumah kami di pinggiran kota, jadi menyetir sekitar satu jam-an saja bisalah kami tiba di lahan-lahan pertanian dan peternakan. Belanja buah dan sayur itu awalnya bukan tujuan utama tapi sambil lalu dalam perjalanan pulang. Biasanya tujuan saat liburan musim panas adalah hutan taman nasional, museum gedung kuno, atau sekedar bermalas-malasan di pantai. Pulangnya barulah berbelok sedikit ke jalan-jalan kecil dan ternyata Google bisa membantu menemukan warung-warung tani itu. 

Tapi pelan-pelan, membeli langsung buah dan sayur dari para petani bergeser jadi tujuan utama. Setiap Sabtu yang kosong kami pun langsung berangkat ke kawasan pedesaan mengikuti tujuan yang dipandu Google, dengan kode pos dimasukkan ke Sat Nav mobil. “Kalau berangkat pagi, bisa dapat lebih segar lagi Pak, baru dipetik dan nggak keduluan orang….” Aku mangguk-mangguk sambil terkantuk-kantuk mengikuti arahan Sat Nav mobil dan terbangun penuh ketika tiba di warung para petani, yang selalu berbeda-beda. Maka ketika tiba di warung, aku pun sudah dalam moda ‘bercakap-cakap’ kosong dengan pemiliknya. 

Walau sudah menjadi semacam rutinitas musim panas, harus kuakui belum menjadi rutin yang membosankan. Sepanjang perjalanan, di sela-sela kantuk dan menyetir, aku pelan-pelan menikmati pemandangan hijau yang meneduhkan. Kadang kami seperti masuk ke dalam terowongan hijau karena pohon-pohon lebat menutup langit dan kedua sisi jalan. Sesekali terlihat lautan biru di kejauhan maupun lembah-lembah hijau dengan titik-titik domba dan lembu yang sedang merumput. Apalagi menyetir berkelok-kelok naik turun jelas lebih menarik dibanding jalan raya yang lurus dengan kedua sisi yang kering: perumahan, pertokoan, atau tanah kosong.

Setibanya di warung tani, istriku seperti berlomba memilih buah dan sayur, walau kadang baru kami pembeli yang tiba di sana. Jika ada pembeli lain yang sudah tiba, biasanya kami saling menyapa basa-basi walau persaingan memilih buah dan sayur antara kaum perempuan tidak lantas terhenti. Aku tak berani ikut-ikutan memilih karena tak mau mengambil risiko divonis melakukan kesalahan fatal, “Ini apel-nya udah terlalu matang yang kau pilih,” tegas istri sekali waktu. 

Yang aman adalah tengok-tengok sedikit dan menitip pesan, “Jangan lupa aku perlu jamur yo Mak.” Selebihnya aku pun ngobrol ngalor ngidul dengan petani pemilik, sambil menyelidik, “Dimana pub dengan bir yang enak dekat sini.” Seperti kata orang bijak, “Dengarlah kearifan lokal.” 

Walau rutinitas musim panas kami itu belum membosankan, namun sekaligus pula praktis tak ada drama. Maklumlah kehidupan pedesaan -mengutip kursus Penghayatan dan Pengamalan Pancasila jaman Orde Baru dulu- ya aman tentram kerta rajasa.

Tapi mana mungkin ada kehidupan, di manapun, yang tanpa drama.
***

Pada Sabtu pagi tengah Juli, sekitar pukul 08.00 pagi di meja sarapan, istriku menemukan satu warung hasil tani di sebuah kampung di kaki perbukitan, dengan jarak tempuh 1 jam 22 menit dari rumah kami, menurut Google. Tak ada foto tentang warung itu di internet tapi istriku menemukan beberapa foto sekitar kawasan bukit dan lembah di bawahnya. “Kampung sepi kayaknya Pak…pastilah ada pub lokal yang seru juga dekat situ,” promosi istriku. Ditunjukkannya foto-foto itu, dan memang tampak menarik: kawasan hijau dengan bukit dan lembah yang berurutan. 

Dan memang setelah setengah jam lebih menyetir dengan sisa-sisa ngantuk di jalan raya tiga jalur yang mulus, kami berbelok menelusuri jalanan kampung, yang agak sedikit bergerutu tapi masih nyaman untuk mobil tua kami.Kami berdua menikmati perjalanan melewati beberapa desa, seperti gambar di kartu-kartu pos. Ada gereja tua, yang mungkin tak digunakan lagi, sekolah kecil, dan perpustakan desa, dengan rumah-rumah berbatu-bata merah yang berjarak namun masih berhubungan satu sama lain. Jadi bukan rumah-rumah yang saling menyendiri terpisah jauh. Juga bukan desa-desa yang ‘mati’ karena kami berpapasan dengan beberapa mobil, melihat penduduk desa berjalan santai di trotoar kampung, maupun satu dua orang yang lari pagi. 

Kami masih terus menelusuri jalan kampung yang berliku dan mendaki tak terlalu curam sambil istriku beberapa kali merekam video. Pada satu titik dia malah minta berhenti. “Ini jalan sempit, kalau ada mobil lain repot…,” ingatku tapi dia ngotot, “Iya tapi sepi kok, kalaupun ada yang datang kan orang kampung baik-baik, nggak keberatan nunggu bentar…” Kuhentikan mobil dan segera dia bergegas ke belakang mobil, merekam video dan memamerkannya ke aku, “Lihat nih… ini baru kampung tulen,” katanya. Kulihat memang indah, ada lembah luas dengan titik-titik pohon hijau dan garis-garis lahan pertanian. Untunglah waktu itu tidak ada mobil yang lewat. 

Perjalanan mendaki diteruskan dan terlihat rumah-rumah yang semakin jarang dengan jarak yang terpisah. Ketika Sat Nav menunjukkan tujuan sudah tercapai, kami masih berada di jalanan dengan pohon-pohon hijau yang lebat mengepung. Tak ada rumah di kiri dan kanan, juga pas tak ada mobil maupun orang yang melintas, pula tak ada kegiatan di sekitar situ. Hanya kicau burung dan hembusan angin di pepohonan yang menjadi tanda kehidupan. Jadi kuteruskan menyetir pelan-pelan dan terlihatlah tiang kayu setinggi sekitar satu meter, ‘Warung tani Bob’ dengan panah ke ke arah kiri ke jalan kecil bertanah.

“Wah seru nih Pak,” komentar istriku dan aku mengangguk-angguk bukan pertanda setuju, tapi lebih penasaran seperti apa kelak warung si Bob itu.

Sekitar seratus meter, kami temukan gubuk kecil dengan halaman rumput luas yang kami duga menjadi tempat parkir. Di belakang gubuk tak berdinding itu, terpampang lahan pertanian dan padang rumput luas dengan domba dan sapi sedang merumput. Indah. Pagi itu, sekitar pukul setengah sepuluh pada musim panas bulan Juli, hanya ada mobil kami, aku, dan istri. Di bagian bawah atap gubuk tertulis besar, ‘Warung Kejujuran’ yang terbaca dari tempat parkir. 

Mendekati gubuk kecil, ada tiga tiang pengumuman dengan papan hitam kecil bertulis kapur putih. Tulisannya tampak sudah lama namun masih terbaca jelas karena di atas papan hitam ada semacam atap yang melindungi sehingga hujan tidak memudarkan tulisan kapur. Pesan yang disampaikan pastilah serius, pikirku, karena terlindiungi dengan baik. Kami membacanya.

Yang pertama menjelaskan tidak selalu ada penjaga di warung dan pembeli diharapkan jujur untuk membayar sesuai dengan harga ke dalam kotak. Di bagian paling bawah ada peringatan dengan huruf besar, “Senyumlah, kamu tampak di kamera.” Kepalaku langsung mendongak dan di dalam gubuk kecil tampak tiga kamera: satu di belakang menghadap ke depan, satu di sisi kiri, dan satu di sisi kanan. Jelas orang yang berlalu lalang di dalam gubuk akan terpantau oleh kamera.

Istriku tersenyum, “Wah ini dia Pak…” dan langsung masuk menyerbu. Sudah biasa ada orang yang menjual dengan prinsip kejujuran di kampung-kampung, cuma umumnya menjual telor ayam yang ditaruh persis di depan rumahnya. Penduduk memelihara ayam di belakang rumah dan bertelor, lantas ditaruh di depan pagar berbungkus dan dikasih harga. Orang kota yang lewat berhenti, menaruh uang di dalam kotak kaleng, dan mengambil telurnya. Transaksi beres.

Tapi rasanya baru sekali kami menemukan warung kejujuran di sebuah kampung terpencil di kaki bukit yang sepi penduduk dan menjual berbagai hasil tani. Ada beragam buah, juga beraneka sayur, lantas kentang, serta sejumlah anak tanaman di dalam pot-pot kecil. Informasi harganya lengkap dan jelas, jadi pembeli mengambil pilihannya, memasukkan ke dalam karung kertas -yang akrab lingkungan- dan memasukkan uang ke dalam kotak bergembok. Istriku langsung bergegas menelusuri meja-meja yang memajang buah, sayur, serta anak tanaman tadi.

Sedang aku, yang sudah terbangun total tapi tak menemukan rekan cakap-cakap, meneruskan membaca pengumuman di papan hitam kedua. “Sharon dengan mobil nomor SH 42O NN tidak diperkenankan datang ke warung ini. Mohon segera pergi!” Aku tersenyum kecil, membayangkan kekesalan Bob si pemilik warung dan sekaligus kenakalan si Sharon, entah apalah itu. Di papan hitam ketiga tertulis, “Paul pemiliki BMW 5 Series biru metalik dilarang di sini. Segera pergi!” Kubayangkan kenakalan Paul pastilah lebih parah dari Sharon karena pilihan kata peringatannya lebih kasar untuk Paul. 

Belum selesai aku membayang-bayangkan sosok Paul dan Sharon, datang mobil Toyota pick-up warna hitam dan parkir di samping mobi kami. Muncullah seorang pria berbadan besar dan kekar dengan celana pendek hijau gelap, oblong putih, dan sepatu boot hitam. Di pinggang sebelah kanannya tergantung pisau panjang di dalam sarung kulit hitam yang sudah lusuh. Tubuh, pakaian, dan pisau itu cocoklah membentuk karakter petani yang sehari-hari mengandalkan tenaga fisik di alam terbuka. 

Dia menyapa sopan dengan suara berat yang akrab, “Selamat pagi…” dan mendekat ke istri, “Saya punya uang kembalian, jadi tak usah harus membeli genap.” Lantas dia menata-nata beberapa kotak kosong di bagian paling belakang gubuk. Aku menduga, dia mungkin melihat ada orang datang lewat layar di telepon genggam yang terhubung dengan kamera di warung.

Aku berjalan mendekat ke Bob, yang kuduga sebenarnya cuma pingin tampak sibuk karena memang tak ada yang perlu ditata. Mungkin dia tak enak jika cuma memandangi kami berbelanja hingga berkesan menekan cepatlah membeli sebanyak-banyaknya. Jadi pura-pura sibuklah dia.

“Itu Sharon orang mana?,”
“Orang kampung sini,” kata Bob, “Rumahnya di sebelah kanan di belokan kedua sana. Kalau nanti kamu pulang, mungkin bisa melihat mobilnya,” tambah Bob menghentikan kerjaanya dengan bahasa tubuh menyampaikan pesan: ‘siap ngobrol.’
“Dia belanja nggak bayar ya,” pancingku.
“Awalnya bayar, tapi kurang, terus nggak bayar. Terakhir malah ngambil uang dari dalam kotak.”
“Lha… kan digembok.”
“Itulah. Dia bisa buka. Dia pindahkan kotak uang terus badannya menutup kotak. Waktu aku datang tak ada uang lagi di dalam kotak padahal sebelum dia, ada beberapa pembeli.”
“Tragis juga ya. padahal dia orang sini. Mestinya kan saling dukung.”
“Itulah…,” kata Bob spontan.
“Setelah pengumuman itu, dia masih pernah datang?”
“Waktu pertama kali baca pengumuman, dia masih ngambil buah dan sayur, tapi aku langsung ke sini. Dia ngotot selalu bayar dan tidak pernah mengambi apapun. Aku bilang, terserah… tapi saya harap kamu tidak ke sini lagi.”

Aku mengangguk-angguk namun sebenarnya tertanya-tanya: orang sekampung kan mestinya saling mendukung, entah membantu menjaga warung kalau Bob lagi sibuk atau ikut bersih-bersih sampah, misalnya, bukan malah nyolong.

“Kalau Paul nyolong apa?”
“Dia itu tukang listrik… Membantu orang-orang tua di sini, tapi dia mencuri uang dari para orang tua yang minta bantuannya…”
“Nggak dilaporin polisi?
“Walah repot manggil polisi, nanti ditanya macam-macam dan belum tentu mereka memburu pencurinya…”
“Paul sering ke sini juga?”
“Nggak pernah, tapi dilarang!, bukan cuma di sini tapi di kampung ini!” tegas Bob.
“Mobilnya BMW mewah tapi maling,” komentarku.
“Itu si Sharon kurang apa, nomor mobilnya kan pakai nama dia….Kan bayar mahal… SH 42O NN itu kan Sharon.”
“Oh iya ya, manusia ini ada segala macam….”

Istriku mendekat dengan karung kertas dan kuambil, cukup berat. 

“Semuanya 37. Ada tiga bungkus strawbery, dua bungku raspbery, satu ikat celery, sama sebungkus kentang…” kata istriku mengeluarkan empat lembar pecahan 10.
“Terimakasih… jadi 35 saja,” kata Bob mengembalikan 5 dari sakunya.
“Beneran….”
“Ya, untuk pembeli pertama hari ini…” kata Bob renyah.

Kami pun pamitan dan melewati barisan anak tanaman. Istriku mencium aroma tanaman mint dan Bob langsung nyelutuk, “Ambil satu, nggak usah bayar…” Istriku pun mengambil satu dan dalam perjalanan dari depan warung ke mobil, aku kasih tunjuk pengumuman tentang Paul dan Sharon. Istriku membaca seksama dan tersenyum, “Maling ada di mana-mana…”

Begitu di dalam mobil, istriku membuka sebungkus strawbery dan menawarkan ke aku: manis, garing, dan segar. “Memang enak ya….”komentarku renyah, tak kalah dengan nada suara Bob tadi. Ada keriangan, ada keramahan, dan ada kekaraban di balik suara itu.

Waktu menyetir turun, kucoba menemukan rumah Sharon di sebelah kanan belokan kedua dari warung Bob. Memang ada rumah tapi tak ada mobil bernomor SH 420 NN parkir di halamannya. Kuteruskan menyetir sambil berharap berpapasan dengan BMW 5 Series biru metalik tapi hingga kami tiba di pub usulan Google -karena aku lupa bertanya pada Bob- tak terlihat mobil SH 420 NN maupun BMW 5 Series biru metalik.
***   

Tiga pekan kemudian, kami kedatangan seorang teman dari luar kota, di wilayah tengah pulau yang jauh dari pantai. Rumah kami dekat pesisir, jadi kami usulkan pesiar ke pantai yang disambutnya riang. Setengah harian berbaring malas-malasan di pasir dengan siraman matahari, istri saya memutuskan singgah di warung tani Bob dalam perjalanan pulang.

“Warung Bob asyik karena warung kejujuran yang mestinya nggak ada yang jaga…” kata istriku membuka cerita tentang kunjungan kami ke warung tani Bob sebelumnya. “Buah dan sayurnya juga lebih segar, mungkin karena pertaniannya terpencil jadi polusi lebih sedikit.”

Saat menelusuri jalan sempit yang berbelok-belok dan mendaki, teman kami tampak menikmati pemandangan sekitar, sambil tertanya-tanya riang, “Seperti apalah kelak warung yang akan kita kunjungi itu…” Sementara benakku terbayang-bayang dengan SH 420 NN dan BMW 5 Series biru metalik. Keduanya tak terlihat hingga kami akhirnya parkir di depan warung tani Bob.

Istriku langsung menggenggam teman kami masuk ke gubuk memilih buah dan sayur. Aku keluar santai, berharap Bob akan segera muncul karena pastilah masih ingat wajah kami lewat layar telepon genggamnya. Berjalan santai, aku lihat ada tiang pengumuman papan tulis hitam keempat yang baru, “Toyota pick-up hitam dilarang masuk! Kami sudah melaporkanmu ke polisi. Para pelanggan, mohon jangan percaya Toyota pick-up hitam adalah pemilik warung ini.”

Kulihat istrrku dan teman kami masih nikmat memilih buah dan sayur sambil menghitung harga yang kelak mereka harus masukkan ke kotak bergembok. “Kita tunggu Bob sebentar ya Pak… biar dapat diskon lagi,” saran istriku. 
“Nggak usah, namanya juga warung kejujuran…” sergahku dengan suara tergesa. Tak bisa kubayangkan bertemu tatap muka langsung dengan seorang pencuri berbadan besar dan kekar berbekal pisau panjang di daerah terpencil yang sepi.

“Cepatlah…,” kedesak lagi istri dan teman kami dengan suara penuh cemas, tak mau menjadi kilmaks drama yang melibatkan pisau panjang di sebuah kampung di kaki bukit yang terpencil sepi. 
***  

Liston P Siregar, editor ceritanet.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *