Cerpen, edisi 392 Juli 2025

Perkenalkan, Maksum. Kulitnya legam karena terbakar sinar matahari. Rambut dipotong cepak dan badannya kekar. Ia datang ke rumah pakai baju hijau kusam dan sepatu kulit warna coklat, yang kotor tapi masih tampak kuat. Saya kenal sepatu itu karena dulu milik saya yang dialihkan sebagai pengganti sepatunya yang sudah tak punya tempat untuk tambalan lagi.

Maksum adalah teman sebangku di SD dulu dan kami masih sering berhubungan, lebih dari dua puluh tahun. Dia sering datang ke kantor dan minta kerjaan. “Jadi apa pun boleh lah… cleaning service juga mau,” kata Maksum, tamatan sekolah pelayaran. Dia sempat jadi pelaut, tapi dilarang istrinya karena mereka jadinya hanya bertemu satu kali setiap enam bulan. 

Sejak itu Maksum gonta-ganti pekerjaan, mulai dari buruh pabrik celana jeans, satpam, pembersih sekolah, helper di stasiun TV, petugas satpol PP, penjual tahu keliling, tukang kebun di apartemen dan sebagainya. Pada masa-masa selang antara segala macam kerjaan inilah dia biasanya datang ke kantor atau rumah untuk minta pekerjaan. Karena saya tak punya koneksi yang baik dan meluas, biasanya kami jadinya cuma ngobrol sambil makan siang. 

Dan selalu saya bekali dia uang untuk ongkos, entah sebagai pinjaman -begitulah alasannya- atau pemberian lepas begitu saja. Setiap kali menerima pinjaman atau pemberian itu, wajahnya berkesan tak enak. Setiap kali.

Ia tinggal di sebuah mushola di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dulu orang tuanya punya rumah di belakang mushola, tapi diagunkan untuk utang demi biaya hidup sehari-hari. Ketika akhirnya dijual, tinggal sedikit sekali uang yang tersisa. Setelah dibagi-bagi bersama dua kakaknya, maka untuk pertama kali Maksum mampu mengirim uang agak besar ke anak istrinya. Tapi ia harus tinggal di musholla.

Soal penjualan rumah ini membuat hubungan dengan ayahnya putus sama sekali. Ia jadi benci ayahnya yang dianggap tak mampu menanggung biaya hidup keluarga. Ibunya sudah lebih dulu meninggal. Si ayah menggunakan uang hasil penjualan rumah untuk pulang kampung dan kawin lagi. Maksum tak bisa memaafkan ayahnya -“Egois sekali,” vonisnya keras. Karena tak bisa menerima keberadaan ibu tiri itulah -dan niatnya mengirim uang ke anak istri- maka Maksum memutuskan tinggal di musholla. Dia menolak ikut pulang kampung.

Maksum orang yang jujur dan lembut hati. Beberapa kali ia berhenti dari pekerjaan karena soal-soal yang membuat hati nuraninya gelisah. Ketika jadi satpam di gedung perkantoran di Jakarta Pusat, ia mundur karena diminta bekerjasama kongkalikong dengan orang dalam untuk menggelapkan barang-barang inventaris. “Saya tak mau sok pahlawan, tapi saya juga tak mau terlibat soal begituan,” tegasnya. Padahal ia bisa kerja di sana lewat sogokan ke orang dalam dengan uang pinjaman yang menggadaikan ijazah SMK pelayarannya.

Di pabrik shampo, ia ikut kelompok yang protes ketika seorang rekannya menderita kecelakaan di tempat kerja hingga putus tiga jari. Si rekan cuma dapat ganti rugi basa-basi yang jelas tak cukup untuk mendukung kehidupan keluarganya karena manajemen pabrik memutuskan kecelakaan itu sebagai kesalahan sendiri. Sejumlah pekerja protes, termasuk Maksum yang tak sabar melihat ketidakadilan di depan mata mereka. Para pimpinan pemrotes dipecat sedang kelompok pengikut ditekan untuk mengundurkan diri. Maksum termasuk yang mundur karena, “buat apa kerja di tempat jahat seperti itu…” yakinnya.

Sedang sebagai satpol PP, Maksum tidak tahan bertengkar dengan para pedagang kaki lima. “Apalagi kalau ibu-ibu yang menarik-narik barang dagangannya supaya nggak digaruk,” tuturnya. “Kalau malam, saya nangis di musholla. Kenapa saya harus kerja seperti itu…,” ceritanya dengan mata berkaca. Hanya sebulan ia tahan jadi satpol PP karena dihantui mimpi-mimpi buruk setiap kali usai bertugas menertibkan pedagang kaki lima di perempatan Cijantung, di bawah jalan layang.

Maksum pun sempat bergabung dengan Jamaah Tabligh. Pernah ia ‘menghilang’ sekian lama dan tiba-tiba nongol di rumah saya memakai peci putih dan celana panjang ngatung tinggi di atas mata kaki. Saya kaget, sedang ia tersenyum lebar. Wajahnya sumringah menggantikan wajah keruh yang biasa dipasang kalau sedang memohon-mohon kerjaan. Sirna sudah wajah keruh itu, entah kemana. Saya senang melihatnya berseri-seri begitu.

Dan semakin senang mendengar cerita riangnya berkeliling untuk berdakwah ke segala penjuru diiringi tidur nyenyak yang damai di masjid-masjid. Saat ia bercerita, tak ada kesusahan tergambar di wajahnya. Padahal biasanya jika minta tolong dicarikan pekerjaan, wajahnya selalu penuh kesuraman. Ketika ditanya kabar anak-istrinya, ia menjawab pendek; “Saya pasrahkan kepada Allah”. Saya tak bertanya lebih lanjut apa yang dimaksudnya dengan ‘pasrah’.

Maksum menikah dua kali. Dari istri pertama lahir dua anak yang ditinggalkannya di Ngawi, kota asal istrinya. Maksum jarang sekali mengirim uang apalagi menengok. Sang istri pun marah besar dan minta cerai. Kini Maksum putus hubungan sama sekali; tak pernah menengok, tak pernah menelepon, tak pernah menulis surat, apalagi mengirim uang.

Ia menikah lagi dengan janda beranak dua dan mendapat satu anak. Kali ini dia tinggalkan keluarganya di sebuah kota di Jawa Tengah, yang tak dia sebut selain “ya di Jawa Tengah sana…” Sudah tiga tahun dia tak menengok mereka walau sesekali masih mengirim uang. Dengan upah yang selalu nyaris di bawah UMR, tak banyak yang bisa ia sisihkan. “Mereka di kampung ditampung oleh keluarga besar istri,” begitulah pembelaan dirinya.

Maksum bahkan sempat bergabung dengan FPI, karena tiba-tiba mengaku tak puas dengan kegiatan Jamaah Tabligh. Katanya -yang sempat diulang-ulangnya- hidup di Jamaah Tabligh itu ghirah. Awalnya saya pikir urusan ‘gairah’ ternyata ghirah ia gunakan untuk merujuk pada sentimen dan semangat beragama. Soalnya para pemimpin di Jamaah Tabligh sering menyebut-nyebut “Umat Islam dijadikan korban di mana-mana di dunia” tapi para pemimpin jamaah tak bisa memberi jawaban memuaskan jika ditanya lebih lanjut.

Maka ketika jemaah pengajian di musholla Pasar Rebo kedatangan seorang guru ngaji yang bersemangat, Maksum pun langsung ketularan semangat itu. Bergabunglah ia dengan Front Pembela Islam. Dia pun bercerita dengan semangat tinggi ketika berkunjung ke rumah saya dengan dengan baju koko putih dan peci hitam.

Ceritanya cukup seru dan sempat mengagetkan karena Maksum yang saya kenal adalah sosok yang halus. Bersama FPI, kisahnya, dia ikut membawa tongkat bambu menyerbu ‘tempat-tempat maksiat’ di Kemang. “Saya ikut ngancurin botol-botol minuman keras aja. Saya nggak mau ngerusak kaca atau pintu”. Bagaimanapun tidak ada kesan bangga di suaranya. “Sebetulnya saya bingung. Itu kan punya orang ya, kenapa diancur-ancurin gitu,” tambahnya dengan suara lembut bernada retoris. 

Pelan-pelan pangilan hatinya yang halus membuat dia selalu bisa menemukan alasan untuk tidak ikut konvoi merusak barang-barang milik orang lain. Begitulah pengakuannya dan saya percaya karena sudah mengenalnya puluhan tahun.

Saya duga pastilah dia senang jika diajak membantu orang yang terkena bencana daripada ikut kekerasan atas nama agama. Tapi saya tak tahu apakah ia sempat jadi relawan tim bencana FPI dan ia pun tak pernah cerita soal itu.

Yang saya tahu, Maksum beralih ke pengajian para habib. Penjelasannya kali ini adalah pengajiannya yang berbeda dengan FPI dan juga tanpa kekerasan. Ia hanya ikut konvoi kesana kemari lalu bersalawat ‘untuk mengala berkah dari habib’.

Entah dapat berkah atau tidak, nyatanya Maksum masih datang lagi ke rumah, juga masih meminjam uang. Habib yang menjadi gurunya konon minta pas foto untuk lamaran kerja yang akan dibantu. Tapi Maksum tak punya uang, sedang habib yang mau membantu itu tak memberinya uang recehan untuk sekedar pas foto sekalipun. 

Maka datanglah dia ke rumah saya di Cilangkap setelah berjalan kaki dari Pasar Rebo sekitar tujuh kilometer. Seperti yang lalu-lalu, saya tak selalu perlu alasan untuk memberinya uang, jadi saya serahkan uang untuk ongkos dan pas foto. Kali ini Maksum tampak percaya diri menerimanya dengan pernyataan tekad yang nyaring dan tegas: ”Nanti saya kembalikan kalau sudah kerja. Saya janji!” Kata-kata yang sudah terdengar puluhan kali, nyaris sebanyak pertemuan saya dengannya.

Tiga bulan kemudian Maksum datang lagi. Wajahnya masih murung. Dugaan saya janji kerjaan dari Habib gagal. Tanpa saya tanya ia langsung bercerita: “Saya ke rumah habib dan kaget ‘Rik. Mobilnya ada enam. Ada Alphard, ada Jip gede banget… macam-macam,” jelasnya. Saya tanya darimana si habib dapat mobil-mobil itu dan Maksum menjawab sambil menahan tawa; “Itu rejeki dia, ‘Rik. Saya nggak mau tahu…’

Hari itu Maksum tak meminjam uang dan menolak keras ketika saya serahkan uang untuk ongkos. Ia bahkan pamit agak lebih cepat daripada biasanya, sementara janji kerjaan dari habib tak disinggung sama sekali.  

Ketika saya pindah ke Inggris, saya tak pernah lagi mendengar kabar Maksum. Hubungan kami rupanya fisik semata, bukan lewat telepon, surat, atau media sosial. Bertahun-tahun ia datang ke rumah maupun ke kantor dan kadang menunggu berjam-jam sebelum saya kembali dari kantor atau selesai rapat, ternyata kami berdua tak pernah bertukar nomor telepon, apalagi akun media sosial.

Sepertinya hidup saya sudah lepas dari Maksum.

Suatu ketika saya pulang liburan ke Jakarta dan tak terpikir tentang Maksum. Namun dua orang pria -yang satu paruh baya dan satu lebih muda- mendadak muncul ke rumah untuk bertemu saya. 

Suara bapak paruh baya terdengar amat berhati-hati ketika memastikan bahwa saya memang kenal Maksum. Begitu saya iyakan, mengalirlah ceritanya tentang Maksum, yang sering berkunjung ke rumahnya di Cililitan. Maksum rupanya memacari putri bapak itu dan belakangan hamil. Maksum pun dituntut untuk menikahi, tapi terus menghindar. Sampai suatu saat, Maksum terdesak tak bisa mengelak lagi dan mengajak bapak pacarnya ke rumah saya di Cilangkap, yang tergolong besar dibanding rumah-rumah di sekitarnya.

Si bapak melanjutkan cerita sementara laki-laki yang lebih muda diam saja. “Maksum bilang ini rumah saudaranya…sepupunya, gitu,” kata si Bapak. “Anehnya, saya nggak diajak masuk, cuma di pagar. Malah waktu ada orang mau ke luar rumah, dia justru narik tangan untuk ngajak kabur,” tambah si bapak. Kali ini kunjungan bapak paruh baya adalah untuk mencari Maksum, yang raib tanpa kabar apapun sejak tiga bulan terakhir. Sementara kehamilan pacar Maksum, putri si bapak paruh baya, semakin menua.

Giliran saya yang menjelaskan panjang lebar hubungan saya dengan Maksum. Saya berhati-hati memilh kata-kata untuk menjelaskan hubungan itu karena bakal jadi berita buruk. Dan si bapak paruh baya pun mengangguk lemas. “Sebetulnya saya sudah duga. Kalau memang betul ini rumah saudaranya, kenapa dia lari waktu ada orang keluar rumah….” tuturnya dengan suara pelan, kehabisan harapan. Sesudah menyatakan berkali-kali bahwa ia percaya pada saya dan berbasa-basi sebentar, si bapak dan pria muda yang diam terus selama kunjungan itu pun pamit.

Saya antar keduanya ke halaman dan melihat mereka menghilang  berbelok di ujung gang. Saya tak langsung masuk rumah tapi berdiri terpaku merenungkan Maksum, calon bayinya, pacarnya, bapak paruh baya, dan keluarga serta orang-orang di kampung mereka di Cililitan. Saya kehabisan akal dan rasa untuk menjelaskan Maksum kepada diri saya sendiri.

Sejak itu saya tak pernah mendengar kabarnya lagi. Sudah berapa lama? Sepuluh tahun? Dua belas tahun? Tiga belas setengah tahun? Entahlah. 

Tapi saya khawatir Maksum, atau cerita tentang dia, bakal datang lagi. Entah kapan.
***

Eric Sasono, pemerhati film yang meraih gelar Doktor dalam bidang studi film dari King’s College London pada tahun 2019 setelah menyelesaikan studi S2 di Universita Nottingham. Ikut menyumbang tulisan di buku ‘Menjegal Film Indonesia’ pada tahun 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *