Puisi, edisi 395 Oktober 2025

Aku temukan sepotong nama
terselip di bawah dipan tua—
masih bau,
masih menyimpan sepasang mata
yang dulu sering menatapku
seperti doa yang gugur di tengah malam.

Ada surat tak terkirim,
tertulis dengan darah haid ibumu
yang kutemukan di kantong jaket
saat kita masih percaya waktu
bisa diajak berdamai.

Di kamar ini,
kenangan bukan ingatan,
tapi bangkai yang memilih membusuk diam-diam
karena tak pernah benar-benar dimakamkan.

Dan aku,
masih duduk di atasnya
seperti raja kecil
yang tak tahu
tahtanya dibangun dari luka.
***
Ponorogo, Juni 2025

Engsel Tua

Kau pernah menampar pintu itu
dengan nama lengkapku.
Huruf-hurufnya memercik ke lantai
seperti pecahan gelas
yang dulu kita pakai untuk bersulang
atas luka yang tak selesai-selesai.

Kini, engselnya berkarat.
Pintu itu tak terbuka lagi,
bukan karena rusak,
tapi karena enggan mendengar
suara langkahmu kembali tanpa maksud.

Aku masih menunggu di baliknya,
memeluk bayangmu yang kau tinggal
seperti bau tubuh
di bantal bekas
yang tak sanggup kutukar dengan doa.

Setiap malam,
pintu itu bergeser sedikit demi sedikit,
bukan oleh angin,
tapi oleh rindu
yang tumbuh seperti jamur
di dada yang tak sempat bersih.
***
Ponorogo, Juni 2025

Jenazah Cinta

Cincin itu masih di sana,
di jari jenazah kita
yang belum dikuburkan.
Kau ingat?
kita pernah sepakat
cinta tak harus selesai—
tapi tak pernah siap
menghadapi sekaratnya.

Aku simpan cincin satunya
di laci yang penuh potongan kuku
dan sisa rambutmu
yang rontok tiap kali kita bertengkar.

Ada karat di sisi dalamnya,
bukan karena waktu,
tapi karena janji
yang gagal disepuh doa.

Dan malam ini,
aku menyusup ke kamar kenangan
untuk melihat siapa
yang lebih dulu berubah jadi mayat—
aku, atau perasaan ini.
***
Ponorogo, Juni 2025


S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Aktif di Himpunan Mahasiswa Penulis STKIP PGRI Ponorogo dan menjabat sebagai Wakil Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Jawa. Pernah menjadi Juri Cipta Puisi FLS3N 2025. Ia juga telah meraih banyak kejuaraan kepenulisan tingkat nasional dan tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya dimuat di Erakini.id, Jernih.co, Ceritanet.com dan media lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *