Cerpen, edisi 395 Oktober 2025
Dengarkan penuturan suaranya di Difalitera: https://difalitera.org/kita-mengasong-saja-ayah/
Anak perempuan itu berusaha menawarkan dagangannya kepada seorang perempuan paruh baya berpenampilan flamboyan. Di bawah terik matahari yang menyengat, suara dan sosoknya tertelan oleh keriuhan para pedagang lain sehingga perempuan paruh baya dari luar kota itu tidak menangkap keberadaannya. Namun, anak itu masih berusaha selama beberapa menit.
Ditingkahi debur ombak yang terus menerus menghantam dinding pantai, tangan kecilnya mencoba menyelinap melalui celah-celah tubuh para pedagang lain. Akan tetapi, tiga kali tangannya keluar masuk menyodorkan dagangan ke tengah kerumunan, tawarannya tetap tak bersambut. Ia kalah lihai dibanding para pedagang lain yang semuanya orang dewasa.
Setelah berkali-kali mencoba dan tetap gagal, anak itu akhirnya mundur dan memilih mencari wisatawan lain. Ia junjung sebagian barang dagangannya di atas kepala, dan sebagian lainnya ia tenteng dengan kedua tangannya. Ia menyeret langkahnya ke arah barat. Pasir pantai membuat langkahnya menjadi berat.
Anak itu -biasa dipanggil Munarep oleh teman-temannya- sebenarnya cukup tinggi untuk ukuran seorang anak yang telah lulus sekolah dasar setahun yang lalu. Namun, sekilas pandang saja sudah terlihat jelas tingginya tidak sebanding dengan bobot tubuhnya. Angin pantai mengibas-ngibaskan rambut tipisnya yang kering kusam. Sembari terus melangkah, ia mencoba menawarkan dagangannya kepada para pengunjung pantai.
Matanya yang menyipit karena terpaan sinar matahari mencoba memilah mana pengunjung yang sekiranya mau membeli dan mana pengunjung yang hanya akan mengabaikannya seperti angin. Tubuhnya berkali-kali terhuyung, mirip tebu saat ditiup angin. Sekitar 400 meter ke arah bibir pantai, ia melihat sepasang pengunjung sedang berswafoto dengan latar ombak. Setengah berlari ia mendekati mereka.
“Kak, oleh-olehnya… Kaus, topi, gelang. Kalung juga ada…”
Sejoli itu tak menghiraukan tawarannya. Mereka terus berjalan menyusuri pantai, mengutipi kulit-kulit kerang yang bentuk dan warnanya menarik perhatian mereka.
“Ayo, Kak, dibeli oleh-olehnya. Murah saja…”
Berkali-kali ditawari, pasangan itu akhirnya menyambut keberadaannya, tapi dengan tujuan lain.
“Tolong fotokan kami, Dik,” pinta si laki-laki, menyodorkan ponselnya. Dengan refleks ia menerima sodoran ponsel itu, membuat dagangan yang ia pegang terjatuh. Sejoli itu melangkah mundur sesuai jarak yang mereka inginkan.
Cekrek, cekrek!!!
Ia menyerahkan ponsel itu kembali. Sejoli itu memeriksa hasil jepretannya.
“Sekali lagi, Dik. Tolong landscape, ya. Kayak begini, biar kelihatan lautnya,” kata si laki- laki lagi sambil mengangkat kedua tangannya, memperagakan posisi ponsel mendatar yang ia maksud untuk memotret.
Cekrek, cekrek!!!
“Kurang bagus, Dik. Agak buram. Jangan goyang motretnya.”
Cekrek, cekrek!!!
Ada sampai tujuh kali jepretan sebelum sejoli itu merasa cukup puas.
“Makasih, ya, Dik.”
“Tidak beli, Kak?”
“Hmm, gak dulu deh ya.”
***
Menekuk lutut di atas pasir, Munarep menyusun kembali dagangannya, sementara sejoli itu telah pergi menjauh. Bulir-bulir keringat membasahi dahi dan sebagian rambutnya yang kemerah-merahan serupa rambut jagung. Setelah semua tersusun, ia junjung kembali sebagian dagangannya di atas kepala, dan menenteng dua kantong plastik berisi suvenir-suvenir kecil.
Di dekat sebuah tenda, ia melihat empat turis asing. Dua laki-laki, dua perempuan. Mereka dipandu oleh seorang laki-laki lokal. Karena tak bisa berbahasa Inggris, ia agak ragu mendekati mereka, tapi akhirnya ia nekat juga.
“Mister! mister! Souvenir, Mister! Souvenir! Souvenir!”
Empat turis itu cuma senyam-senyum. Dari balik kaca mata hitam, mereka saling melempar pandang satu sama lain.
“Souvenir, Mister. Cheap, Mister, cheap!”
“No, thank you,” kata salah seorang turis asing itu.
“Eh, pergi sana! Kamu ganggu saja. Nanti mereka jadi kapok datang kemari lagi,” kata si pemandu menghardiknya.
Munarep ciut dan tak berani lagi membuntuti mereka. Ia lantas duduk di potongan batang pohon kelapa yang telah lama ditebang. Setelah meletakkan semua dagangannya di atas pasir, ia keluarkan botol air minum dari dalam salah satu kantung kresek tempat ia menaruh dagangannya. Botol air minum kemasan itu sudah peot dan air di dalamnya tinggal separuh.
Air dalam botol itu adalah air rebusan yang dia bawah dari rumah, dan botol itu telah ia isi ulang berkali-kali. Botol itu semakin peot dari hari ke hari karena terkadang diisi air yang masih agak panas. Setelah membuka tutupnya dengan sedikit kepayahan, ia meminum air dalam botol itu sedikit, menyisakannya untuk nanti.
Pantai Kuta benar-benar dilimpahi sinar mentari siang itu. Ombak-ombak kecil menggulung ke tepi. Ombak-ombak besar masih terus menghantam dinding pantai layaknya pegulat yang ingin meruntuhkan sebuah tembok raksasa. Seekor kelomang yang tampaknya baru mendapatkan cangkang baru, berjalan terburu-buru seperti orang kebelet pipis. Matanya yang menonjol ke atas tampak awas, seolah-olah ada yang mau merebut cangkang barunya itu darinya.
Biru laut yang cerah, berpadu dengan pasir putih dan bebukitan hijau yang telah botak di sana-sini karena dikeruk tanahnya untuk keperluan proyek pengembangan pariwisata superprioritas. Angin menggoyangkan pucuk-pucuk kelapa dan cemara laut yang masih tersisa. Munarep menyaksikan semua itu sambil melamun. Tangan mungilnya masih memegang botol air minum yang peot itu.
***
Munarep sebenarnya tidak sendirian. Ibu dan ayahnya juga mengasong di sekitaran pantai itu, Mereka memilih berpencar untuk memperbesar peluang menjaring pembeli. Banyak juga anak-anak penduduk setempat yang mengasong seperti dia. Biasanya, ia dan anak-anak sepantarannya mengasong bersama-sama, namun siang itu mereka semua berpencar.
Seperti para pengasong lainnya, Munarep, ayah, dan ibunya sebenarnya nekat berjualan hari itu. Otoritas Kawasan Ekonomo Khusus (KEK) Mandalika bersama pemerintah daerah, atas arahan dari pemerintah pusat, telah mengeluarkan larangan kepada para pengasong untuk tidak berjualan di wilayah KEK Mandalika.
Selain di Pantai Kuta, mereka juga tidak diperbolehkan mengasong di Bukit Menangis, Bundaran Songgong, dan di tepi jalan. Larangan terutama ditujukan kepada anak-anak yang membantu orang tua mereka berjualan. Pemerintah dan otoritas KEK Mandalika tidak ingin ada pekerja anak karena akan mencoreng citra destinasi wisata superprioritas itu. Apalagi, mereka berambisi menjadikan Mandalika sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan.
Kepada para wartawan, penertiban para pengasong itu mereka sebut sebagai pembinaan. Mereka menertibkan para pedagang dengan menyediakan bazar, dengan alasan untuk memajukan UMKM lokal. Namun, bazar yang disediakan bukanlah tempat yang ramah bagi para pengasong atau pedagang kecil. Biaya sewa stan di bazar itu hanya cocok untuk para pedagang bermodal besar.
***
Sebenarnya, Munarep tak perlu mengasong andaikan ayahnya masih bisa bertani seperti dulu. Pembebasan lahan secara masif untuk pembangunan sirkuit balapan bertaraf internasional telah melenyapkan mata pencaharian mereka dan ratusan keluarga lainnya -mata pencaharian yang telah turun temurun dilakoni mereka sejak zaman nenek moyang mereka dulu. Selain sirkuit balapan, lahan-lahan mereka juga diserobot untuk pembangunan hotel-hotel mewah, pusat perbelanjaan, diskotek, dan berbagai infrastruktur fisik lainnya untuk menunjang pariwisata meskipun dengan utang triliunan rupiah. Saat mendengar cerita tentang utang luar negeri tersebut, Munarep terheran-heran.
“Bagaimana cara melunasi utang sebanyak itu, Yah?”
“Ayah juga tidak tahu. Mungkin tanah moyang kita ini akan sekalian mereka jual.”
Sejak lahan garapan mereka diserobot, keluarga Munarep tinggal di permukiman baru yang disediakan oleh pihak pengelola KEK Mandalika. Tetapi, uang kerohiman yang mereka terima tidak lebih banyak dari uang makan dan akomodasi seorang pejabat kementerian yang diutus untuk memantau proyek pembangunan Mandalika dalam sehari. Untuk membesarkan hati mereka dan ratusan keluarga lain yang tergusur, mereka diperbolehkan menonton balapan kelas dunia dari atas bebukitan yang tersisa secara gratis.
“Di luar sana, ada banyak orang yang sangat kepingin bisa nonton balapan internasional kelas MotoGP. Bapak-Ibu dan adik-adik semua beruntung bisa nonton gratis, tis, tis, tis, tanpa perlu bayar sepersen pun!” kata seorang utusan yang membujuk warga agar merelakan tanah dan sumber penghidupan mereka.
Setelah tak lagi bisa bertani, ayah Munarep sempat bekerja sebagai petugas kebersihan sirkuit. Tapi, itu tak bertahan lama. Ketahuan meludahi arena sirkuit karena masih tak terima tanahnya dirampas, ayahnya langsung dipecat pada hari ketujuh bekerja. Sejak saat itu, ayahnya terpaksa mengasong cendera mata, mengikuti langkah tetangga-tetangganya di tempat pemukiman baru yang telah lebih dulu memulai.
Semula, hanya ayahnya yang berjualan. Belakangan, karena dagangannya sulit laku dan pendapatannya tidak dapat menutupi kebutuhan sehari-hari mereka, Munarep dan ibunya pun ikut berjualan. Setiap hari, mereka dan puluhan pengasong lainnya berjualan keliling menawari setiap pengunjung yang datang. Lantaran dianggap mengganggu kenyamanan pengunjung, mereka sering diusir oleh petugas keamanan. Namun, ratusan kali diusir, mereka tetap mengasong, tetap berjualan demi menyambung hidup, termasuk saat balapan internasional sedang berlangsung.
“Nonton balapan tidak bikin kita kenyang!” kata Munarep hari itu sebelum berangkat. “Jadi, ayo kita mengasong saja, Ayah!” Wajah polosnya menampakkan semangat untuk membantu ayahnya.
***
Masih setengah melamun, Munarep menghitung dagangannya. Baru laku satu kaus, dua topi, dan tiga gelang hari itu.
Saat ia hendak bangkit, belum sempat kesadarannya kembali, tiba-tiba sebuah tangan merampas dagangannya. Ia belum sempat melihat wajah pemilik tangan besar itu ketika ia mendengar, “Sudah dilarang, masih saja berjualan di sini!”
Ia mencoba mempertahankan dagangannya, namun tenaganya hanyalah angin di hadapan tangan besar seorang petugas keamanan.
“Jangan, Pak! Jangan diambil! Tolong, Pak!” Munarep memohon. Pria itu terus berjalan.
“Tolong, Pak. Jangan diambil, Pak!” ia memelas sambil menangis.
“Pergi sana! Sudah dilarang, kenapa masih jualan di sini!”
Suasana kacau. Para pengasong lari tunggang langgang menghindari kejaran petugas gabungan yang dikerahkan untuk menertibkan mereka, sementara sebagian berusaha menyelamatkan dagangan mereka dari penyitaan.
Di tengah kekacauan, Munarep menemukan keberadaan ayah dan ibunya dan segera berlari menghampiri mereka.
“Dagangan kita semua disita, Nak!” kata ibunya. “Dagangan ayah juga.”
Munarep meraung sejadi-jadinya. Ia lemparkan satu-satunya gelang yang berhasil ia selamatkan, dan gelang itu langsung hilang terseret ombak. Di sampingnya, dalam keputusasaan, ayahnya mendesis murka, “Ya Tuhan, datangkan saja sekalian tsunami biar kami tak perlu menanggung semua ini!”
***
Abul Muamar, penulis dan editor di Green Network Asia. Menulis kumpulan cerpen bertajuk ‘Pacar Baru Angelina Jolie’ (Gorga, 2019).