Cerpen, edisi 400 Maret 2026
Ruang redaksi di lantai empat Gedung Pancasona sudah mulai sunyi. Marsel -nama lengkapnya Marsel Hendrawinata- wartawan investigasi harian Harapan Rakyat, masih menatap layar laptop dengan mata lelah, dan sedikit merah. Di atas meja, cangkir kopinya sudah kosong. Ponselnya tiba-tiba bergetar, menampilkan pesan dari nomor tak dikenal: “Iklan pemerintah bukan sekadar iklan. Ikuti alirannya, kau bakal tahu siapa yang berbual.”
Jantung Marsel berdenyut lebih cepat. Seakan tubuhnya sudah tahu bahwa pesan itu adalah awal dari jalan gulita nan panjang. Ia menghela nafas panjang. Mencoba menenangkan diri. Pesan semacam ini bisa saja jebakan. Sudah ada beberapa kawannya dijebloskan ke penjara karena terseret pusaran isu palsu. Namun, nalurinya yang sudah terasah belasan tahun memburu berita terus berbisik: ada sesuatu yang besar di baliknya. Marsel kemudian menuliskan kata ‘lapisan’ di buku catatannya.
Keesokan pagi, ia sudah duduk di ruang redaksi untuk mengikuti rapat peliputan harian. Salah seorang redaktur menekankan pentingnya liputan ‘pencitraan pembangunan’ lewat iklan pemerintah. Semua reporter diminta memberi ruang besar di halaman depan. Marsel hanya diam. Ia memperhatikan wajah rekan-rekannya yang patuh. Sebagian bahkan terlihat tersenyum seolah ini kesempatan emas. Tapi ia menghirup bau busuk yang kian menyengat.
Kelar rapat, ia menyelinap ke ruang arsip yang sepi. Di sana, folder demi folder iklan pemerintah tersusun rapi, Lengkap dengan kontrak kerjasama media. Ada cap resmi. Tanda tangan pejabat. Dan angka-angka fantastis yang terlalu indah untuk dipercaya. Tangannya membuka halaman demi halaman. Hawa dingin menjalar ke punggungnya ketika menyadari biaya produksi iklan selalu jauh lebih besar dari taksiran biaya pasar.
Ia buru-buru memotret dokumen-dokumen itu dengan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena merasakan bahwa ini bukan sekadar manipulasi anggaran biasa. Ada tangan-tangan besar yang sengaja menutupinya dengan senyum pejabat yang ditebar di baliho-baliho besar.
Malamnya, ia menemui seorang mantan konsultan komunikasi pemerintah di sebuah kafe yang sudah jarang pelanggannya. Lelaki itu duduk di pojok, menutupi wajah dengan topi kusam. Ujung rokoknya menyala. “Semua uang iklan itu, sebagian mengalir balik ke pejabat. Sisanya baru ke media. Biasalah, untuk membungkam kritik,” katanya lirih, seolah takut kursi-kursi kosong di sekitarnya ikut mendengar.
Marsel mengerutkan dahinya. “Dan konsultan seperti kau?”
Lelaki itu tersenyum pahit, seraya menghembuskan asap tebal rokok putihnya.
“Kami cuma perantara. Tak pernah ada iklan murni. Semua bagian dari kebohongan berlapis.” Kata-kata yang diucapkannya segera menempel di dinding lembab kafe.
Malam sudah kian larut saat Marsel pulang dari kafe. Aspal jalan berkilau terkena sorot lampu sepeda motornya. Sebuah papan reklame besar menampilkan wajah pejabat tersenyum lebar, seperti menatap langsung ke arahnya. Senyum itu tiba-tiba terasa seperti ejekan, menertawakan siapa saja yang percaya pada pesan kosongnya. Marsel mempercepat lari sepeda motornya, seakan ingin segera menjauh dari senyum yang membekas di matanya.
Di kamar kosnya, ia menulis catatan di laptop: “Lapisan pertama: iklan. Lapisan kedua: pejabat. Lapisan ketiga: media. Lapisan keempat: konsultan. Di baliknya pasti ada lapisan terakhir.”
Beberapa hari kemudian, ia mencoba mewawancarai seorang pejabat humas di sebuah gedung pemerintahan ber-AC dingin nan menusuk. Jawabannya normatif: semua demi transparansi publik, demi keterbukaan informasi. Tapi, tatapan mata pejabat humas itu gelisah. Tangannya berkali-kali merapikan dasi seolah menutupi leher yang tercekat.
Marsel mencatat dengan teliti, dan lebih banyak membaca bahasa tubuh daripada kata-katanya.
Setelah wawancara itu, seorang staf muda menghampirinya di lorong. Suaranya nyaris berbisik. “Pak, kalau mau tahu lebih banyak, lihat rekening pihak ketiga,” katanya, lalu cepat berbalik sebelum Marsel sempat menanyakan lebih jauh. Bayangan tubuhnya menghilang di balik pintu kaca, meninggalkan sejumlah pertanyaan menggantung.
Dan Marsel mengikuti jejak itu dengan hati-hati. Dari penelusurannya kemudian diketahui rekening yang disebut ternyata atas nama sebuah yayasan pendidikan. Namun, ketika ia menyambangi alamat yayasan dimaksud, yang ditemuinya hanya sebuah rumah kosong, yang halamannya telah ditumbuhi ilalang dan putri malu. Pintu kayunya yang berwarna hijau botol sudah lapuk. Tak ada papan nama yayasan atau nama apa pun terpasang di sana.
Saat ia mencoba masuk ke dalam rumah, ia menemukan brosur iklan pemerintah bertumpuk di sebuah meja reyot. Bau apek bercampur jamur menempel di hidungnya, membuat Marcel ingin segera keluar dari ruangan. Tapi, ia tahu, setiap detil di ruangan rumah ini menyimpan jejak kebohongan yang disengaja.
Malamnya, ponselnya berdering. Suara berat dari seberang berkata singkat: “Hentikan. Kau tidak akan sanggup menyingkap semuanya.” Tak ada salam penutup. Hanya nada sambungan terputus. Marsel memandang layar kosong lama sekali, mencoba menimbang apakah ia harus mundur atau justru melangkah lebih dalam.
Ancaman tersebut justru menyalakan bara api di dadanya. Ia tahu, semakin kuat tekanan, justru semakin besar sesuatu yang sedang disembunyikan. Nafasnya memburu. Hatinya penuh tekad. Ia merasa berada di tepi jurang, tapi satu langkah lagi ia akan bisa mengubah segalanya.
Marsel mulai menelusuri hubungan antara yayasan itu dengan sebuah perusahaan media besar. Dari berkas-berkas yang ia salin di kantor notaris, ia menemukan serangkaian pola ganjil. Perusahaan cangkang dengan alamat yang sama, perubahan struktur pengurus yang terlalu cepat, dan penyertaan modal yang melonjak tanpa alasan jelas. Tidak ada catatan transaksi keuangan di sana, tapi anomali-anomali itu cukup untuk membuatnya curiga.
Di dinding kamarnya, Marsel menempelkan akta-akta, bagan kepemilikan, dan catatan kecil yang ia buat sendiri. Perlahan, benang merah mulai tampak, sebuah pola yang hanya masuk akal jika ada aliran dana gelap yang bergerak di balik struktur resmi. Saat memeriksa lebih jauh, sebuah pola makin jelas. Setiap kali ada isu sensitif tentang korupsi, media-media tertentu justru menayangkan iklan pemerintah dengan intensitas tinggi. Seakan iklan itu bukan promosi, melainkan tirai tebal untuk menutupi kebakaran di balik panggung.
Suatu siang, di sebuah warung kopi yang bersebelahan dengan panti pijat, ia bersua teman lamanya, Deden Pandawa, seorang perancang grafis. Deden mengaku pernah mengerjakan sejumlah proyek iklan pemerintah. “Kontraknya selalu aneh. Materinya sederhana. Tapi, harga produksinya fantastis, Bro. Sisanya? Aku tak tahu lari kemana. Tapi, jelas, bukan ke kantongku,” katanya sembari menatap ke lantai. Marsel mencatat apa yang dikatakan teman lamanya.
Seuasi pertemuan itu, saat ia tengah menuju kantornya, Marsel menerima sebuah pesan melalui ponselnya: “Besok, jam delapan, parkiran gedung tua. Datang sendiri.” Tak diketahui pengirimnya. Marsel menatap layar lama sekali, bertanya-tanya siapa yang harus ia temui.
Meski begitu, esoknya, dengan menggunakan taksi daring, ia datang tepat waktu. Udara pagi masih lembab. Parkiran kosong, hanya ada bekas sisa genangan hujan. Dari bayangan, seorang wanita paruh baya muncul, mengenakan jas hujan abu-abu. Wajahnya tegang, seolah sedang membawa rahasia yang terlalu berat untuk dipikul di bahunya.
Wanita itu menyerahkan sebuah amplop cokelat. “Aku mantan sekretaris pribadi salah satu menteri,” ucapnya cepat. Matanya waspada ke segala arah. “Semua bukti ada di sini. Notulen rapat, daftar penerima kickback*, bahkan nama media yang terlibat,” sambungnya. Bibirnya bergetar, menahan ketakutan.
Saat perjalanan pulang, di atas taksi daring, Marsel membuka amplop. Matanya membesar melihat daftar panjang pejabat, pemilik media, hingga konsultan. Semua terhubung seperti jaring laba-laba, dengan garis-garis halus yang menjalin erat.
“Lapisan demi lapisan,” bisiknya. “Tapi siapa yang mengendalikan semuanya?” Pertanyaan itu berputar berulang-ulang di kepalanya. Ia merasa mendekati inti persoalan, tapi juga semakin jauh dari cahaya.
Malam itu, setelah semua berita masuk percetakan, ia pulang dengan gelisah. Seperti biasa, jalanan lengang. Dari kaca spion motor, tampak sebuah mobil hitam membuntuti. Lampunya redup. Nafas Marsel terengah. Ia mempercepat laju sepeda motornya. Di sebuah pertigaan, ia segera menikung tajam, dan masuk ke sebuah jalan kecil. Untung ia hafal jalan tikus. Mobil hitam itu akhirnya hilang dari pandangan, tertinggal di simpang jalan. Tapi, rasa was-was menempel di benaknya. Ia paham, ancaman kini bukan lagi sekadar kata-kata.
Di kosnya, ia mempelajari sejumlah dokumen yang baru didapatnya. Pola jejaring makin jelas. Semua uang iklan berputar dalam lingkaran tertutup. Namun, ada satu nama yang menonjol. Ia bukan pejabat. Bukan juga konsultan. Melainkan seorang tokoh media ternama.
Marsel menatap nama itu lama sekali. Dirinya tak percaya. Nama itu menghubungkan semua pihak, nama itu menjadi simpul utama. Ia seperti dalang di balik layar, menggerakkan boneka tanpa pernah terlihat. Ironisnya, publik mengenal figur itu sebagai ‘jurnalis senior independen’. Marsel merasakan dunia jungkir balik. Ia pun terdiam lama di kursinya, menatap dinding kosannya. Bagaimana mungkin orang yang selalu berbicara soal integritas justru jadi poros kebohongan? Sekilas membayang di kepalanya bagaimana wajah tokoh itu muncul di layar televisi, penuh wibawa. Dan kini wajah itu terasa seperti topeng.
Marsel akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung dengan tokoh media itu. Dengan alasan wawancara untuk konfirmasi dan untuk rubrik Tokoh Kita pekan ini, ia mengatur janji. Pikirannya berkecamuk, antara takut, marah, dan penasaran. Ia tahu, ini mungkin pertemuan paling berbahaya dalam hidupnya.
Ruangan sang tokoh terlihat mewah dan elegan. Penuh buku berjilid tebal. Ada pula foto bersama presiden, menteri, dan pejabat-pejabat tinggi. Lelaki itu menyambut hangat, layaknya seorang guru dan sahabat yang ramah. “Silakan duduk,” katanya sambil menyalakan pipa rokok. Semua terlihat normal.
“Kau wartawan yang rajin. Aku dengar kau sedang menyelidiki iklan pemerintah,” ucapnya sambil menuangkan teh hitam panas. Senyumnya tenang, Tapi, di balik ketenangan itu, Marsel merasa ada sesuatu yang dingin.
Marsel menatapnya lurus. “Semua bukti menunjuk ke Anda. Kickback, aliran dana, media yang dikendalikan. Semuanya bermuara di nama Anda.” Suara Marsel serak, tapi mantap.
Lelaki itu hanya tersenyum, seakan sedang menonton drama ringan.
Ia tertawa kecil. Suara renyah, tapi menohok. “Kau pikir aku sendirian? Kau pikir ada kebenaran murni di negeri ini? Aku hanya memastikan arus tetap berjalan. Jika tidak, kekacauanlah yang terjadi.” Kata-katanya terdengar seperti doktrin, bukan sekadar pembelaan.
Marsel merasakan hawa dingin mulai menjalar dari lantai marmer. Lelaki itu tidak menyangkal, malah bangga. Seolah kebohongan adalah sistem yang harus dirawat, bukan dilawan.
“Kau bisa menulis apa saja,” lanjut lelaki itu. Suaranya tetap tenang. “Tapi, percayalah, redaksimu sendiri sudah ada dalam daftar penerima dana. Beritamu takkan pernah terbit.”
Kata-kata itu menghantam dada Marsel lebih keras dari pukulan. Ia tertegun. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia tahu tokoh itu tak berbohong. Di kepalanya muncul wajah redaktur yang tersenyum saat membicarakan iklan. Ia sadar, jaringan ini jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Amplop bukti yang ia bawa hanyalah serpihan kecil dari lautan hitam.
Lelaki itu mendekat, membungkuk hingga wajahnya hampir menempel di telinga Marsel. “Kau tahu apa lapisan terakhir dari kebohongan ini?” bisiknya pelan. Nafasnya hangat. “Kau.”
Deg. Darah Marsel seolah langsung berhenti mengalir. Ia ingin bertanya. Namun, lidahnya kelu. Di meja, sudah tergeletak salinan artikel yang ia tulis semalam. Lengkap, dengan nama penulisnya: Marsel Hendrawinata. Itu berarti seseorang sudah mengakses laptopnya.
Kini, ia sadar bahwa ia bukan lagi pengungkap kebenaran, melainkan bagian dari kebohongan berlapis itu sendiri.
***
*kickback: pembayaran ilegal yang dilakukan kepada seseorang sebagai imbalan atas bantuannya dalam memfasilitasi transaksi atau pengaturan bertemu dengan pejabat negara yang berpengaruh.
Djoko Subinarto, penulis lepas dan blogger.