Puisi, edisi 401 April 2026
di sini, yang terjadi
setelah kebanjiran,
presiden terbaik
mengajarkan
ketabahan.
sedang sejumlah anak-anak
menulis masa depan
pada tanah
yang telah bercampur
air matanya.
***
2026
Di Pelabuhan Belawan
mesti kita lanjutkan juga
separuh perjalanan ini,
sebelum hari-hari lewat
dengan suasana sunyi.
di sini, ada banyak hal
yang mesti kita catat,
selain melepas rasa cemas,
seperti kisah para Belanda
yang hendak berkuasa,
dengan cara berniaga.
kemudian, kita berlayar kembali
menuju masa yang entah,
berbekal sejumlah harapan;
sebelum digelar duka perpisahan.
***
2026
Elegi Tapanuli
ihwal dukaMu
telah memberati dinding setiap hati,
di sini, di Tapanuli
hari-hari mengerut dengan cuaca lindap.
seperti nasib;
bulan meleleh, sungai meluap,
jembatan patah, dan yang tersisa
hanya sebentuk rangka kecemasan
dalam diriku.
lantas, hendak kusebut apa
air mataMu yang tak terseka?
tapi aku tak akan pernah takluk
meski musim dengan warna lain
selalu memberi tanda;
kesedihan dapat berlipat ganda
di mana pun aku berada,
selagi hijau hutan
tak lagi terjaga.
***
2026
Agus Widiono lahir di Juruan Laok, Batuputih. Menulis puisi dan prosa. Tulisannya pernah dimuat dibeberapa media. Anggota Komunitas Damar Korong.