Cerpen, edisi 405 Agustus 2026
Embun masih menggantung di ujung daun kelapa, berkilau memantulkan cahaya mentari yang baru muncul dari peraduannya. Udara dingin merayap masuk lewat celah-celah papan rumah. Dari beranda rumahnya, Adi Suganda, 78 tahun, menghirup udara pagi dalam-dalam, merasakan aroma tanah dan rumput yang masih basah. Di hadapannya, tiang bendera, dengan Merah Putih yang berkibar, berdiri sendirian di tengah halaman.
Rumah kayu itu miring ke kanan, bak orang tua yang sudah terlalu lelah untuk berdiri tegak. Berkelir hijau. Sebagian papannya lapuk.Tiang bendera di depannya tidak pernah berpindah tempat sejak puluhan tahun silam. Saban kali Adi memandangnya, ada semacam ikatan yang amat sukar dijelaskan, seperti mengingat paras lama yang tak pernah hilang dari ingatan.
Cat putih pada tiang bendera itu telah lama mengelupas, menampakkan karat yang menggerogoti besi, sedikit demi sedikit. Tali benderanya sudah kusut di beberapa bagian. Warnanya kecokelatan karena tempaan hujan dan matahari. Tetapi, bendera di puncaknya senantiasa berkibar. Ia setia menemani hari-hari Adi.
Warna merah bendera itu tak seterang dulu. Sekarang, lebih mirip bata yang telah lama dipanggang matahari. Adapun putihnya cenderung menjadi gading pucat, bercorak abu di beberapa sisi.
Saban pukul enam pagi, Adi rutin memutar engkol kecil di bagian bawah tiang untuk menarik tali bendera. Gerakannya lambat, teratur, seperti mengikuti irama langkah prajurit di lapangan. Saat bendera mulai naik, dadanya selalu terasa hangat, meski udara pagi dingin menggigit kulit. Ritual itu tak pernah ia tinggalkan, meski hujan atau salah satu lututnya sedang diserang nyeri.
Tangan Adi yang keriput gemetar ketika mengikat tali di ujung, lalu berdiri tegap memberi hormat. Bibirnya bergerak pelan menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Suaranya nyaris hilang tertelan desir angin. Kadang, hanya dirinya sendiri yang mendengar lagu itu. Tetapi di hatinya, ia merasa sedang memimpin upacara untuk seluruh Republik.
Tak jarang, terlihat seekor burung pipit hinggap di ujung tiang, seakan ikut memberi hormat dan sekaligus salam. Bulu-bulunya selalu masih basah oleh embun. Matanya yang kecil menatap Adi. Dan Adi tersenyum, menganggapnya tanda alam bahwa bendera itu memang harus tetap di sana, dirawat, dan dijaga. Bahkan, ia pernah bercanda pada tetangga bahwa bahwa burung pipit itu adalah utusan dari masa lalu.
Setiap pagi, orang-orang berjalan cepat menuju pasar atau terminal. Mereka melewati rumah Adi dan tiang itu tanpa melirik. Mereka sibuk dengan tas belanja atau ponsel di tangan. Adi tak pernah tersinggung. Ia tahu dan paham bendera itu bukan lagi pusat perhatian di zaman ini.
Tapi, baginya, itu adalah jantung yang memompa kenangan ke seluruh tubuh desanya.
***
Suatu siang, dua pria berhelm proyek datang. Kemejanya rapi. Salah seorang membawa sebuah map tebal. Keduanya langsung menuju halaman rumah Adi tanpa banyak basa-basi. Adi yang sedang membersihkan halaman hanya menatap. Sapu di tangannya berhenti bergerak. Langkah mereka terdengar tegas di atas tanah yang sedikit berpasir.
Salah satu dari mereka kemudian terlihat membentangkan meteran, mengukur tanah dari sisi tiang ke jalan. Yang lain mencatat sesuatu di kertas dengan cepat, seakan waktu yang mereka miliki teramat mahal. Tidak ada senyum. Hanya tatapan profesional yang kaku. Semua gerakan mereka terasa asing di halaman itu.
“Di sini rencananya jalur masuk proyek jalan tol,” kata salah satunya sambil menunjuk garis imajiner di udara. Suaranya terdengar datar, seperti mengulang kalimat yang sudah dihafal dari rapat.
Adi tetap diam. Hanya matanya yang mengikuti gerakan tangan itu. Hatinya seperti merasakan ancaman yang belum benar-benar ia pahami.
“Tiang ini harus dibongkar,” tambahnya singkat, sembari mencatat lagi.
Adi menatap tiang itu. Bibirnya sedikit bergetar. Ia tahu kata-kata itu bukan sekadar perintah teknis. Itu artinya menghapus satu-satunya saksi hidup perjuangannya.
“Tiang ini sudah berdiri sebelum kalian lahir,” ucap Adi. Suaranya pelan, tapi tegas.
Pria berhelm itu saling melirik, lalu tersenyum kaku. Mereka mungkin menganggap itu hanya nostalgia seorang yang sudah uzur. Mereka tidak tahu tiang itu berdiri di tanah yang pernah berlumuran darah.
Setelah memberi hormat seadanya, mereka pergi, meninggalkan selembar surat peringatan yang diterima Adi. Surat itu tebal. Tulisannya resmi, penuh pasal dan memuat tanda tangan. Adi tidak langsung membacanya, hanya melipatnya. Angin siang berhembus pelan, mengibaskan ujung bendera.
***
Malam hari, Adi duduk di ruang depan rumahnya. Surat peringatan yang diterimanya siang tadi tergeletak di samping cangkir teh yang sudah dingin. Adi duduk memandanginya, seakan huruf-huruf di kertas itu bisa berubah menjadi wajah-wajah lama. Pikirannya melayang jauh ke masa saat ia belia.
Ia kembali mengingat suatu pagi di puluhan tahun lampau ketika udara penuh bau mesiu dan teriakan. Ia dan kawan-kawannya berlari di jalan tanah, membawa selembar bendera Merah Putih yang baru dijahit.
Peluru melesat dan berdesing, memecahkan udara. Tapi, bendera itu tetap mereka pasang di alun-alun, meski harus menahan rasa takut di dada. Dalam ingatan Adi, ia melihat wajah kawan-kawan seperjuangannya yang gugur.
Salah satunya adalah wajah Tarmin, sahabatnya, yang tertembak ketika mereka sedang memanjat tiang bendera di alun-alun. Tarmin jatuh ke tanah, darah mengalir di lehernya, tapi sempat berbisik, “Jangan biarkan bendera ini jatuh, Di.”
Adi, dengan tubuh gemetar, melanjutkan memanjat dan mengikat bendera itu. Peluru masih melesat, tapi ia tak turun sebelum bendera itu berkibar.
Semua itu kembali jelas di ingatan Adi seperti baru terjadi kemarin sore. Dan tiang di halaman rumahnya kini adalah pengganti dari tiang di alun-alun itu.
***
Beberapa pekan kemudian, Adi menyaksikan suara mesin berat terdengar mendekat. Dari jendela rumahnya , ia melihat truk proyek berhenti di depan pagar. Beberapa pekerja turun membawa palu besar dan linggis. Wajah mereka serius. Langkahnya mantap menuju tiang.
Warga mulai berdatangan. Sebagian hanya ingin melihat. Sebagian merekam dengan ponsel. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang diam menatap.
Adi keluar, berjalan pelan menuju tiang, tanpa mengucapkan sepatah kata.
Bendera berkibar-kibar seperti sedang menunggu keputusan.
Sesaat sebelum Adi sampai ke tiang, ia merasa ragu. Bisikan logis muncul di kepalanya: “Untuk apa kau melawan? Kau hanya orang tua sendirian. Tiang ini besok pun akan roboh.” Tapi, suara Tarmin terdengar menimpali: “Jangan biarkan bendera ini jatuh.” Keduanya saling tarik-menarik di pikirannya, sebelum akhirnya Adi mengangkat kepalanya dan melangkah tegap.
“Kalau kalian mau merobohkan tiang itu, kalian harus langkahi tubuhku dulu,” kata Adi ketika mandor proyek menghampirinya. Nadanya tegas. Matanya menyala.
Mandor itu terdiam, lalu berkata, “Pak, ini hanya tiang. Jangan bikin sulit kami.”
“Itu bukan hanya tiang. Itu adalah janji.”
Beberapa pekerja berhenti. Warga mulai berdiri lebih dekat. Seorang polisi mendekat. “Pak, kami mohon kerja samanya. Jangan sampai kami harus pakai cara lain.”
Adi menatapnya lekat-lekat. “Kalau kalian pakai cara lain, kalian akan menodai Merah Putih di depan anak-anak ini.”
Polisi itu menelan ludah, tak membalas.
Seorang anak kecil di kerumunan tiba-tiba berteriak, “Itu tiang kemerdekaan, jangan dibongkar!” Suaranya bening, memenuhi udara siang yang panas. Semua orang menoleh pada anak itu. Adi tersenyum tipis, lalu menatap langit.
***
Angin petang mulai bertiup agak kencang. Bendera di tiang mengembang penuh. Ujungnya berkibar-kibar, menimbulkan suara seperti kain yang berbisik. Udara petang seakan membawa kembali semangat lama ke halaman itu. Semua orang terdiam, hanya suara kibasan bendera yang terdengar.
Warga mundur beberapa langkah. Namun, Adi tetap di tempatnya. Tangan kirinya memegang tiang bendera erat-erat. Tangan kanannya menahan tali bendera.
Mandor memberi isyarat. Pekerja mulai maju. Beberapa warga memekik pelan. Kamera ponsel warga kembali terangkat, mengabadikan momen. Langit yang awalnya cerah tiba-tiba ditutupi awan kelabu. Suasana berubah berat, seperti menunggu sesuatu pecah.
Salah seorang pekerja mencoba mendekati Adi berupaya membujuknya agar menyingkir dari tiang. Tapi, sebelum upayanya berhasil, hujan tiba-tiba turun deras. Air menyiram semua orang. Bendera masih menempel di tiang, kuyup, dan warnanya makin terlihat pudar. Adi tak bergeser sedikit pun.
Pekerja ragu. Mandor terlihat gelisah. Anggota polisi saling pandang. Hujan kian deras, membuat tanah sekitar berbah jadi lumpur. Warga berteduh di teras rumah. Tapi, pandangan mereka tetap tertuju pada Adi.
Adi memejamkan mata. Air hujan mengaliri wajahnya. Di kepalanya, ia kembali mendengar gema pekikan “Merdeka!” dari masa mudanya.
Suara itu menguat, menutupi bunyi hujan yang kian deras. Dada Adi berdegup cepat. Tapi, ada rasa damai yang aneh.
Tiba-tiba, tubuh Adi goyah. Lututnya melemas. Ia bersandar sebentar pada tiang. Lalu, pelan-pelan tubuhnya jatuh ke tanah. Tangan kirinya masih menggenggam tiang itu, seakan menolak lepas. Beberapa warga berlari mendekat.
Mandor dan pekerja mundur. Polisi terpaku. Tak ada yang berani menyentuh tiang. Hujan terus membasahi tubuh Adi, membuat bajunya melekat di kulitnya. Nafasnya terputus-putus, matanya setengah terbuka menatap ke atas.
Bendera yang basah itu tetap erat menempel di tiang, berat oleh air, tapi tak membuatnya melorot. Warnanya tetap kusam. Tapi, bentuknya utuh. Hembusan angin membuat ujungnya terus bergerak-gerak, seperti melambai. Warga yang menyaksikan berdiri membentuk lingkaran. Tak ada satupun yang bicara.
***
Djoko Subinarto, penulis lepas dan blogger