Mata Danau – Sitok Srengenge
Segenang danau dan sebersit meteor,sebentang risau bangkit dalam paspor Selengang kau dan sebait metafor,segamang mau si troubador dari burit ekuator Setelah anggur dan musik dan malam rebah,ada yang berangsur mengusik dan kita saling jamahSebagai hutan perawan kau kurambah sampai semak tersibak, bebukit basah menahan gelegak arus bawah tanah Bagai burung terbang dari seberang lautan, di belukar keterasingankukerkau sumber kicau, […]
Fatamorganisma – Sitok Srengenge
Jari-jari musim yang jail menggramul pinggul seorang gadis kecil , kupu yang gemetar menunggu angin lewat menuju Buchenwald Aku menahan kesiur jantung, di balik punggung patung yang dipancung, di depan gedung pemerintah yang hancur disatroni amarah para penganggur Seketika kota menjelma seorang lelaki apak dengan jambang dan jenggot selebat semak, kusut masaidan padangnya samun matahari sore Angin datang berisikmengosak-asik rambutnya yang penuh kersik, menyurukkan kenang pada […]
Di Tepi Sungai Amstel – Sitok Srengenge
Di tepi Sungai Amstel, di sebuah kafe, kaukebut maut pada mantel, selepas sore Tahun-tahun menyepuh rindu, memutih rambutmu Arus terus menggerus antara angsa dan gurat-gurat cahaya Tujuh belas belibis menggerombol di tritis toko tarcis, tujuh gelas alkohol memintal gerim gerimis Lalu kaucukil secuil kucil: sekelimun bebek peking digiring ke daratan asing selatan Nanking di mana cambuk para pengawal siap melucut akal, melecut ajal Di antara sebaki […]
Frankrijk – Sitok Srengenge
Seperti kelelawar,pengelana malam yang kaukenal lewat gambar, atau pangeran hantudari ruang gelap istana Nosferatu yang merenggut perawanke dalam kabut dan lolong anjing siluman, aku temu rawa gambutdalam kesepianmu yang akut Kulihat gairah ngendon dalam urat darah di lehermuibarat buah pohon yang tumbuh lebih dulu dari waktu Maka kubur niatanmencatur keabadian,sebentar lagi lonceng berdentang dari puncak menara Anne Frank,erang sirine mengiris malam […]
Zeedijk – Sitok Srengenge
Semacam peringatan: sepotong tangan meremas payudara, mungkin milik para pendosa, tercampak di luar gereja Di zeedijk, bendungan laut,segala yang molek bagai bertaut maut Kota yang cantik,pelacur yang cerdik, membuka diritapi menutup hati Di jantungnya sebuah danau beku,di palungnya ingin kujangkau kau, tenung masa lalu Aku memanggilmu dengan sajak-sajak cinta,tapi salju tak membiarkannya menjadi gema Cuaca berkesiur dengan selaksa […]