Semacam peringatan: sepotong tangan meremas payudara,
     mungkin milik para pendosa, tercampak di luar gereja
              Di zeedijk, bendungan laut,
segala yang molek bagai bertaut maut

    Kota yang cantik,
pelacur yang cerdik,
     membuka diri
tapi menutup hati
                        Di jantungnya sebuah danau beku,
di palungnya ingin kujangkau kau, tenung masa lalu

Aku memanggilmu dengan sajak-sajak cinta,
tapi salju tak membiarkannya menjadi gema

Cuaca berkesiur dengan selaksa sangkur
dan angin mengendap-endap di pokok-pokok pohon poplar
  Mengintai para imigran yang nganggur
               dan menyergapnya dengan tikaman-tikaman lapar

 Orang ramai dalam pawai, menyambut Sinterklas,
nama dan lambang cinta, kado berpita merah hati
Tapi di tepi sungai, di mana tertancap tanda batas,
 seorang perempuan Afro memunguti remah roti

Aku menyapamu dengan sajak-sajak duka,
    tapi kata-kataku menggumpal di udara
***
1996

Sitok Srengenge, penyair tinggal di Jakarta dan pegiat di Komunitas Utan Kayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *