Tentang penulis Edisi 105

Gendhotwukir, lahir di Muntilan,Jawa Tengah, Mahasiswa Filsafat St. Augustin Jerman. Jajang R. Kawentar, seorang guru yang tinggal di Palembang.

Sajak Selepas Tragedi Legian Bali

Di Kuta Bali yang tak lagi sunyi,ada gadis menyusur pesisir seorang diri,hendak menelan tragedi Legian di mimpi,tepat di dahinya yang tak berjejak hari. Ditatapnya hari-hari yang enggan diakrabi dan dikencani,setelah ratusan duri tak dapat dipercaki,juga setelah tapak kaki yang segra lesap ke dasar bumi,bersama angan-angan sore tadi. Kata-katanya membisu di selembar kacu,tempat air dukanya telah […]

Sajak Kesepian

Gendhotwukir Tak ada azan magrib sepulang main bolaSambil menenteng degan atau tebu denganLusuh baju di sekujurnya. Atau juga azan subuhKetika hendak bergegas mandi setelah mimpi basah,siap berangkat sekolah. Tak ada kokok ayam di fajar yang menyadarkan,bahwa semua hanya mimpi, juga saatkemolekan Poniyem terbawa dalam mimpi,ketakutan hendak terterkam macan, juga lantaraniring-iringan ke kuburan. Tak ada bunyi […]

Tentang Penulis Edisi 101

Gendhotwukir, lahir di Muntilan,Jawa Tengah, Mahasiswa Filsafat St. Augustin Jerman, penulis lepas, tinggal di Jerman. Farah Rachmat , tinggal di Jakarta dan gemar menulis.

Kelahiran Bulan

Dewi kegelapan mengandung tanpa persetubuhan. Di bulan ke-7 terhuyung-huyung memegang buncit di perutnya. Limbung di perjalanan bentang 7-9 bulan. Peluh di dahinya mengucur, membasahi malam panjang di paro sepi. Rintik air peluh jatuh menjadi hujan malam, menggenang di danau kecil, tempat bercermin wajah membiru di pucat sayu. Embun-embunnya menggantung di ranting malam, menggerayut menanti semarak […]

Tragedi Pembunuhan Kenangan

Gendhotwukir Sejak aku membunuh kenangan, ada yang mengatakan aku akan membunuh kehidupan. Tidaklah demikian. Hidup tanpa kenangan berarti berenang-renang di lautan waktu obyektif. Dengan kekar tangan-tangan memegang rembulan dan matahari. Tiada malam tiada siang, karena telah kuhancurkan semuanya. Dengan remuknya matahari dan rembulan maka bertaburan kunang-kunang di setiap sudut pandang. Itulah keabadian. Malam dan siang […]

Tentang Penulis Edisi 92

Nabiha Shahab,pegiat lingkungan, wartawan lepas, tinggal di Jakarta. Gendhotwukir,lahir di Muntilan,Jawa Tengah, Mahasiswa Filsafat St. Augustin Jerman, penulis lepas, tinggal di Jerman. Hayat,penikmat seni dan sayur asam

Aku Ingin Tidur di Biru Matamu

** Kepada Muriel Setelah perjalanan melelahkan ini,aku ingin tidur di biru matamu.Berkerudung langit biru matamu,diayun gelombang langit birumu,memecah asa di tumpahan karang menderu.Terayun-timang ditimang terhampar di negri biru,sejuk-senyap biru matamu menghembus sepoi. Biru matamu yang berkaca-kaca kilap,lincah menggoda tuk segera terdekap. Kepada langit birumu kukata,runtuhkan hujan hiburmu,membasahi tanah kerinduan yang keronta merindu. Kepada laut birumu […]

La Bella Pastorella

** Liedvariation für zwei Violinen und Basso Continuo Menarilah di kubangan dingin,dalam deru pekat yang gentayangan.Gempita berkejaran meneduh di dua Biola,disambut sukma Cello tak mendua. Kejar-kejarlah Biola,sedikit lagi khan di perhentian.Penantian akan segra tersingkap,tatkala Bintang Timur menggerlap. La Bella Pastorella tercipta,di genggaman waktu purba 1623-1680. Mendekap adven, terulang di mata terpuja. Johann Heinrich Schmelzer,memantul di […]

Jihad

Gendhotwukir Telah kau ludahi tanah,tempat istrimu berzinah.Dan setelah itu berbenah,pendam amarah tuju ziarah. Setelah dendam berlabuh di pusaka hormat,berjihat tanpa alamat.redam-meredam ibarat hasrat,bercahaya gegap di awan pekat. Bapa bangsa sekarat,Bunda pertiwi melarat,Anak negeri laknat,Dunia bejat,karena semua berjihat di dunia yang sudah penat Wittlich, 290904