Semangkuk Sereal Untukmu – T.S. Pinang

: josephira mengapa pula pagi mesti menawarkan sepiring masygul dan segelas sesal,ketika mimpi-mimpi semalam pun telah punah dan mentari sudah bosanmenjanjikan kehangatan selimutnya. maka ucapan terima kasih atas sepotongkeju dan semangkuk sereal susu pun menjadi demikian sumbangataukah mungkin memang sudah sepantasnya begitu berita televisi merampok selera makandan sebatang rokok menjadi sepengap asap mesiusaat lagu kanak-kanak […]

Kenangan Scheveningen – Sitok Srengenge

Ada yang senantiasa melukisi daun dan buah,        lihat jejaknya menggaris di batuan tanahAku daun yang tanggal, terbasuh embun                     sebelum luruh dibantun taifunKau buah yang mengkal, tersepuh ranum         sebelum jatuh dikulum alum Kita tumbuh dari akar berbeda,meski mencecap air dari sumber yang sama      Aku datang dari perih yang diguritkan angin    dan angin mengibarkan rambutmu yang perak  Lihat tapaknya mengering di bangkai musim,                                  sebagian […]

Di Hamburg Sepi Menghambur – Sitok Srengenge

Kecuali kelam cuma angin compang-camping,       seusai sepi merajamkan sejuta taring       Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,    bayang-bayang maut dari ghetto masa silam                      Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,       lidahnya menjilati patung-patung di taman              Udara menggelepar, menanggung gaung,   menebar bau rawan peraduan                           Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,                  sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi                     Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar […]

Dan Memang Kita Tak Boleh Menjadi Pungguk – J.J. Kusni

kebanggaan? apa yang bisa kubanggakan pada diri, sanjakkupunhanyalah baris-baris sederhana jauh dari puitik sesederhanacintaku, itupun masih patut diuji ditempa waktu, apakah buahmanis-ranum terus manis-ranum ataukah busuk di pohon olehhama-hama ancaman***

Bukan Kerja Akhir Pekan – J.J. Kusni

kebutkanlah mantel dinginmu mengebut daki-daki musimdan kita kembali berangkat, “apakah masih jauh ujung jalan?”jalan kita berbataskan malam, bung kerna itu patut bergegasmemacu mentari dan tak usah tanyakan jam berapa sekarang, takusah mengeluh pegal ngilu kaki-tangan jika mau bersama***

jiwa pecinta – Alkarna

(episode kedua) DRA dan beginilah jiwa sang pecinta. selalu ingin bebas. lepas. tak kuasa satu pun menahan gejolaknya. ia terbang. ia menari. menggantung. mengawang. membuat rahasia. seperti sebungkus rindu yang ia buat untuk kita. disini. jiwa ini mempertemukan kita. pada suatu masa. pada suatu dunia. yang lain dari dunia kita. mungkin nirwana. lepaskan kita dari […]

merindu – Alkarna

(episode pertama) DRA sayangku, kali ini aku merasakan begitu merindu. menggebu-gebu. karena kamu, aku begini. karena kamu, aku mau menanti. entah berapa masa. sampai tiba suatu saat, aku bisa kembali kepadamu. mendekapmu. dan tak ingin berpisah lagi sedikitpun darimu. tubuh ini jadi kaku. beku. bila selalu jauh darimu. kupaksakan biar ia terus begitu. menanti. menanti. […]

di tubuh waktu ada – Ikun Eska

kata itu meloncat dari kotak teka-tekimumenggelepar di lantai lalu diammembekukau ingin menjumputnyamengembalikan ke kotakuntuk menjawab sebuah pertanyaantetapi begitu tanganmu ingin menyentuhnyakata itu meloncat ke dalam jamdi dinding kamarmu bergayutpada angka-angka di sanakau membiarkannya dan mengisikekosongan yang laindari detik ke menitdari jam ke haridari minggu ke bulandari ranjang ke kuburanhingga kau lupadi tubuh waktu ada tersiasatu […]

dongeng hujan – Ikun Eska

bahwa hujan itu pernah bercerita padakubahwa bunyi yang datang mengetukgenting rumahmu bersamanyaadalah ia yang pertama kali memandikanmusebelum kau berangkatmenangkap gelap matahari***

Mutiara Pecah – Alkarna

mutiara pecah ini ku hadiahkan kepadamusebagai tanda perceraianku dengan malam jangan bersedih,usah menangis ku tak akan pungkirigemulai tubuhmu malam ituyang memaksaku lari ke dalam pelukmu***